Wednesday, 3 April 2019

Kisah Menarik dan 5 Manfaat Besar Bergabung di FLP

Baarakallahu fik
FLP 22 tahun Berbakti, Berkarya, Bararti


Pertama kali mendengar kata FLP atau Forum Lingkar Pena aku langsung ingin bergabung dengan komunitas besar ini. Sejak duduk di bangku SMA aku sudah mengenalnya melalui sebuah acara menulis yang diadakan sekolahku waktu itu. Adalah mba Yayuk nama yang pertama kali aku ingat sewaktu materi tentang menulis itu disampaikan di ruang kelas 1.6 SMAN 4 Kota Bengkulu.

Tulisanku juga sempat diapresiasi pada event Propinsi. Ingat sekali siapa pemenang menulis cerpen tahun 2005 itu adalah seorang penulis dari Manna Bengkulu Selatan. Sedangkan aku berada di posisi harapan 1. Tidak apa-apa memang tulisanku waktu itu tidak menjadi yang terbaik. Tapi cukuplah bagiku untuk menyulut api semangat dalam menulis.
Piagam Lomba Menulis

Namun tahun itu adalah tahun terakhirku di SMA karena bulan Agustus aku sudah mengenakan pakaian bebas menjadi anak kampus dengan segala hal rutinitas. Sebelumnya aku sempat menyampaikan karya terbaik ini dan sebuah buku sebagai prasyarat diterima sebagai anggota Rumah Cahaya. Waktu itu Rumah Cahaya di Lingkar Timur Bengkulu masih menyimpan arsip seabrek-abreknya. Banyak sekali karya yang kulihat di sana mirip perpustakaan mini pribadi.

Lalu dunia kampus membuatku tenggelam dalam ramuan cawan petri. Membuai hayal pada deburan ombak oceanografi hingga masuk ke dalam palung terdalam. Aku tinggalkan dunia tulisan yang suatu hari nanti akan kembali bersinar.

Tahun-tahun pun berlalu, toga pun menempel erat di kepalaku. Dunia Maya memang tak sempat membuai jari-jemari ini hingga tahun 2012. Adalah sebuah event masih dalam skala Propinsi yang digagas oleh ketua FLP waktu itu, mba Milda Ini. Aku lupa pertama kali kenal beliau dari mana. Tapi aku sekarang sudah memiliki akun facebook di Efri Deplin atas saran beliau dan bimbingan teman kerja. Jadilah aku memulai kembali mengasa kemampuan dengan sedikit berlari.

Menulis ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Iya benar tidak gampang.  Tapi menulis itu mudah jika dimulai sekarang. Iya sekarang juga. Aku memulai dengan event menulis fabel dengan latar belakang daerahku, Bengkulu. Aku pilih satu destinasi alami di Kota Bengkulu. Tulisanku membutuhkan beberapa kali revisi. Sepertinya klimaks dan akhir cerita sulit sekali diramu. Revisi lagi dan revisi berkali-kali. Akhirnya menulis perdana ini mendapat kata oke dari Mba Milda Ini. Namun harus bersaing dengan tulisan-tulisan dari penulis yang tentu lebih baik lagi.

Suatu hari akun facebook ku ditandai oleh seseorang. Alhamdulillah "Persahabatan Tikus Kecil" berhasil masuk dalam deretan tulisan keren buku "Dongeng Indah dari Bengkulu". Benar-benar berkesan dan semangat menulis ini semakin kuat. Aku sempat berfikir, jika aku hari ini terus semangat menulis dan membagikan kebaikan melalui tulisan tentu kebaikan itu akan kembali padaku. Mengapa aku tidak mulai dari sekarang? Aku akhirnya terus menulis, menulis dan menulis. Pastilah tentu yang mengajakku terus menulis ini akan mendapatkan kebaikan yang banyak pula, aku yakin sekali. Alhamdulillah terima kasih

Karya Perdana bersama penulis Bengkulu

Namun lika-liku perjalanan ini belum sampai pada gerbang literasi terbesar di Indonesia dan mancanegara ini. Belum lagi karena kesibukan dunia kerja. Iya mungkin karena alasan klasik orientasi demi orientasi lewat begitu saja di depan mata. Ada perasaan ciut, kecewa, patah hati hee tentu saja tidak. Namun aku terus menulis, menulis dan terus menulis seperti yang aku lakukan kemarin.

Aku harus survive dengan kondisi lapangan otodidak dengan segala usaha agar imunitas menulis tidak menurun. Lagi-lagi ada penyemangat dari kanan dan kiri. Membentuk sebuah komunitas di lingkungan kerja. Iya sebagai guru aku kemudian diarahkan untuk membina kelas menulis di bawah Komunitas Cinta Buku. Hingga saat ini dan menjadi sebuah ekstrakurikuler di sekolah tempatku mengajar.

Pada akhirnya kesempatan itu datang kembali. Kali ini aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi. Apapun kesibukanku entah itu kerja, kuliah atau apa saja semoga tidak berbenturan dengan orientasi kali ini. Hari ahad itupun tiba sejak pagi hingga ashar kami yang didominasi kaum hawa duduk melingkar dengan suguhan beberapa pemateri.

Aku merasa beruntung di penghujung semester akhir studi pasca sarjanaku aku mendapatkan sebuah kartu identitas baru.

NRA FLP 

Mengapa aku merasa cinta mati dengan FLP?
1. Bergabung di FLP menambah teman baik dan sebagai ajang silaturahim.
2. Bergabung di FLP memberikan peluang berkarya lebih besar dengan program yang terukur dan terarah.
3. Bergabung di FLP membuatku percaya diri dengan sebuah identitas resmi sebagai anggota komunitas yang aku ikuti melalui seleksi orientasi.
4. Walaupun 70 % anggota FLP adalah perempuan namun disinilah aku 30 % yang terus berusaha untuk memajukan dunia literasi dan memberikan kebaikan dengan seberkas cahaya melalui tulisan.
5. Bergabung di FLP sangat membantuku dalam menuangkan ide dan gagasan terlebih karena aku adalah seorang guru.

Alhamdulillah sampai saat ini aku telah berhasil membuat buku sebanyak 3 buku solo dan 17 buku antologi dan beberapa tulisanku siap dicetak. Ini adalah modal terbaik aku untuk terus berkreatifitas menuangkan ide dan gagasan memberikan seberkas cahaya dan berbagi dalam kebaikan melalui tulisan.

"Tulisan ini dibuat dalam rangka lomba blog dari Blogger FLP pada rangkaian Milad FLP 22"

No comments:

Post a comment

Terima kasih atas kunjungannya semoga menginspirasi jangan lupa tulis komentarmu di kolom komentar dan dapatkan informasi terbaru di setiap postingan. Jangan lupa follow akun Instagram @efrideplin dan Twitter @efrideplin87 juga YouTube Efri Deplin. Terima kasih semoga menginspirasi.

4 Tips Donor Darah Saat Puasa

Donor darah menjadi trend gaya hidup sehat masa kini. Selain memenuhi kebutuhan hidup para penggunanya, donor darah menjadi sebuah kebutuhan...