Post Page Advertisement [Top]

BromoEdukasi

Doa-doa Terbaik Sebelum dan Sesudah Subuh Saat Pendakian Puncak Taman Nasional Gunung Bromo Tengger Jawa Timur

 Ini di Pasir Berbisik

Alhamdulillah kali ini saya ingin berbagi sebuah kisah. Semoga mengonspirasi dan menambah keberkahan. Aamiin

Siap-siap disimak ya. Berikut kisahnya.


Malam sudah semakin larut, Kota Batu Malang semakin dingin dan lekat. Homestay yang kami tumpangi malam ini masih berantakan dan memang dibiarkan begini saja. Tas kontingen yang bertumpuk di ruang tamu dan ruang keluarga ini menandakan kami butuh istirahat. Tengah malam ini kami harus bertolak menghibur diri dari kesibukan sepekan dalam acara yang dikemas secara Nasional kemarin. Iya benar kami akan ke Bromo malam ini.

Pukul 22.30 saya tidur dan pukul 23.30 saya bangun dan bersiap-siap. Janji pukul 23.00 travel sudah berada di depan homestay. Kami semuanya telah melengkapi keperluan untuk kesana. Pakaian diantaranya sepatu, kaos kaki, celana panjang, baju panjang, jaket tebal, sebo, masker, sarung tangan, mental dan fisik. Kami diantar di parkiran jeep yang siap menjelajah malam ini. Jeep yang kami tumpangi ada 3 buah. Kami berempat, kak Rina dan kak Witri di depan. Saya dan kak Hilmi duduk di bangku belakang. Ah.. sudah lah 2,5 jam perjalanan kami sampai di lokasi parkiran jeep. Jangan ditanya bagaimana pengalaman perjalanannya. Obrolan panjang dan perkenalan dengan sopir hingga ke Arena Asean Games 2018 Palembang pun semua diceritakan. Hingga akhirnya tertidur dan saya bangun ketika melewati Desa Tengger, Suku Asli Bromo karena benturan dinding jeep.

Jeep tetap konsentrasi berjalan menuju bromo. Tak beberapa lama kamipun berhenti. Terlihat beberapa jeep sudah parkir. Jam menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Langit begitu cerah dihiasi bintang yang bertaburan di luar angkasa.

Awalnya saya tidak mengira bahwa kami sudah sampai. Saya berfikir bahwa ini pemberhentian sementara untuk ke belakang misalnya. Iya ternyata benar, pemberhentian sementara dan melanjutkan pendakian dengan berjalan kaki. Tidak lama, pamandu menyampaikan waktunya sekitar 10 menit. Wah.. cuma 10 menit hee. Pemandu bilang, kalau disini terasa dingin sekali maka kita bilang "hangat" untuk mensugesti keadaan.

Tanpa diduga, tas ransel KPN tertinggal di dalam jeep. Saya turun dari pendakian karena ada beberpa benda penting disana. Saya harus ambil. Iya saya akhirnya turun dengan sedikit berlari kecil. Saya buka pintu jeep dan ambil tas langsung cus lari mendaki. Teman-teman sudah pada jauh. Mereka terlihat hanya bayangan saja dari kejauhan. Senter tak ada, sumber penerangan satu-satunya adalah gawai pintar ini dan di atas langit, gemerlap bintang gegap gempita yang berhasil membuat decak kagum dan kalimah ilahiayah di dada. Allahu Akbar!.

Aduhai jalan, jalanan aspal mulus ini kemiringannya sangat tajam. Subhanalallah saya belum pemanasan. Otot-otot kaki ini terasa sangat pagal. Sesekali nafas tersengal. Ini kita mau kemana sih, pakai jalan malam kaya pengembaraan ala Pramuka haa. Mau Tahu kemana? Ke Bromo? itu iklan ya hee. Kasihan melihat pembina putri beberapa akhirnya naik kuda. Saya mah santai, jalanan ini mah kecil hee. Padahal saya hanya mensugesti diri agar lebih kuat. Kan cuma 10 menit paling lama. Lagi-lagi 10 menit itu bukan waktu yang sebentar. Bagi kalian yang pernah kesini bakal tahu rasanya bagaimana perjuangan mendaki untuk menyaksikan mentari pagi bersinar menakjubkan. Beberapa turis asing juga terlihat melintas.

Kiri kanan jalanan tak terlihat jelas. Tidak ada gumamam atau candaan, semua konsentrasi mencapai puncak. Disini ramai namun sepi. Banyak manusia yang lewat tapi tak saling sapa. Bukan sombong tapi konsentrasi. Nafas perut cukup membantu penjuangan panjang ini. Jangan coba buka penutup hidung ya, bagi yang tidak biasa cuaca dingin hidungmu bakal sakit seakan tertusuk dengan dinginya suhu dibawah -7 derajad celecius.

Sejenak terlihat ada jalanan datar. Saking gembiranya diri ini langsung lari kecil mendahului kakak-kakak di depan. "Eh.. kak Efri kok Lari" Entah bertanya atau cuma iseng. Jalanan ini benar datar sekitar 10 meter. Namun, ini bukan akhir perjalanan. Masih ada titik pendakian ekstrem lainnya. Allahu Akbar! Setidaknya ada 3 pendakian lagi dan 2 belokan. Masya Allah kaki ini rasanya sudah sangat capek. Kuda yang ditumpangi kak Vera, kak Yenti dan kak Hilpi hampir mendekat. Saya bergegas berjalan dengan penuh semangat menyusul kak Rizal yang sudah lebih dulu dari kami. Akhirnya dengan penuh perjuaangan kamipun sampai di pemberhentian pertama.

Berhenti di pemberbentian ini kami berempat belas sibuk saling menyemangati. Pesan minuman hangat teh susu juga ada mie instan. Wah.. tak ada pilihan lainnya. Kak Witri, kak Vita dan kak Rina menjadi yang paling hebat. Bagaimana tidak, tidak ada yang menyangka tantangan 10 menit ke atas ini dibumbuhi dengan godaan ojek kuda hee dan mereka tidak tergoda karena kuat juga kali ya. Beda dengan kak Hilpi yang sudah tersengal-sengal sesak nafas, juga kak Vera dan kak Yenti. Kali faktor U ya wkwk sorry becanda kakak. Serba salah memang, mau buka masker hidungnya mampet ditutup masker nafas tersendat. Pilihannya ya naik kuda. Tapi lumayan juga ya ongkosnya. 150.000 sekali jalan naik. Mau lanjut turun nanti naik kuda lagi nambah 100.000. Wah.. lumayan juga ya kalau punya kuda. Kakak yang lain tidak tergoda untuk naik kuda. Alhamdulilah saya,  kak Rizal, kak Ayik, kak Kanta, kak Helmi, kak Refwan semuanya masih semangat. Masa kalah sama kak Wagino hee. Baliau saja masih kuat kok. Tentu kita juga harus pede dan semangat.

Beberapa sudah memesan makanan dan minuman. Perapian semakin banyak peminatnya. Tak terkecuali beberapa bule, "What is your name?" ucap saya kepadanya. "My name is David" balasnya. "Where are you from?" saya menambahkan. "I Am from Germany" Iyem from jermani kata-katanya itu yang gergetan. Ok Thaks bro. Youre welcome.. Saya dan kak Rizal cekikikan. David hanya diam sambil makan kuaci menghadap perapian. Bangku yang kami duduki saat ini terasa sangat luas sekali. Waktu menunjukkan pukul 03.30 WIB. Beberapa turis masih banyak berdatangan. Teman-teman satu rombongan sudah mulai mendaki kembali menembus gelapnya malam ke puncak menanti sunrise. Menapaki sekitar 300 anak tangga dengan estimasi waktu 25 menit. Allahu Akbar!

Saya dan kak Rizal masih di perapian bersama beberapa turis dan wisatawan lokal. Saya harus cekatan menunggu subuh pukul 04.30. Tiba-tiba masuk sebuah pesan WA menyentuh hati. Ajakan menunaikan ibadah puasa.

Berikut pesannya 

""Ingat Ingat"
Besok 2 hari  IBADAH YANG SANGAT LUAR BIASA JIKA KITA BISA MENGERJAKANNYA.

PUASA TARWIYAH (Senin, 8 Dzulhijjah / 20 agustus 2018) ARAFAH (Selasa , 9 Dzulhijjah / 21 agustus 2018).
Puasa sunah Tarwiyah dan Arafah sangat dianjurkan bagi umat muslim sedunia, agar kita dapat turut merasakan nikmatnya seperti yang dirasakan oleh para jama’ah haji. Namun, bagi jamaah haji sendiri haram hukumnya untuk berpuasa di hari Arafah 9 Dzulhijjah.
Adapun yang dimaksud dengan puasa Arafah adalah (Mengetahui) puasa yang dilaksanakan pada hari Arafah yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah yaitu hari pada saat jama’ah haji melakukan wukuf dipadang Arafah.
Dan Puasa Tarwiyah adalah (Merenung atau berpikir) puasa yang dilaksanakan pada hari tarwiyah yakni 8 Dzulhijjah, hari sebelum hari wukuf.
KEUTAMAAN PUASA TARWIYAH DAN AROFAH

Adapun keutamaan puasa sunah Tarwiyah (8 Dzulhijjah) dan Arofah (9 Dzulhijjah) bagi orang yang tidak melaksanakan ibadah haji berdasarkan beberapa hadist Nabi Muhammad SAW adalah:
1. Barang siapa yang menjalankan Puasa Tarwiyah akan dihapus dosa satu tahun yang lalu yang telah terlewati.
2. Sedangkan yang berpuasa di hari Arofah akan dihapus dosa dua tahun (1 tahun yang lalu dan 1 tahun yang akan datang)
3. Dan yang melaksanakan dua puasa ini akan dianugrahi oleh Allah SWT dengan 10 macam kemuliaan, yaitu:
1. Allah akan memberi keberkahan pada kehidupannya.

2. Allah akan menambah harta.
3. Allah akan menjamin kehidupan rumah tangganya.
4. Allah akan membersihkan dirinya dari segala dosa dan kesalahan yang telah lalu.
5. Allah akan melipat gandakan amal dan ibadahnya.
6. Allah akan memudahkan kematiannya.
7. Allah akan menerangi kuburnya selama di alam Barzah.
8. Allah akan memberatkan timbangan amal baiknya di Padang Mahsyar.
9. Allah akan menyelamatkannya dari kejatuhan kedudukan di dunia ini.
10.Allah akan menaikkan martabatnya di sisi Allah SWT.

Alangkah banyak keberkahan dan kebahagiaan yang Allah berikan bagi orang yang menjalankan puasa Tarwiyah dan Arofah. Semoga kita termasuk di dalamnya.
NIAT
Do'a Niat Puasa Tarwiyah
ﻧﻮﻳﺖ ﺻﻮﻡ ﺗﺮﻭﻳﻪ ﺳﻨﺔ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ
NAWAITU SAUMA TARWIYAH SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH

“ Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.”
Do'a Niat Puasa Arafah

ﻧﻮﻳﺖ ﺻﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﺳﻨﺔ ﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ.                          
NAWAITU SAUMA ARAFAH SUNNATAN LILLAHI TA’ALAH
“ Saya niat puasa Arofah , sunnah karena Allah ta’ala.”

Sampaikan ke sahabat/Saudara kita.... Semuanya"

Brodcash ini sangat menyentuh, dimana pada saat itu waktunya malaikat turun ke langit bumi, jika ada ayam jantanpun berkokok riang di tengah sepertiga malam. Puncak bromo benar-benar memikat hati. Untuk pengalaman pertama kesini adalah wajar jika lisan tak putus memuji illahi. Hanya satu, hanya satu yang dipinta pada waktu itu. Tak dapat diungkapkan namun tertanam di dalam hati. Semoga Allah SWT segera mengabulkan.

Air mata ini mengalir tak dapat terbendung. Hangat mengalahkan dinginnya embun bromo di malam buta. Saya baca kembali berulang-ulang pesan whatsapp ini. "Kalau keutamaan secara khusus masih perdebatan keshahihan haditsnya, namun secara dalil umum bisa dilakukan puasa tersebut karena ada hadits yang jelas keshahihannya tentang mengoptimalkan amal ibadah pada 10 hari awal dzulhijjah" Jelas seorang ustadz kepada saya melaui pesan whatsapp.

Bismillah.. "kak Rizal, afwan bagaimana kalau kita puasa hari ini?" Aku bercakap dengan kak Rizal. "Apa antum siap?" disana balik bertanya. "Insya Allah" Namun kak Rizal belum yakin. Iya makan sahurpun belum siap. Hari sudah menunjulkan pukul 03.40 WIB. "Bude, pesen satu mie telurnya dan satu susu". Pukul 04.00 tepat saya langsung santap sahur ditemani kak Rizal, Pakde dan Bude penjual makanan di pendakian ini.

Selesai makan kami langsung menuju kamar mandi di dekat tangga pendakian selanjutnya untuk berwudhu. Dinginnya air terasa merasuk ke dalam pori-pori kulit. Sebentar lagi subuh akan tiba. Kami memilih tribun yang masih direnovasi. Sebuah bangunan untuk mengambil gambar dengan latar bromo dari ketinggian. Singkat cerita selesai subuh kami melanjutkan pendakian menapaki anak tangga dan beberapa jalan yang masih berserakan antara batu dan material.

Tidak gampang menuju puncak namun pasti bisa sampai kesana. Itulah kata-kata yang tepat menggambarkan pendakian kedua ini. Nafas ini masih tersengal. Beberapa belokkan dan tanjakan mewarnai perjalanan ini. Sepasang muda-mudi yang mengiring dari belakang masih setia memberikan penerangan. Kali mereka canggung melewati saya. Nampak sekali keduanya capek dengan sesekali berhenti.

Pendakian kedua ini tuntas setelah menapakkan kaki di pelataran datar disambut para pendaki yang sudah ramai dan tiba lebih awal. Kok teman-teman kita cuma ada kak Hilpi, kak Vera dan kak Yenti saja? "Yang lain kemana kak?" tanya saya penasaran. Apa iya masih ada pendakian. Allahu Akbar! "Kalu ndak naik, naiklah. Ayuk idak sanggup lagi dek" jawab kak Hilpi. What! mendaki lagi? "Gimana kak Efri, lanjut kita mendaki?" Tantang kak Rizal. "Bismillah ayo" jawab saya cepat.

Medan terkahir ini tidak beraspal dan tidak ada tangga. Murni menapaki tanah pegungunan saja, mendaki sekitar 5 meter dan sampai. Belum juga di atas puncak namun pohon cemara memberi tanda jika ini adalah batas akhir pendakian. Saya menyadari tujuan mendaki ini hanyalah untuk menikmati indahnya alam dengan hadirnya mentari bersinar pagi dengan semburat merah kekuningannya di balik bukit nun jauh disana. Kami semua mencari spot paling cantik untuk mengabadikan moment ini. Pancaran kemilau mentari hampir terlihat sempurna. Mengabadikan gambar secara bergantian dan bersama-sama. Tak lupa, hati-hati ini terus berdzikir dan kakak-kakak pun subuh di puncak pendakian.

Saya sadar Bromo bukanlah tempat mustajabah untuk berdoa. Namun, hati ini merasa sangat dekat kepada Rabb setelah menyaksikan kebesarnNya yang mampu mendecak kagum hati dan jiwa. Doa-doa terbaik pun terpanjatkan ketika ingat di Bengkulu anak-anak dan istri yang selalu menggelayut di pelupuk mata dan hati. Capek dari pendakian ini semoga dimudahkan ke tanah suci, berihram dan bermunajat di arafah nan suci. Aamiin aamiin aamiin ya Rabbal 'alamiin.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.








5 comments:

  1. Dan saya saksi... Bahwa kak efri orang hebat kuat... Mendaki ke kawah bromo dalam keadaan puasa. .....kerennnnn kak fotonyo. ..dan ternyata ada foto saya jga di sana 😀😀😀😀

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha
      Terima kasih semangat nya kak Vita
      Luar biasa semnagt menandu

      Delete

Terima kasih atas kunjungannya semoga menginspirasi jangan lupa tulis komentarmu di kolom komentar dan dapatkan informasi terbaru di setiap postingan. Jangan lupa follow akun Instagram @efrideplin dan Twitter @efrideplin87 juga YouTube Efri Deplin. Terima kasih semoga menginspirasi.

Bottom Ad [Post Page]

| Designed by Colorlib