Saturday, 30 June 2018

Wisata Edukasi (Bagian 9) Mahir Menggunakan Ban Pelampung di Pantai Zakat Bersama Abdullah Tsamara

Alhamdulillah..

Akhirnya sore ini kita kembali ke Pantai Zakat. Seharian ngamong kalian hari ini inilah saatnya refresh. Jadi janji kesini lagi sudah terpenuhi ya bang.

Pantai Zakat memang luar biasa. Dengan segudang keunikan dan kekayaan alamnya. Akhir pekan seperti ini saya pikir tentulah ramai. Ramainya pasti tapi tidak seperti yang kubayangkan. Aku juga bisa berenang lagi disini. Iya mengulangi hobi berenang di pantai sejak masih S1. 

Ramai-ramai-ramai. Celana panjang trening kaos bola nomor punggung 1 menjadi andalan. Mengapa pakai trening dan kaos bola? kata umminya anak-anak biar pasir yang lengket tidak terlalu banyak. Jadi kalau kamu mandi pantai jangan sesekali pakai catun dan celana gunung yang banyak kantong. Akibatnya bisa menjadi tambang pasir itu pakaian.

Satu benda yang tidak boleh tinggal adalah kacamata renang. Kali ini saya memakai kacamata renang agak besar seperti penyelam. Haa teman-teman bilang seperti mau nombak ikan. Okelah ga apa-apa, yang penting aman. Tujuannya adalah untuk melindungi mata kita dari air laut yang banyak mengandung garam. Air laut dapat membuat mata perih lebih kuat dibandingkan dengan air biasa. Ini karena kandungan garam yang dapat membuat iritasi ringan pada selaput mata.

Kemana Abdullah dan Tsamara?
Mereka berdua sudah memulai brmain air. Berlarian kecil dan duduk di lantai pasir yang hitam. Hari ini mereka sewa ban. Masing-masing satu ban berukuran kecil. Awalnya saya belum langsung berenang. Saya dan istri mengamati mereka dari tempat duduk dibawah payung biru cieeelah. Sambil menikmati aneka makanan laut nan maknyus. Ehm.. tidak lupa ternyata istri bawa Jeruk Gerga. Sedap manis asam gurih, betul betul betul.. 😁

Abdullah dan Tsamara langsung action. Saya amati awalnya mereka belum bisa menggunakan ban dengan sempurna. Terlebih Tsamara yang masih sangat kaku. Saya dekati ternyata benar ukuran ban yang terlalu kecil. Kita ganti deh. Abdullah disaat bersamaan sudah hilir mudik ke tengan dan ke tepi mengapung dengan ban miliknya. Setelah cukup lama akhirnya Tsamara sedikit lebih baik cara menggunakan ban miliknya.

Dirasa semua sudah fiks dan aman barulah saya ke tengah dengan cara jalan ke belakang. Abdullah dan Tsamara perlu diawasi walaupun sudah diawasi umminya. Kemudian saya sedikit membasahi badan hingga pundak leher dan pasang kacamata, lalu biyuuur.. slup langsung ke bagian air yang dalam. Aha, sensasinya luar biasa. Berenang bebas geeengs. Kesannya beda beda sekali jika dibandingkan dengan kolam renang.

Jangan lama-lama.
Ops.. Abdullah dan Tsamara tetap dipantau. Cukup dua kali bolak balik ke tengah dan menepi trus kontrol si buah hati. Iya, Alhamdulillah mereka begitu ceria dan antusias. Saya tahu sepertinya dingin ini dilawannya. Kemudian aku mencoba berenang ke tengah lagi beberapa kali bolak balik dan full awasi gerak gerik Abdullah Tsamara hingga kita pulang.

Tidak Bisa Berenang?
1. Jangan sekali-kali ke bagian laut yang agak dalam jika kamu tidak bisa berenang. Bisa berenangpun tetap harus hati-hati ya.
2. Jangan menggunakan ban pelampung kalau tidak bisa menggunakannya dengan baik. Jangan salah, pelampung bisa menjadi penyebab hal yang tidak diinginkan jika tidak bisa menggunakanya dengan baik.
3. Jika kamu menemukan pengunjung yang nampak tenggelam, pastikan harus beritahu orang-orang di sekitar. Jangan ditertawakan karena itu bukan hal yang konyol. Jika mampu kamu bantu, itu lebih baik.

Nah.. trip wisata hari ini cukup batas ini dulu ya. Di lain kesempatan kita sambung lagi. Oh iya satu lagi, kalau berenang di laut siapkan air minum yang banyak. Air mineral ya dan makanan untuk menambah energi dan mengembalikan energi yang terpakai.

Pada saat perjalanan pulang abang mengulangi kembali "Besok-besok ke pantai lagi ya Bi" ucapnya. Aku dan istriku tertawa "Kita pulang dulu ya bang" sambung istriku.
Baarakallahu fik Abdullah Tsamara

Bengkulu, 30 Juni 2018.

Friday, 29 June 2018

Wisata Edukasi (Bagian 8) Mengisi Liburan Bermain Tanah Pot Bunga di Halaman Rumah

Abdullah dan Tsamara Bermain Bersama

Alhamdulillah..
Pada saat liburan di kebun masih menyisahkan kenangan bagi Abdullah dan Tsamara. Setelah kembali ke kota, rumah kami yang sederhana berada di komplek ini masih mampu mengajak ke suasana liburan itu.

Di pagi yang cerah mereka tetap mau melemaskan jemari dengan bermain tanah. Berhubung tanah di halaman rumah berumput tebal jadi harus pakai media lain. Aku menyediakan dua pot besar yang diisi dengan pasir dan tanah.

Menurut umminya bermain tanah baik untuk perkembangan mereka. Pada saat mereka berinteraksi dengan tanah akan merangsang motorik halus melalui jemari kecil yang kaya akan banyak saraf diujung jari.

Pada saat mereka membentuk sebuah pola tertentu dari pasir dan tanah, akan melatih tingkat kognitif daya pikir mereka. Proses yang mereka alami dan menemukan sendiri jawaban dari kesulitan yang mereka hadapi akan membekas pada ingatan jangka panjang. Ini adalah modal kematangan belajar mereka secara mandiri.

Abdullah Tsamara Pada Ngapain?
Abdullah dengan mobilan barunya bermain angkutan material tanah dan pasir. Mobil angkutan baru yang dilengkapi dengan sebuah sekop. Wah, ini mobilan abi waktu seumuran kamu bang. Sedangkan Tsamara sibuk mencetak kue dari tanah dan pasir. Kadang sesekali minta dicicipi. Enak sih masakannya, ga ada yang tidak enak. Enak semua hee.Mereka terlihat akur diiringi gelak tawa ceria di pagi yang cerah.



Di Depan Rumah Lebih Aman.
Mereka memang sudah sering bermain tanah di halaman. Akadalanya di jalan gang yang masih belum diaspal. Ekstra mengawasi karena jalanan seringkali dilewati kendaraan. Makanya media bermain dari dua pot besar untuk menampung tanah dan pasir di halaman rumah sangat penting. Alhamdulillah mereka suka dan memanfaatkannya dengan baik.

Bermain bersama mereka ternyata juga harus dipantau jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ketika Abdullah Tsamara bermain aku duduk tidak jauh untuk mengawasi mereka. Jadi mereka juga merasa ada yang menemani dan aku juga merasa aman. yaa.. istilahnya ngamong lah. Ngasuh anak hee.

Ternyata kalau begini liburan tidak harus berbayar mahal atau jalan-jalan ke pusat wisata. Di depan halaman rumahpun juga bisa.

Mengisi liburan bersama mereka memang luar biasa. Kamu liburannya kemana saja?
Bengkulu, 28 Juni 2018.


Thursday, 28 June 2018

Wisata Edukasi (Bagian 7) Keseruan Pantai Zakat Bersama Abdullah Tsamara

Abdullah dan Tsamara di Pantai Zakat Bengkulu

Alhamdulillah..
Hari senin kemarin sebenarnya jadwal penting buat lepas bidai tangan kanan Abdullah yang patah beberapa waktu yang lalu. Janjinya setelah melepas bidai kita akan bermain air. 
Pilihan bermain air jatuh kepada Pantai Zakat. Iya bakda ashar selasa 26 juni kemarin kita ke Pantai Zakat. Pantainya bagus dan bersahabat. Tidak biasanya Abdullah mau diajak ke pantai. Alih-alih ke pantai lihat main ombak saja takut. Mungkin karena lengannya sudah lama tidak terkena air. Nah ini momentum.

Tsamara: "Abi Ayuk mau main air"
Abi : "Boleh silakan"
Tsamara: "Tapi ayuk mau sama abang allik" 
Abi: "Sama abang Harrik?" "Boleh boleh"
Abi: "Bang lepas sandalnya, abang boleh main air hati-hati ya"

Mereka main air sampai puas. Sengaja tidak boleh pakai ban agar mereka bebas bergerak di deburan ombak Pantai Zakat.

Pantai Zakat apa sih?
Pantai ini berbatasan langsung dengan samudera hindia. Terletak tak jauh dari pusat kota. Sekitar 10 menit perjalanan dengan kendaran roda empat. 

Pantai Zakat merupakan sarana liburan alternatif gratis. Masuk kesana kita tidak perlu megeluarkan ongkos besar. Iya semuanya gratis.  Masuk gratis dan bermain air juga gratis. Kamu cuma wajib bayar parkir kendaraan. Mobil Rp 3.000,00 dan motor Rp 2.000,00.

Tapi kalau kamu sewa ban, harus bayar ya mulai dari harga Rp 5.000,00. an. Kamu juga bisa nongkrong bareng keluarga sambil santap opak seharga Rp 2.000,00. Jangan kaget kalau ada ibu-ibu yang menawarkan santapan laut udang goreng maknyus atau kepiting bumbu wuuenake. Harganya murah kok, pesan saja ya.

Pantai Zakat selalu ramai di setiap harinya. Puncak keramaian biasanya pada sore hari bakda ashar. Karena cuaca tidak terlalu terik dan matahari semakin ke ufuk barat. Liburan seperti ini akan semakin ramai oleh pengunjung, baik dari kota maupun luar kota bahkan dari provinsi tetangga. Kamu juga bisa menikmati matahari petang. Jangan sampai lupa shalat maghrib ya.

Berhubung hari sudah sangat petang. Waktu menunjukkan pukul 17.40 WIB ayo kita pulang. Abdullah dan Tsamara tidak langsung ganti baju. Rumah kita lumayan deket kok. Hari ini matic merah menemani, insya Allah 5 menit sampai rumah.

Diperjalanan terdengar celotehan Tsamara yang masih cadel. Abdullah pun demikian serunya usul-mengusul. Yes, kayanya berhasil momentum hari ini. Mereka mau bermain air lagi kapan-kapan. Oke deh bang. Siap-siap trip selanjutnya ya.

Kamu, siapkan trip hari ini kesana ya.


Bengkulu, 28 Juni 2018.




Tranfusi Bakda Lebaran Ajang Silaturahim Pasien Thalasemia

Alhamdulillah..

Taqaballahu minna wamingkum buat semuanya terkhusus Keluarga Abdullah Tsamara dimana saja berada. Juga buat keluarga Persatuan Orang Tua Thalasemia Indonesia (POPTI) Wilayah Bengkulu yang senantiasa semangat.

Seperti biasanya, rutinitas tranfusi bakda lebaran adalah mometum untuk silaturahim, berkumpul dan berhimpun. Hari ini kamis 28 juni 2018 sebagian besar thaler melakukan tranfusi. Ada sekitar 15 thaller termasuk Abdullah Tsamara.

Beberapa hari yang lalu kebutuhan darah hampir lupa saya siapkan. Berhubung suasana masih liburan dan kemarin ada pilwakot, untung pendonor TETAP ananda siap siaga melakukan donor. Kemarin pendonor kak Doni sudah mendonorkan darahnya di PMI kota.

Jadi melakukan donor satu hari sebelum tranfusi adalah sebuah rutinitas pendonor yang sangat luar biasa. Tak dapat dibayar dengan apapun. Pengorbanan mereka luar biasa. Aktifitas donor menjadikan gaya hidup era milenial.

Mengapa sehari sebelum tranfusi harus donor? Jawabannya adalah karena kebutuhan thaler adalah darah merah PRC (Packed Red Cell) yang didapatkan setelah proses pengendapan selama 8-12 jam setelah mendonor. Yang diambil darah merahnya saja, cairan kuning yang mengapung (serum) dibuang. Kalau sehari sebelumnya artinya ada 24 jam kan jaraknya. Jadi pada saat digunakan langsung dapat ditranfusikan.

Setelah mendaftarkan Abdullah Tsamara di Poli anak RSUD M.Yunus Bengkulu, kita langsung pasang infus dan tranfusi di Adelweis kamar 6 ruang khusus Thallasemia. Baarakallahu fik

Nah diskusi berlanjut, mama Annisa bilang kalau kita akan ada event refressing ke Bali hee.

Apa bener? yuk komen intip di kolom komentar.

Bengkulu, 28 Juni 2018nu

Monday, 25 June 2018

Wisata Edukasi (Bagian 6) Tikar Gegas dari Serawai

Tikar Gegas dari Serawai

Perjalanan kali ini menuntun untuk silaturahim ke tanah serawai. Bumi Bengkulu bagian selatan tepatnyan di Talo Seluma Bengkulu. Mengulang masa kecil dan menyatukan kolase-kolase kehidupan yang indah di sepanjang masanya.

Siang ahad itu dibawa terik mentari aku duduk diantara puing-puing  bangunan setengah permanen yang menuntun lisan ini untuk mengucap doa-doa terbaik bagi Almarhum Bapakku, Bakhtiar bin Suwi. Alfaateha. Kubawa segulung tikar yang dipakai saat makan siang tadi. Tikar Gegas, berasal dari jalinan pandan berduri dari dalam rimba Talo Seluma Bengkulu pulau Sumatera.

Apa yang menarik?
Tikar ini berbeda dengan tikar pabrik. Tikar pabrik dibuat dari bahan tiruan dan plastik. Sebagian dikenal dengan bahan sintetis walaupun ada yang memanfaatkan bahan alami. Namun Tikar Gegas tetap menjadi sebuah produk terbaik. Mengapa? Tikar Gegas berasal dari anyaman ibu-ibu hebat di negeri ini khususnya Ibuku. Sebuah hal yang menjadi keterampulan hidup dan kecerdasan berfikir yang menentukan kualitas hasil. Tikar Gegas konon tidak semua bisa menganyamnya. Hanya orang-orang tertentu dengan kecerdasan tingkat tinggi.

Bagaimana Prosesnya?

Bagian 1 Persiapan Awal

Pertama Mencari Pandan Berduri
Dilakukan pencarian dan memilih berupa yang terbaik dari pandan berduri di dalam rimba seberang sungai Air Talo Kecamatan Seluma Bengkulu. Daun yang sudah tua, lebar dan tidak sobek.

Kedua Rombongan
Persiapan mental dan keamanan mulai dari siapa saja rombongan yang akam berangkat mencari Pandan Berduri. Jangan sendirian karena tempatnya lumayan jauh di dalam rimba sana. Bersama-sama lebih asyik.

Ketiga Pakaian
Secara, perjalanan jauh dan menantang memerlukan pakaian khusus. Pakaian serba panjang menutup tubuh dan memakai sarung tangan tebal sebagai perlindungan dari duri. Pakai sepatu kebun ya, tidak pakai sandal jepit. Jalanan jauh lho? Ibuku bilang pakai sepatu Nuang Galing, sepatu dengan belasan pul di telapaknya.

Keempat Kekompakan
Kekompakkan, akan menentukan kemenangan bersama. Tidak ada yang memisahkan diri dari kelompok saat pencarian Pandan Berduri. Berbagi sama banyak beban bawaan saat melintasi medan berupa jalanan setapak licin dan saat menyeberang sungai.

Bagian 2 Pengolahan
Pertama Membuang Duri
Duri yang ada dibuang dengan cara mengikis atau meraut menggunakan pisau kecil secara manual satu persatu.

Kedua Menjemur
Pandan Berduri yang telah dibuang durinya kemudian dijemur secara alami dibawa terik matahari siang. Pandan yang semula berwarna hijau dan kaku akan berubah warna menjadi sedikit keabu-abuan dan lebih lentur. Tidak perlu diberi pewarna karena warna yang tercipta sudah sangat menarik dan menjadi ciri khas khusus Tikar Gegas ini.

Bagian 3 Menganyam
Pertama siapkan seikat besar pandan kering yang selesai dijemur. Kira-kira sebesar ikatan gulungan kasur.

Kedua siapkan dua lembar pertama untuk dianyam. Ambil bagian tengah dari kedua lembar pandan kering tersebut dan dianyam dengan tangan diikuti lembaran-lembaran pandan lainnya. Anyaman dilakukan secara menyilang. Menyelipkan satu lembar pandan ke lembar pandan lainnya. Begitu terus selanjutnya diulang hingga me-luas.

Ketiga jika anyaman semakin meluas, bagian sisi tikar harus cermat untuk dilipat dan diselipkan. Sehingga sisi-sisi tikar akan terlihat kokoh dan apik. Tidak longgar dan tidak mudah lepas dari anyaman. Jangan lupa siapkan pisau kecil untuk memotong bagian ujung pandang yang tidak digunakan.

Ketika sisi tikar sudah kokoh artinya tikar siang digunakan. Juga dapat dipasarkan dan bernilai ekomonis. Menjadi sebuah kebanggaan daerah dan menjadi salah satu aset kekayaan yang tak ternilai karena produk adalah sebuah karya cipta.

Terlihat gampang kan? namun tidak semua orang bisa membuatnya. Hanya orang-orang tetentu dengan kecerdasan tingkat tinggi. Apakah kamu salah satu orangnya? Buktikan.

Alhamdulillah Tikar Gegas juga memiliki filosofi yang baik. Besatu padu akan membuat lebih kuat dan kokoh jika dibandingkan dengan selembar daun pandan kering. Pandan Berduri menjadi kuat dan kokoh dan bernilai tinggi dari tangan seorang bijak amanah dan cerdas. Makna yang terkandung sangat bagus sekali diterapkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Baik dari segi berbangsa dan bernegara juga beragama.

Pagar Gasing, 24 Juni 2018.
Seluma Bengkulu, Indonesia.


Berbagai gambar dari Tikar Gegas Serawai


Friday, 22 June 2018

Wisata Edukasi (Bagian 5) Sensasi Segar dari Tanah Hitam yang Subur

Segar dan ranum

Pertama kali menghirup udara sejuk di atas tanah hitam yang subur adalah ketika aku masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Karena sesuai agenda sekolah ada study wisata yang membawa kami semua bersama-sama ke Curup dan sekitarnya. Banyak sekali objek yang kami kunjungi diantaranya adalah kebun sayuran di Sambirejo, Curup.

Mulai saat itu aku menyukai sayuran hijau. Belajar untuk menyukai sayuran dan ternyata memang sayuran hijau banyak sekali manfaatnya untuk kesehatan. Mulai belajar bertanam sayuran di pekarangan rumah. Bahkan hanya menggunakan pot plastik hitam.

Pengalaman baru didapat dari pohon jeruk gerga yang fenomenal. Tempat terbaik tumbuh dan berkembangnya jeruk gerga di Desa Pal VII Bermani Ulu Raya. Jeruk yang cukup unik dan menarik ini memberikan kesan berbeda dari jeruk lainnya. Kulit buah yang tebal dan bulir yang besar. Juga rasanya yang bercampur manis asam menciptakan sensasi segar.

Jeruk gerga tidak langsung ditanam pada lahan, namun dimulai dari pembibitan batang bawah untuk mendapat varietas unggul. Wah.. pengerjaanya sepertinya tidak terlalu rumit namun juga tidak mudah. Penuh kesabaran dan kehati-hatian karena ada tahap okulasi. Okulasi? Iya jadi mesti harus sabar sekali menuggu tunas berkembang. Ini dilakukan jika membuat pembibitan sendiri. Membeli bibit langsung harus mengeluarkan modal yang cukup besar.

Apakah ada kerjasama dinas pertanian? Tentu ada dan inilah hal yang menarik dari Desa Pal VII. Disana terbentuk komunitas yang saling mendukung demi kemajuan petani jeruk gerga.


Apakah bisa tumpang sari? Alhamdulillah saat jeruk gerga ditanam petani juga dapat menanam tumbuhan lain yang berumur pendek. Misal sayur mayur. Bahkan petani dapat menanam jeruk di sela-sela kebun kopi yang masih produktif.
Sayuran Segar dari Tanah Hitam yang Subur
 
Sayuran Segar Mentimun 
Akhirnya, jeruk gerga yang dulu dikenal dari Lebong sekarang dapat kita nikmati dari Desa Pal VII Bermani Ulu Raya Curup Provinsi Bengkulu.

Bengkulu, 21 Juni 2018.



Wednesday, 20 June 2018

Wisata Edukasi (Bagian 4) Getek Milenial dari Danau Mas Harun Bastari


Getek Milenial

Alhamdulillah tanggal 3 syawal kemarin aku dan keluarga pergi ke pusat wisata Danau Mas, Rejang Lebong, masih di Indonesia ya. Danau ini dikenal dengan nama Danau Mas Harun Bastari. Wisata ini cukup diminati, buktinya adalah ketika mobil  masih antrean panjang dari puncak nampak jelas ratusan pengunjung menyemut sepanjang danau dan sekitarnya.

Kawasan wisata Danau Mas Harun Bastari terletak di Desa Karang Jaya, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Indonesia. Dikelilingi perbukitan yang ditanami sayur dan beberapa taman bunga.
Danau Mas Harun Bastari dikelilingi perbukitan kebun sayur dan taman bunga

Danau Mas Harun Bastari yang dituju harus melalui jalan utama ke arah Lubuk Linggau. Karena hari itu adalah hari ahad diperkirakan padatnya kendaraan dan pengunjung membuat jalanan macet. Untung sopirnya handal Ahamdulilah hee. Parah memang jalanan macet sepanjang puncak. Lumayan berjam-jam dibawa terik panas siang. Walau suhunya dingin tetap saja panas karena siang. Tapi seru dan mengesankan.
Jalanan macet parah

Kami berjumlah 9 orang, 7 dewasa dan 3 anak-anak. Sebelum masuk dikenakan biaya Rp 40.000,00 sekaligus parkir ditandai secarik kertas kuning. Nah.. di dalam sana jangan berharap mulus untuk mencari tempat parkir. Kalau sudah antrean harap sabar menunggu. Akhirnya kita parkir di sisi kiri menuju jalan keluar.

GETEK MILENIAL
Aku menyebutnya demikian karena pengalaman pertama naik getek di Danau Mas Harun Bastari. Pengunjung menyebutnya GETEK. Asal katanya aku kurang tahu yang jelas getek ini sejenis perahu dengan muatan yang cukup banyak. Bisa menampung puluhan pengunjung.
Di atas Getek Milenial

Setiap pengunjung dikenakan biaya Rp 10.000,00. Ketika mesin diujung paling belakang siap tancap gas ada sensasi tersendiri bagi kita yang di atas getek ini. Wah wah lumayan ya keliling danau dengan pulau ditengahnya berbentuk huruf C sekitar 10 menit. Konon pulau yang mirip huruf C ini melambangkan Kota Curup.
Pulau seperti huruf C melambangkan Kota Curup

Danau Mas Harun Bastari menyediakan sedikitnya 4 Getek untuk dioperasikan. Kawasan wisata ini juga sudah dilengkapi dengan toilet umum, mushola dan lahan parkir yang luas. Berhubung dalam suasana hari raya idul fitri dan libur panjang seperti ini lahan parkir mengarah ke ruas jalan menuju exit. Ada juga sarana bermain seperti sepeda air, flying fox. Beberapa warung kecil juga tersedia untuk melepas lelah setelah bermain.

Ayo kunjungi wisata lokal, ajak keluarga berkunjung ke Danau Mas Harun Bastari yang terletak di Desa Karang Jaya, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Indonesia.

Alhamdulillah

Curup,18 Juni 2018. 






Wisata Edukasi (Bagian 3) Jeruk Gerga Pal VII yang Tiada Duanya

Wisata Edukasi (bagian 3)
Jeruk Gerga Pal VII yang Tiada Duanya
Oleh: Efri Deplin


  
Jeruk Gerga PAL VII

Tidak mudik ke Curup kalau tidak ke kebun memetik jeruk gerga Pal VII. Alhamdulillah satu hari menjelang pulang ke Bengkulu kita sempatkan ke sawah dan ke kebun jeruk.

Tidak menunggu lama, setelah makan bersama di atas pondok sambil memandang sekitar mata ini semakin manja untuk melihat setiap sudut kebun. Pohonnya memang sebagian sudah mengalahkan tinggiku 180-1 haa.
 
Makan Bersama

Makan Bersama

Rasa penasaran memetik kali ini sensasi beda. Alasannya apa? Ada deh. Ternyata dan ternyata ini komoditi jeruk bewe. Mertuaku bilang demikian. Bewe adalah komoditi jeruk dengan ciri kulitnya yang sudah matang berwarna agak kekuningan dan dominan hijau. Kulit buahnya tipis dan bulir buahnya sedikit agak berwarna orange kemerahan. Warna apa ya? red yellow hee. Rasanya memang manis asli deh. Tapi Gerga Pal VII yang berdiri kokoh di sampingnya ga kalah menarik. Tau kan selanjutnya bagaimana? Langsung saja serbu.

Jeruk Bewe "BW"

Gerga Pal VII tiada duanya
Abdullah sudah dibonceng datuknya. Tsamara dan umminya aku bonceng menuju desa Pal VII. Perkiraanku bapak mertua langsung mengajak pulang ternyata kita mampir di kebun yang paling dekat dengan desa. Kebun ini yang membuat banyak kejutan.

Kejutan bagaimana? 
Jeruk ini masih berada di antara kopi-kopi yang subur. Petani kebun jeruk gerga disini masih banyak sekali yang menanam jeruk gerga diantara tanaman komoditas lain seperti kopi. Alhamdulillah untuk menyegarkan tenggorokan dari beberapa pohon cukup terobati. Maklumlah kita jarang ketemu hee. Kalau tidak libur jarang berjumpa haa. Baarakallahu fik.

Kulit buahnya yang tebal dan bisa tahan hingga satu pekan lebih pada suhu ruang. Bulirnya yang besar memambah sensari segar. Dan ketika disantap tidak cukup satu buah hee. Pingin nambah lagi karena memang sensari segar dari bulirnya yang perpadu dengan rasa manis asam membuat tidak jenuh. Baarakallahu fikum.

Insya Allah bisa memasok pasaran secara luas, wisata edukasi kali ini teriring doa semoga hasilnya berlimpah di musimnya nanti. Aamiin Alhamdulillah hasil memetik kemarin berkisar 20 kg Jeruk Gerga PAL VII, dan ada beberapa Jeruk Bewe juga pedes asem alami hee ayoo icip-icip gratis.
Jeruk Bewe Cabe dan Tomat

Jeruk Gerga PAL VII

Kapan ya kesini lagi? Sudah tak sabar rasanya.
Terima pesanan, soal buah bisa kita usahakan. Masih bisa kok pesan antar dalam kota Bengkulu. Juga melayani pengiriman luar kota. Ahamdulillah JKT-sekitarnya, Semarang, Bekasi, Palembang dll sudah pernah dikirim.  Jeruk Gerga Hubungi. WA. 085268125187 atau 0895326418115


Bengkulu, 18 Juni 2018.



Wisata Edukasi (Bagian 2) Bermain di Kebun Jeruk Gerga dan Memetik Sayur

Wisata Edukasi (bagian 2)
Bermain di Kebun Jeruk Gerga dan Memetik Sayur
Oleh: Efri Deplin



Abdullah Tsamara Memetik Jeruk Gerga PAL VII



Alhamdulillah Abdullah dan Tsamara kali ini berada di kebun Jeruk Gerga Pal VII.

Mereka terlihat sangat antusias saat sebelum kita menuju kebun. Hal apa saja yang perlu dipersiapkan untuk ke kebun? Diantaranya adalah sepatu berkebun dan pakaian berlengan panjang dan tentunya celana panjang. Yang lengkap memakai cuma Tsamara. Sementara Abdullah dengan lengannya yang masih berbalut karena patah terlihat santai dengan kaos panjang tanpa sepatu kebun.

Agar lebih terkesan eksotis kita memilih menggunakan matic. Kok pakai motor bisa ke kebun ya? Iya kebun di sini sudah dihubungkan dengan jalan aspal, pakai mobil juga bisa hee.

Apa saja yang menarik bagi Abdullah Tsamara 
1.    Berjalan Kaki
Berjalan kaki saat tiba di kebun adalah hal mengagumkan bagi mereka. Kebun Jeruk Gerga yang dituju harus melewati beberapa bidang tanah lainnya. Melewati persawahan dan kebun sayuran. Wah pokoknya seruh deh. Sambil bernyari, tertawa riang. Menyeimbangkan badan saat di atas tanggul sawah. Naik turun pendakian saat bertemu medan menanjak. Apalagi Abdullah yang dharus hati-hati dengan kondisi lengan kanannya yang patah. Pokoknya seru deh.

2.    Pondok
Pondok bukanlah hal baru bagi mereka. Namun kali ini pondok yang dibuat datuknya masih 80% pengerjaan. Lebih tinggi dan lebih  besar. Pondok ini dilengkapai 11 tiang yang kokoh dan 3 bagian utama. Ada dapur dan kamar tidur juga ruang tamu bisa juga untuk tempat shalat. Teras depan terlihat siap diberi dinding setengah bangunan. Bagian paling depan ada tangga dilengkapi induk tangga untuk tempat alas kami. Wah pondok datuk keren sekali. mantap tuk pondoknya keren.

3.    Masak dan makan bersama
Tidak dapat dipungkiri bagi kamu yang pernah ke kebun dan ke sawah, masak dan makan di kebun jauh lebih nikmat jika dibandingkan dengan makan di rumah. Ada nuansa alam yang tak bisa didapatkan di rumah ketika makan di kebun. Makannya hanya sederhana, misalnya sambal dan rebus sayur yang baru di petik di kebun. Nah kali ini kita membawa mie instan dan memetik saruyan. Untuk abi ummi ditambah rawit segar. Hasil memetik sendiri memang jauh lebih sedap.

Kalau sudah begini ada pesan illahi yang harus diingat "Nikmat tuhanmu yang manakah yang akan kau dustakan" Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang maha Razzaq atas semua rizki dan nikmat.

Bermain tanah, membuat kue dari tanah, memetik sayuran, tomat, dan tentunya Abdullah dan Tsamara memetik Jeruk Gerga Pal VII.
Di kota memang sulit mencari waktu dan tempat berwisata edukasi seperti ini. Pengalaman ini pasti sangat berharga untuk mereka.

Puas kan pegang tanahnya dan bikin kue dari tanah. Hayoo apa abi harus tanam sayuran lagi di halaman rumah biar bisa metik sendiri seperti di kebun ini? Baik kita buat perencanaan dulu ya.


Memetik Sayur

Hasil memetik tomat

Asyiknya main apa sih kak

Bermain Tanah

Alhamdulillah

Curup, 18 Juni 2018


Tuesday, 19 June 2018

Sepucuk Surat Kerinduan

Sepucuk Surat Kerinduan
Oleh: Efri Deplin




Namaku Efri, lengkapnya Efri Deplin. Biasa dipanggil Efri, dan tidak jarang panggilan Deplin sejak tahun 1999 kembali melekat ketika di kampus Universitas Bengkulu. Di kelas panggilan Deplin dipakai oleh teman-teman satu alumni dari SMAN 4 Kota Bengkulu. Ada juga teman-teman lainnya yang nyaman memanggil Deplin, aku juga tidak masalah. Sejarah dipanggil Deplin juga memiliki nilai historis tinggi. Tahun 2005 aku memasuki kampus ada banyak sekali perbedaan antara dunia SMA dengan dunia kampus. Teman-teman yang heterogen berkumpul tumpah ruah sama-sama mencari jati diri. Tidak terlambat untuk baru mengatakan mencari jati diri, karena ketika baru menyadari diri ini semakin jauh melangkah maka harus kembali pada rel yang benar. Aku dipertemukan dengan kakak tingkat yang super keren. Rasanya peran mereka sangat besar hingga saat ini dan nanti. Aku berdoa semoga Allah pertemukan kami dan dikumpulkanNya lagi di surgaNya yang abadi, Aamiin.
Sejak subuh tadi semua penghuni korindang tempatku kost bersama teman-teman sibuk dengan aktifitas masing-masing. Kebetulan ahad ini yang bertugas sebagai petugas di dapur adalah aku, Adi dan kak Taharman. Jadilah kami pagi ini menjelma sebagai anak gadis desa yang taat pada ibunda hehe. Suasana kekeluargaan cukup terasa dengan adanya jadwal piket yang telah ditentukan. Semua tidak merasa dibebani dengan setumpuk tugas pagi sepertii ini. Karena jadwal piket ini adalah amanah dan amanah harus ditunaikan dii akhirat nanti akan dipertanggungjawabkan. Begitu pesan kak Adi. Kak Adi adalah kakak tertua di kost korindang. Tertua dan dituakan. Beliau yang mengajakku bergabung disini. Beberapa kali mereka mengajakku hingga akhirnya berhasil bergabung dengan teman-teman disini.
Karena hari ini adalah hari libur jadi semua anggota penghuni korindang piket bersama. Mulai dari menyapu lantai rumah, bersih-bersih di luar kost bahkan berbelanja bahan makanan di warung ujung gang di dekat masjid Al-Ikhlas. Iya aku dan Adi juga kak Taharman yang sering dipanggil kak Mamek pergi ke warung di ujung gang. Kami membeli beberapa ekor ikan dan sayuran untuk dimasak khusus hari ini. Biasanya belum selesai masak piring-piring sudah berbaris rapi. Dan harus tebal telinga mendengar pujian atau bahan candaan mereka. Celotehan mereka ketika masakan kita dipuji membuat hidungku mengembang haha. Tapi kalau masakan kurang enak mohon maaf itulah adanya. Sebenarnya kalau komposisi bumbunya tepat, sambal tempepun rasanya enak.
Pukul 08.00 WIB aku menuju kampus. Sebagian besar penghuni kost juga punya acara masing-masing. Ada yang sibuk dengan tugas akhir ada juga yang sibuk dengan tugas kuliah bahkan ada juga yang sedang mencari keputusan antara kerja, menikah atau kuliah lagi. Berbicara menikah adalah hal yang paling seru ketika kami berkumpul di kamar terbesar kak Mamek. Pokoknya seru kalau berbicara menikah. Semua senyum-senyum entah apa yang disenyumkan hehe. Ada istilah taaruf, mas kawin, nasyid. Semuanya menatap fokus dan memasang telinga lebar-lebar hehe.
Akhirnya dengan BD sebelas alias jalan kaki aku sampai di gedung T Fakultas MIPA UNIB. Aku naik ke lantai dua dan masuk ruang rapat FMIPA. Disana sudah berkumpul beberapa orang termasuk ketua GSI Endi Febrianto, aku dan Adi duduk berdekatan juga kakak-kakak tingkat yang semuanya berbeda jurusan dengan aku. Aku dari Fisika sementara mereka ada yang berasal dari Kimia dan Biologi. Seingatku dari Matematika waktu itu belum ada yang hadir. Semua siap menantikan kehadiran PD 1 dan PD 3 Fakultas MIPA untuk mensukseskan Praktikum Agama yang terintegrasi dengan 1 sks pada mata kuliah Agama Islam.  Luar biasa dan apresiasi yang tinggi kepada Pembantu Dekan 1 Bapak Drs. Suwarsono, M.S. dan Pembantu Dekan 3 Bapak Drs. Syalfinaf Manaf, M.S. yang meluangkan waktunya. Sengaja diambil hari ahad karena hanya hari ini waktu yang tepat berkumpul dengan sesama anggota pengurus Generasi Sains Islam (GSI) bersama beliau.
Setelah beliau hadir di ruangan. Acarapun dimulai satu persatu hingga pada titik kesimpulan didapatlah titik terang dan harapan penuh kepada teman-teman di organisai Generasi Sains Islam (GSI) yang menjadi pelopor terbentuknya Praktikum Agama Islam yang memiliki bobot 1 sks. Ada 10 pertemuan yang harus dituntaskan, materi aqidah, muamalah dan amaliah termasuk belajar membaca Al-Quran. Semua mahasiswa semester 1 dan 2 wajib mengikuti praktikum ini dengan presentase yang sama dengan tatap muka di kelas. Kesepakatan pun dibuat dengan susunan mentoring yang rapi. Jadwal terbentuk dengan susunan pengurus dan disetujui oleh Bapak Dekan.
Materi pun dieksekusi, dari mengenal islam secara kaffah hingga praktik shalat jenazah dan shalat ied disampaikan kepada adik-adik. Sepuluh pertemuan paling sedikit membutuhkan 2 bulan setengah berjumpa dengan adik-adik dalam sebuah lingkaran. Lingkaran inilah yang akan membuat rindu penikmatnya. Rindu karena di dalamnya penuh dengan suka cita dan kedekatan dengan Rabb yang maha kuasa. Di lingkaran inilah nanti ada kisah seorang perantauan nan jauh dari orang tuanya merasa rindu dan semangat kuliah. Di lingkaran ini juga dulu yang hanya mengenal hijaiyah kini lancar dan terbiasa. Rindu, semua rindu dan merindukan lingkaran itu.
Masa pun berlalu, itu adalah kisah 9 tahun yang lalu. Masa terindah dengan keterbatasan dan kemampuan menyatukan hati dan menegakkan dinnul islam. Masa pun berganti, ketika hari ini di hari yang sama ahad kita berkumpul dengan jumlah besar 3.000 lebih di Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Bengkulu.  Generasi Sains Islam, aku menyaksikan kekuatan besar ketika Allah menyatukan hati dan fikiran untuk selalu mengagungkan namaMu.
Kini apakah praktikum itu masih berjalan atau mati suri? Allah memberikan pelajaran besar bahwa hidup ini adalah pengulangan di setiap zamannya. Mengenai hati ini yang penuh kerinduan, apakah disana memiliki rasa rindu yang sama? Rindu yang membuncah bertemu, berkumpul, dan bercanda tawa. Insya Allah kita akan berkumpul kembali di tanah kelahiran leluhur kita, di Surga yang penuh dengan kenikmatan. Semoga Allah senantiasa menautkan hati-hati ini dengan Rabbithoh. Selamat berjuang kawan.


catatan:
Cerpen ini kutulis tahun 2017 yang lalu
Mulai malam ini aku simpan di blog pribadi efrideplin.com
Tulisan ini adalah sebuah naskah cerpen pada sebuah lomba
Kebetulan kayaknya menang tapi sertifikatnya belum dapat hee
Alhamdulillah hadiah juaranya sudah dapat tapi ya itu sertifikatnya belum
Kabarnya mau dibukukan tapi minim info
Info Lomba

Pemenang Lomba
Buat teman-teman di GSI selalu kompak dan Istiqomah ya Aamiin

Bengkulu, 19 Juni 2018.

Trip Air Terjun Cuup PSUK Benteng

Pagi masih menyapa hangat dengan perpaduan sinar mentari di ufuk timur, menambahkan keceriaan hari ini. Benar saja kami dari tadi s...