15 Ramadhan 1438 H

Bismillahi..

15 Ramadhan 1438 H
Perjalanan Ruhani

#RamadhanBerkah

Siang itu cuaca sangat terik. Kamar 6 berbetuk 'L' ini menjadi pilihan terbaik istirahat. Sambil menunggu semuanya usai, aku berbaring dan rebahan sebantar. Kaca mata hitam yang kukenakan saja pagi tadi sangat bergun melindungi mataku yang sensitid debu. Rasanya lebih nyaman dan kurang rasa gatal seperti biasanya. Syukur Alhamdulillah.

Tiba-tiba percakapan ini dimulai "Kayanya enak maghrib nanti makan bakso ya?". Yang diajak bicara kaget setengah tidak percaya. "Modalnya mahal". Kirain apa, eh.. mikirin modal ternyata. "Gini aja, soto aja, yang penting pake kuah hangat" aku menimpali. "Setuju". Ujarnya. "Kirim bahannya via WA, nanti abang beli".

*****

Masjid Asy Syifa masih sepi. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.52. Sejenak terngiang Masjid Agung Palapa  Bali di Dreamland Bali, Jalan Pecatu Indah Resort, Pecatu Bali, Ungasan, Kuta Selatan Kabupaten Badung, Bali 80361. Waktu itu juga hari Jumat. Hampir satu minggu di Pulau Dewata aku disatukan dengan saudaraku di sana dalam ukhuwah yang tak terbendung. Aku duduk tepat di samping imam yang waktu itu tiba beberapa menit setelah aku duduk.

Jubah putihnya yang bersih menandakan ini benar-benar hari yang sakral. Aku waktu itu hanya memakai koko lengan pendek. Ketika beliau khutbah dengan penuh semangat mengingatkan para jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan. Sembari memberi solusi parjalanan Ruhani lebih mulia dari berjalan-jalan ke pantai, (tahu sendiri kan Pantai Bali). Maaf dalam konteks ini bukan maksud memojokkan atau membuat kesan negatif pantai. Sekali lagi tidak.

Masjid ini berbeda dengan masjid Al Ihsan kompleks hotel di dekat Sanur, Bali. Masjid Agung Palapa menghimpun muslim dari berbagai desa di sekitarnya. Selesai sholat aku diberi pemandangan antrean keluar kendaraan roda dua satu persatu dengan rapi. Masjid ini juga terletak di tengah pesawangan yang sepi. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Sehingga suasana yang tercipta sangat nyaman dan khusuk.

Iya, sudah sampai Bali rupanya aku malam ini. Tidak aku masih di Bengkulu.

*****

Perjalanan Ruhani segera dimulai. Setelah berkemas-kemas, semua beres dan started, breeem. Mesin empat tak ini langsung melaju pelan diiring matic merah di belakang. Metahari semakin terik, tak sedikitpun ia bergeming. Berapa lama lagi perjalanan ini hingga tenggorokan ini sangat kering.

Tiba di rumah semua sudah mengantuk. Abang langsung tidur di kamar di susul adek yang sedari tadi terlelap bersama ummi. Aku langsung perjalanan ruhani selanjutnya.

Iya aku sudah ada saja di ruangan berbentuk kubus yang selalu dikunjungi enam hari kerja. Hari semakin mendung, rintik bening berjatuhan pelan tanpa kompromi. Akupun bergegas menyelesaikan misi ini. Aku ambil kontak dan kacamata hitam yang terus menemaniku dari pagi tadi. "Trek.. Terima Kasih". Langsung menuju perjalanan ruhiyah selanjutnya.

Pesan singkat baru kuterima dan kubaca. "Oke berangkat". "Ini itu ini itu dan ini, ini juga dan itu juga". Selesai. Apa itu? Ayam, toge, kol, bawang daun, dan seledri, bumbu giling dan cabe. Hehe begini nih kalau ke pasar. Perjalanan ruhiyah, jadi asyik dan menyenangkan, semoga berkah Aamiin.

*****

"Sebenarnya aku juga sudah ingin memasak ini" pengakuan di sana. "Kebetulan tadi abang yang minta". Weleh.. jodoh kita, ternyata hati kita bersatu cie cie.. lope lope. Berapa banyak tabungan amalmu membuatkan aku berbukaan setiap hari, hari kemarin, kemarin nya lagi, hingga esok tak berujung.

Sudah batas ini dulu, suka nya aku makan soto buatanmu, semoga Allah melipatgandakan Pahalamu bersamaku hingga ke Surga nanti Aamiin.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

"Siapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya." (HR. Ahmad, al-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Nasai, dan dishahihkan Al-Albani)

Berapa banyak tabungan amalmu membuatkan aku berbukaan setiap hari, hari kemarin, kemarin nya lagi, hingga esok tak berujung.

Comments