Saturday, 3 June 2017

9 Ramadhan 1438 H

Bismillahi..

9 Ramadhan 1438 H
Tafakur
#RamadhanBerkah

Jika aku yakin bulan malam ini di atas sana adalah separuh, aku juga harus yakin pasti ada separuhnya lagi. Dia tidak terpisah namun tetap berada di satu tempat. Wajahnya saja yang tampak setengah. Wujud aslinya adalah utuh. Semua atas kehendakNya. Jika aku yakin malam ini ada bulan terang benderang, aku juga harus yakin esok di atas sana ada mentari bersinar terang. Menyinari seluruh agad raya. Dari timur ke barat. Aku juga harus yakin bulan tetap berkelana di lintasannya mengorbit sejalan dengan garis edarnya.

Jika aku yakin lautan malam ini sedang pasang. Aku juga harus yakin siang esok laut akan surut. Semua atas kehendakNya. Malam ini nelayan pergi menghantam gelombang dengan sebuah keyakinan "Besok pagi aku kan pulang membawa sebongka berlian". Malam ini aku harus yakin nelayan pergi dengan tenang, diiring sujud panjang teman sejati sedari petang. Mengayun sampan bertiupkan angin darat nan tenang. Bila esok menjelang, pagi-pagi nelayan kan datang. Angin laut meniup nelayan ke ketepian, nampak dari pinggiran. Membawa harapan dan senyum mengembang tanda kesyukuran.

Kau lupa matahari selalu bersinar. Terbit di timur dan terbenam di barat lautan. Iya, di Lautan Indonesia Samudera Hindia, Indonesia Bagian Barat. Kau lihat ia malu-malu menampakkan diri di balik Bukit Barisan, Sumatera. Iya aku masih di Bengkulu. Siang hari ia berani dengan gagahnya bersinar terik menyengat kulit-kulit manusia. Sinar itu mulai redup bila panjang bayangmu ke arah timur jauh melebihi tinggi badanmu kawan. Tak lama lagi juga ia akan tenggelam.

Aku beri tahu agar kau tak lupa, sebenarnya dia tetap disana saja. Tidak kemana-mana. Semu harian kawan. Bumilah yang berputar pada porosnya. Bumi yang di atasnya ada rembulan. Bumi yang di tananhya ada lautan. Bumi yang di atasnya ada tumbuhan dan hewan. Bumi yang di atas lautnya ada nelayan. Seakan mentari tenggelam bersama gemericik dan dengungan mesin sampan nelayan.

Kisah ini belum usai. Kisah tak berujung, yang tampak adalah kesemuan. Di sana ada tuhan. Tempat kembali dan bergantungnya kehidupan sejati. Tafakur ini hanya sejenak sebagai pengingat diri, menempuh perjalanan abadi.

Allah SWT berfirman:

الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?". [QS. al-An’âm/6: 32]

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka”. [QS. al-Baqarah/2 : 201].

Aamiin.. Aamiin.. Aamiin..
Ya Rabbal 'Alamiin..

No comments:

Post a comment

Terima kasih atas kunjungannya semoga menginspirasi jangan lupa tulis komentarmu di kolom komentar dan dapatkan informasi terbaru di setiap postingan. Jangan lupa follow akun Instagram @efrideplin dan Twitter @efrideplin87 juga YouTube Efri Deplin. Terima kasih semoga menginspirasi.

4 Tips Donor Darah Saat Puasa

Donor darah menjadi trend gaya hidup sehat masa kini. Selain memenuhi kebutuhan hidup para penggunanya, donor darah menjadi sebuah kebutuhan...