Sunday, 18 June 2017

Ukhuwah Yang Tak Bertepi

Bismillahi..

23 Ramadhan 1438 H
Sahabat

#RamadhanBerkah

Malam semakin larut, berburu malam seribu bulan berlanjut. Ada sebuah memori indah mengulang sebuah kata yang teringang-ngiang. Masuk ke relung jiwa terdalam. Namun duniawipun masih menyelinap. Ada sebuah pesan horizontal untuk bermuamalah.

Kulihat facebook, ada postingan teman semasa SMP dulu. Iya, dia memposting sebuah gambar yang membuat hati ini bergetar hebat. Di gambar itu ada pesan sakral yang tertuju pada Tuhan Semesta Alam atas permohonan terdalam sebagai sahabat.

*****

Pagi Ahad itu di pertengahan tahun 2005, Aku, Jazuli, Aan, Oka, juga Ijal, terbiasa bakda subuh di Baitul Jannah Timur Indah IV marathon hingga ke Pantai. Tak tanggung-tanggung, jarak tempuhnya hampir mengelilingi pusat kota Bengkulu dengan perpindahan nol. Ini bahasanya mirip soal fisika ya. Hee. Perpindahan nol tentu, karena pulang ke Timur Indah IV lagi hehe.

Menyusuri aspal hitam menuju belakang RS.DKT ke SMAN 4, almamaterku, waktu itu aku kelas 3 IPA. Biasa main basket shooting minimal satu kali kemudian berlalu. Adakalanya tidak sama sekali mampir kesana namun langsung menuju Muhajirin, Singgaran Pati sekarang, dan menyeberang menuju Taman Remaja. Jangan kira di taman remaja kita berlama-lama. Lebih cepat berlalu lebih baik.

Jalan gang kecil tembus Km.7 kami menemukan jalan dua jalur. Gang kecil ini menembus depan sebuah masjid di pinggir jalan Km.7. Kami kemudian terus lari-lari kecil sambil megoper bola menuju dua pilihan jalan. Antara jalan di belakang Balai Buntar atau jalan menuju MAN Model, almamater Ijal dan Jazuli. Jangan salah, sebenarnya targetku dulu masuk MAN Model lho hehe, takdirnya di SMAN 4. Apa jadinya ya kalau aku sekolah di MAN, Subhanallah ketemu doi dong hehe. Namun biasanya kami pilih jalan menuju MAN Model. Jalan di samping Balai Buntar agak serem, gelap. Pilih yang aman ya.

Aan biasanya bawa bola kaki. Sudah dipastikan bola yang sedari tadi tidak lagi berada di kaki. Biasanya dia bawa sambil berlari dan kita gantian saling oper. Tak terasa kita sudah di perempatan lampu merah menuju Perumahan Elit. Waktu itu masih sedikit sekali rumah di sana. Paling hanya dua atau tiga gedongan mewah. Tidak seperti sekarang. Perumahan di sana sudah hampir penuh. Prrumahan maupun hotel.

Dari atas kami sudah mendengar deruhan ombak dan tiupan angin pantai yang segar. Aroma khas dari semilir angin bakda subuh yang meronah dibalik cemara menambah semangat turun ke pasir. Pasirnya putih bersih. Tak kalah Sanur Bali, wajar saja kalau dulu eko wisata digalakkan di Kota Bengkulu. Kami tidak akan berlama-lama disini. Bola ini juga hanya sebatas teman. Yang paling semanga disini tentunua Ijal. Nanti diakhir cerita akan ku beri tahu.

*****

Kami menyusuri pasir yang membentang luas sejauh 5 Km per dua. Karena dipotong oleh terputusnya pantai oleh aliran muara yang dihubungkan dengan jembatan. Waktu itu ada pos polisi yang berada di persimpangan untuk mencari angkot. Disinilah kami berhenti. Olah raga ringan, push up, dll. Kemudian kami menuju angkot kuning yang akan mengantarkan kita ke Pusat Kota, Suprapto. Aku tidak banyak mengingat suka duka di Suprapto, yang aku ingat waktu itu hampir menunjukkan pukul 09.00 pagi. Jadi harus segera mencari angkot menuju Lingkar Timur dan Timur Indah lagi.

****

Waktu terus berlalu, mungkin sudah ahad kesekian kami tidak marathon lagi. Aan sakit. Iya Aan sudah mulai sakit. Kami putuska kami tidak akan marathon lagi. Terkadang dia sembuh kembali. Kemudian sakit lagi. Dan sembuh lagi. Hingga kami semua tamat dan Lulus dari sekolah masing-masing. Aan sudah tampak baik seperti biasanya.

*****

Aku ikutan Test AKMIL, lumayan pengalaman testnya. Alhmdulillah. Oka, sepertinya akan konsen kuliah. Begitu juga dengan Aan. Mereka di kampus yang sama. Jazuli kalau tidak salah konsen di IAIN. Aku tentu tidak jadi Lentan Dua haha, Aku dan Ijal lulus satu fakultas di UNIB. Tapi Ijal memilih out dan dia jadi Polisi. Apa kabar Pak Ijal?

Lama kami tidak bertemu, sesekali satu sama lain memberi kabar. Hingga di semester delapan, duka itu menyelimuti kami semua. Aan kembali ke pangkuan Illahi. Sebelumnya kami berkumpul di rumahnya menjenguk setelah beliau pulang dari RSCM untuk kesekian kalinya. Badannya sudah berubah, tapi semangay dan candanya tidak berubah sama sekali. Masih bisa tertawa dan bercanda gurau. Padahal dari semua teman-teman yang hadir waktu itu dapat dipastikan keprihatinan kami terhadapnya. Sampai disebuah kata terucap "Aku mungkin tidak lama lagi" kata-kata ini membuat hati ini teriris dan air mata ini menetes.

*****

Aan engkau sudah tenang disana kawan. Tidak ada lagi rasa sakit yang dulu engkau rasakan. Allah lebih menyayangimu dengan JanjiNya yang pasti. Kami doakan agar engkau diberikan tempat yang terbaik di sisiNya, Diterangi dengan Cahaya Al-Quran yang engkau lantunkan di Masjid Baabul Jannah waktu itu. Aan, air mata kami semua tertumpah atas sebuah rasa duka dan haru dibalik senyummu yang tegar diakhir nafasmu. Alfatihah.. Allahumma Firlahu Warhamhu Waafihi Wafuanhu..

No comments:

Post a comment

Terima kasih atas kunjungannya semoga menginspirasi jangan lupa tulis komentarmu di kolom komentar dan dapatkan informasi terbaru di setiap postingan. Jangan lupa follow akun Instagram @efrideplin dan Twitter @efrideplin87 juga YouTube Efri Deplin. Terima kasih semoga menginspirasi.

4 Tips Donor Darah Saat Puasa

Donor darah menjadi trend gaya hidup sehat masa kini. Selain memenuhi kebutuhan hidup para penggunanya, donor darah menjadi sebuah kebutuhan...