Post Page Advertisement [Top]

Cahaya Ramadan dari At-Taqwa: Menautkan Bengkulu ke Jantung Al-Aqsha

Kota Bengkulu, 20 Februari 2026 – Suasana siang di Masjid Agung At-Taqwa, Anggut, terasa begitu teduh. Matahari yang bersinar terik di atas Bumi Rafflesia seolah tak mampu menembus kekhusyukan jamaah yang hadir di hari Jumat, bertepatan dengan 2 Ramadan 1447 H. Di tengah keheningan ibadah puasa hari kedua, sebuah pesan mendalam mengalir dari Syeikh Saifuddin Abu Muhammad. Beliau membawa narasi yang tidak hanya menyentuh spiritualitas personal, tetapi juga membangkitkan kesadaran global kita sebagai umat Muslim.

foto: dokumen pribadi


Tiga Pilar Cinta: Al-Qur’an, Ilmu, dan Baitul Maqdis


Syeikh Saifuddin mengawali narasinya dengan menekankan bahwa kekuatan seorang mukmin terletak pada apa yang ia cintai. Kecintaan kepada Al-Qur’an bukan sekadar hiasan lisan, melainkan kompas yang mengarahkan hidup. Cinta ini harus bersanding dengan kecintaan kepada ilmu, karena tanpa ilmu, iman akan mudah goyah oleh badai disinformasi dunia.


Namun, ada satu cinta yang seringkali terlupakan atau dianggap jauh: Kecintaan kepada Baitul Maqdis. Syeikh mengingatkan dengan tegas bahwa mencintai negara adalah bagian dari iman, namun Masjidil Aqsha adalah urusan akidah yang melampaui batas teritorial.


"Masjidil Aqsha bukan hanya milik warga Palestina. Ia adalah milik setiap Muslim yang bersyahadat," ungkap beliau.


Merujuk pada Surah Al-Isra ayat 1, Subhanalladzi asra bi’abdihi lailam minal Masjidil Haram ilal Masjidil Aqsha, hubungan antara Mekkah dan Yerusalem adalah ikatan langit yang tidak bisa diputus oleh politik manusia. Maka, mengunjungi dan menjaga Masjidil Aqsha, sebagaimana Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, adalah sebuah kewajiban spiritual bagi umat Islam.


Mengapa Dunia Seolah Bungkam?


Satu bagian yang paling menggetarkan dari narasi siang itu adalah refleksi mengapa saat ini banyak pihak yang seolah sulit untuk berdiri membela Palestina. Syeikh Saifuddin menyoroti dua akar masalah utama:

1.      Hilangnya Rasa Cinta kepada Al-Aqsha: Dunia telah membuat hati sebagian umat tumpul, sehingga penderitaan di tanah suci tak lagi dirasakan sebagai rasa sakit pribadi.

2.      Khianat: Adanya sikap-sikap pengkhianatan, baik dalam bentuk diamnya kekuasaan maupun pembiaran atas kezaliman yang terjadi di depan mata.


Beliau berpesan dengan sangat emosional: Jangan pernah bosan berdiri di samping para pejuang Al-Aqsha. Para Mujahidin dan Mujahidah di Kota Gaza bukan hanya sedang membela rumah mereka, mereka sedang menjaga kehormatan kiblat pertama kita semua.


Ramadan: Momentum Pembersihan Jiwa


Di akhir narasinya, Syeikh Saifuddin mengajak seluruh jamaah di Masjid Agung At-Taqwa untuk tidak membiarkan Ramadan ini berlalu dengan kesia-siaan. Di tengah lapar dan dahaga, jangan sampai kita lalai dari tilawah, dzikir, dan istighfar.


Ketiga amalan ini adalah "senjata" batin. Tilawah untuk menerangi akal, dzikir untuk menguatkan jantung iman, dan istighfar untuk meruntuhkan kesombongan diri. Dengan jiwa yang bersih, doa-doa yang kita panjatkan dari Bengkulu akan memiliki "sayap" untuk sampai ke langit dan memberikan kekuatan bagi mereka yang sedang terjepit di jalur Gaza.


Ramadan tahun ini adalah ajakan untuk pulang. Pulang ke Al-Qur’an, pulang ke ilmu, dan yang paling penting, memulangkan hati kita ke Baitul Maqdis.

 


Videonstgram Yayasan Al Fida 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya semoga menginspirasi jangan lupa tulis komentarmu di kolom komentar dan dapatkan informasi terbaru di setiap postingan. Jangan lupa follow akun Instagram @efrideplin dan Twitter @efrideplin Tiktok @EfriDeplin juga YouTube Efri Deplin dan MrDeplinChannel. Terima kasih semoga menginspirasi.

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib