Wednesday, 25 October 2017

Pelantikan Mabida Bengkulu

Bismillahi..

Pelantikan Ketua Majelis Pembimbing Daerah Kak Rohidin Mersyah dan Pengurus Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bengkulu Masa Bakti 2016- 2021 oleh Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Kak Adhyaksa Dault di Balai Raya Semarak, Rumah Dinas Gubernur Provinsi Bengkulu (25 Okt 2017).

Baarakallahulakum semoga dengan amanah ini menjadikan pramuka sebagai wadah dalam membentuk karakter pemuda bangsa terus menumbuhkan tunas-tunas berkualitas. Aamiin

Sekali lagi kami ucapkan selamat.
Baarakallahu fik


(Kak. Efri Deplin Ka.Gudep 06.007 - 06.008 Ali bin Abi Thalib - Fatimah Az-Zahra SDIT IQRA' 1 Kota Bengkulu, Pinsakoda Bengkulu)

Larangan Berhubungan Dengan Jin

Larangan Berhubungan dengan Jin

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. Al-A’raf: 27)

Apakah Jin itu? 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Mayoritas umat mengakui adanya jin. Dalam hal ini mereka mempunyai banyak peristiwa yang terkait dengan jin.” 

Selanjutnya ia berkata, “Orang yang mengingkari keberadaannya (jin) tidak mempunyai dalil yang dapat dijadikan landasan. Akan tetapi hal itu dikarenakan ketidaktahuan mereka.” [1]

“Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan” (QS. Al-Jin: 1) 
Dalam Tafsir Jalalain disebutkan sebab turunnya ayat ini yaitu, “Sekumpulan jin, yakni jin dari Nashibin; demikian itu terjadi sewaktu Nabi sedang melakukan salat Subuh di lembah Nakhlah, yang terletak di tengah-tengah antara Mekah dan Thaif. Jin itulah yang disebutkan di dalam firman-Nya, "Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu." (Qs. Al-Ahqaf: 29), (lalu mereka berkata) kepada kaum mereka setelah mereka kembali kepada kaumnya: ("Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Quran yang menakjubkan) artinya mereka takjub akan kefasihan bahasanya dan kepadatan makna-makna yang dikandungnya, serta hal-hal lainnya.” [2]

Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi shalat dan setelah selesai beliau bersabda, "Sesungguhnya tadi ada setan yang menampakkan dirinya kepadaku (dan dalam satu riwayat: sesungguhnya Ifrit dari golongan jin menampakkan diri kepadaku tadi malam) dengan maksud supaya aku mengurungkan shalatku. Tetapi, aku dikaruniai kemampuan oleh Allah lalu mencekiknya. Sebenarnya aku ingin mengikat setan itu, supaya paginya kamu semua dapat melihatnya. Tetapi, kemudian aku teringat kepada ucapan (dalam satu riwayat: doa saudaraku) Nabi Sulaiman, 'Ya Tuhan, berikanlah kepadaku suatu kerajaan yang tidak Engkau berikan kepada seseorang sesudahku nanti.' Karena itu, Allah lantas mengusir setan (jin) itu dalam keadaan hina dina." (HR. Bukhari)

Makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan yang berarti istitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan setan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin maupun manusia. Iblis adalah gembongnya setan. 

Dinamakan jin karena wujudnya yang tersembunyi dari pandangan mata manusia. Firman Allah, 
“Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. (QS. Al-A'raf: 27) 
Kalau pun ada manusia yang dapat melihat jin, jin yang dilihatnya itu adalah yang sedang menjelma dalam wujud makhkuk yang dapat dilihat mata manusia biasa. 

Asal kejadian Jin 
Kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas. Allah berfirman, 

“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al Hijr: 27)"Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api." (QS. Ar Rahman : 15) 

Rasulullah bersabda, 
"Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan (diceritakan) kepada kamu [yaitu dari air sperma dan ovum]." (HR Muslim) 

Bagaimana wujud api yang merupakan asal kejadian jin, Al Quran tidak menjelaskan secara rinci, dan Allah pun tidak mewajibkan kita untuk meneliti-nya secara detail. Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhak berpendapat bahwa yang dimaksud "api yang sangat panas" (nar al-samum) atau "nyala api" (nar) dalam firman Allah di atas ialah "api murni". Ibnu Abbas pernah pula mengartikannya "bara api", seperti dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsir. 

Mengubah Bentuk 
Setiap makhluk diberi Allah kekhususan atau keistimewaan tersendiri. Salah satu kekhususan jin ialah dapat mengubah bentuk. Misalnya jin kafir (setan) pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama, ketika kaum Quraisy berkonspirasi untuk membunuh Nabi SAW di Makkah. Kedua, dalam Perang Badr pada tahun kedua Hijriah, seperti diungkapkan Allah di dalam surat Al Anfal: 48. 

Apakah jin juga mati? 
Jin beranak pinak dan berkembang biak. Allah memperingatkan manusia agar tidak terkecoh menjadikan iblis (yang berasal dari golongan jin) dan keturunan-keturunannya sebagai pemimpin sebab mereka telah mendurhakai perintah Allah (QS. Al Kahfi: 50). 

Banyak orang menganggap bahwa jin bisa hidup terus dan tidak pernah mati, namun sebenarnya ada hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, di mana Nabi SAW berdoa: "Anta al-hayyu alladzi la yamutu, wa al-jinnu wa al-insu yamutuna - Ya Allah, Engkau hidup tidak mati, sedangkan jin dan manusia mati." (HR. Bukhari & Muslim) 

Tempat-tempat Jin 
Banyak perbedaan antara manusia dengan jin, namun persamaannya juga ada, di antaranya sama-sama menghuni bumi. Bahkan jin telah mendiami bumi sebelum adanya manusia dan kemudian jin juga bisa tinggal bersama manusia di rumah manusia, tidur di ranjang dan makan bersama manusia. Tempat yang paling disenangi jin adalah kamar mandi, tempat manusia membuka aurat. Agar aurat kita terhalang dari pandangan jin ketika kita masuk ke dalam WC, hendaknya kita berdoa yang artinya, "Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari (gangguan) setan laki-laki dan setan perempuan." (HR. At-Turmudzi). 

Larangan Berhubungan dengan Jin 
Meskipun jin ada yang muslim, tapi karena jin makhluk ghaib, maka tidak mungkin muncul ketenteraman hati dan kepercayaan penuh bagi kita terhadap keislaman mereka, apakah benar jin yang mengaku muslim jujur dengan pengakuannya atau dusta. Kalau benar, apakah mereka muslim yang baik atau bukan. Bahkan kita harus waspada dengan tipu daya mereka. 

Berhubungan dengan jin adalah salah satu pintu kerusakan dan berpotensi mendatangkan bahaya besar bagi pelakunya. 

Dalil tentang larangan berhubungan dengan jin adalah: 
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, Maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin: 6) 
Imam Muhammad bin Abdul Wahhab berkata, “Meminta perlindungan kepada selain Allah (salah satunya adalah jin) adalah syirik.” [3]

Melakukan hubungan dengan jin berpotensi merusak penghambaan kita kepada Allah yaitu terjatuh kepada perbuatan syirik seperti yang dijelaskan oleh ayat tersebut. Ketidakmampuan kita melihat mereka dan kemampuan mereka melihat kita berpotensi menjadikan kita berada pada posisi yang lebih lemah, sehingga jin yang kafir atau pendosa sangat mungkin memperdaya kita agar bermaksiat kepada Allah. 

Bagaimana berhubungan dengan jin yang mengaku muslim? Kita tetap tidak dapat memastikan kebenaran pengakuannya karena kita tidak dapat melihat apalagi menyelidikinya. Bila jin tersebut muslim sekalipun, bukan menjadi jaminan bahwa ia adalah jin muslim yang baik dan taat kepada Allah. 

Maka berhubungan dengan jin tidak mungkin dilakukan kecuali apabila jin itu menghendakinya, dan sering kali ia baru bersedia apabila manusia memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat ini dapat dipastikan secara bertahap akan menggiring manusia jatuh kepada kemaksiatan, bahkan mungkin kemusyrikan dan kekufuran yang mengeluarkannya dari ajaran Islam. 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Setan (dari kalangan jin) sering berbentuk wajah orang yang dimintai tolong, jika orang tersebut telah meninggal.”[4]

Dari Abu Hurairah dari Nabi, beliau bersabda, 
“Jika Allah memutuskan suatu perkara di langit, maka para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, seolah-olah rantai di atas batu besar. Ketika telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, maka mereka bertanya, 'Apakah yang difirman oleh Tuhan kalian.' Mereka menjawab kepada yang bertanya, 'Dia berfirman tentang kebenaran dan Dia Mahatinggi lagi Mahabesar.' Lalu pencuri pembicaraan (setan) mendengarkannya. Pencuri pembicaraan demikian, sebagian di atas sebagian yang lain -Sufyan menyifatinya dengan telapak tangannya lalu membalikkannya dan memisahkan di antara jari-jarinya-. Ia mendengar pembicaraan lalu menyampaikannya kepada siapa yang di bawahnya, kemudian yang lainnya menyampaikannya kepada siapa yang di bawahnya, hingga ia menyampaikannya pada lisan tukang sihir atau dukun. Kadangkala ia mendapat lemparan bola api sebelum menyampaikannya. Kadangkala ia menyampaikannya sebelum mengetahuinya, lalu ia berdusta bersamanya dengan seratus kedustaan. Lalu dikatakan, 'Bukankah ia telah berkata kepada kami demikian dan demimkian, demikian dan demikian.' Lalu ia mempercayai kata-kata yang didengarnya dari langit." (HR. Bukhari) 

Dalam salah satu fatwanya, Lajnah Daimah menyatakan, “Atas dasar ini maka tidak boleh meminta bantuan kepada jin dan makhluk-makhluk selainnya untuk mengetahui perkara-perkara ghaib, baik berdoa kepada mereka, mendekatkan diri kepada mereka, membuat kemenyan, maupun selainnya. Bahkan, itu adalah kesyirikan, karena ini sejenis ibadah.” [5]

Jin yang Sesat dan Menyesatkan Manusia 
“Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): "Hai golongan jin, Sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia", lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: "Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya sebahagian daripada Kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan Kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami". Allah berfirman: "Neraka Itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)". Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui. (Qs. Al-An’am) 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Kesenangan jin dari manusia adalah karena ketaatan mereka terhadap apa yang mereka perintahkan, yakni: kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Ketiga hal itulah yang merupakan tujuan terbesar jin dari manusia. Jika manusia mentaati mereka dalam hal-hal tersebut, berarti manusia telah mewujudkan angan-angan mereka. Sedangkan kesenangan manusia dari jin yaitu bahwa mereka membantu manusia dalam melakukan maksiat kepada Allah dan dalam menyekutukan-Nya dengan segala kemampuan yang mereka miliki.

Syetan dari golongan jin itu memperdaya manusia, menganggap baik sesuatu yang buruk dan meluluskan sebagian besar keinginan manusia. Mereka membantu manusia dengan sihir, jimat dan lainnya. Adapun syetan dari golongan manusia maka mereka mentaati berbagai perintah jin tersebut, baik untuk melakukan syirik, kekejian maupun dosa. Sebaliknya, jin-jin itu mentaati manusia terhadap apa-apa yang mereka inginkan, misalnya memberikan berbagai pengaruh dan mengabarkan tentang hal-hal yang gaib. Dengan demikian, masing-masing menikmati kesenangan dari yang lain.” [6]

[1] Al-Jin, Ibnu Taimiyah 
[2] Tafsir Jalalain, Jalaluddin As-Suyuthi & Jalaluddin Muhammad Ibnu Ahmad Al-Mahally 
[3] Kitab Tauhid, Imam Muhammad bin Abdul Wahhab
[4] Al-Jin, Ibnu Taimiyah 
[5] Majalah al-Buhuts al-Islamiyah, Lajnah Daimah 
[6] Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Saturday, 21 October 2017

JOTA JOTI 20 - 22 Oktober 2017

Bismillahi..

Selamat Jota Joti Pekan ke-3 Oktober.

JOTA-JOTI adalah kepanjangan dari Jamboree On The Air-Jamboree On The Internet, atau dalam Bahasa Indonesia memiliki arti Jambore di udara dan Jambore di internet.

JOTA-JOTI adalah kegiatan tahunan tingkat dunia dan merupakan kegiatan terbesar yang pernah dikelola oleh WOSM. Setiap tahun, kegiatan ini diselenggarakan pada akhir pekan minggu ke-3 pada bulan oktober.

Jamboree On The Air

Kegiatan JOTA pertama kali diselenggarakan dalam rangka 50 tahun Gerakan Kepanduan Dunia pada tahun 1957, dan dirancang oleh seorang amatir radio berkebangsaan Inggris dengan callsign G3BHK.

Jamboree On The Internet

JOTI dirintis pada tahun 1995 oleh Rovers Queanbeyan sementara satu Rover, Norvan Vogt berada di pertukaran pelajar di Belanda, dengan kru rumah di Australia dikoordinasi oleh Brett Sheffield. Mereka menghubungkan Putten, Belanda dengan Queanbeyan, Australia dengan mendedikasikan server IRC. Pada bulan November 1996 Komite Pramuka Dunia, mencatat bahwa kepramukaan sudah memiliki kehadiran yang cukup besar di Internet, dan sudah ada sebuah Jambore informal dan berkembang pesat di Internet, memutuskan bahwa JOTI harus menjadi acara resmi Pramuka internasional, dan yang seharusnya diselenggarakan pada akhir pekan sama dengan Jambore di udara (JOTA).

Kegiatan JOTAS

Secara teknis, kegiatan JOTA mempergunakan perangkat radio amatir. (baik dengan mode CW, maupun mode SSB) Gelombang radio yang dipergunakan biasanya menggunakan band 40 meter atau band 80 meter.

Semua operator amatir radio dari seluruh dunia berpartisipasi dengan lebih dari 500.000 Pramuka untuk mengajarkan mereka tentang radio dan membantu mereka untuk menghubungi Pramuka-Pramuka lain dengan menggunakan perangkat radio amatir dan sejak tahun 2004, menggunakan Basis Echolink-VoIP. Para Pramuka juga didorong untuk mengirim konfirmasi komunikasi (baik dalam bentuk elektronik maupun kertas) yang dikenal sebagai kartu QSL. (QSL Card atau eQSL Card apabila dikirim secara elektronik) Ini merupakan pembelajaran bagi para Pramuka untuk mengenal dan bertukar pengalaman dengan Pramuka-Pramuka dari berbagai penjuru dunia.

Kegiatan JOTI

Kegiatan JOTI adalah kegiatan chatdengan Pramuka-Pramuka dari seluruh penjuru dunia dengan menggunakan kanal IRC. Sehingga, untuk dapat mengikuti kegiatan JOTI dalam komputer harus ada software chat IRC, misalnya mIRC atau XChat.

Sumber: Wikipedia.

Kilas Balik 2016 dan 2017 GUDEP Unggul Nasional Oleh: Efri Deplin (Ka.Gudep SDIT IQRA' 1 Kota Bengkulu, Pinsakoda Bengkulu)

Kilas Balik 2016 dan 2017 GUDEP Unggul Nasional.

Bismillahi..

Adik-adik Pangkalan SDIT IQRA' 2 Kota Bengkulu sedang Penggalang Ceria di Bogor. Semoga sehat selalu dan tetap semangat menjadi yang terbaik.

Kakak pembina disana bagaimana juga ya kabarnya?. Kita tunggu hasilnya.

Kilas balik Gudep Unggul 2016.
Presentasi di awal kompetisi sangat menentukan posisi pada tahap selanjutnya. Dari 33 Propinsi dan dibagi menjadi 3 tim, 1 Propinsi tidak ada perwakilan. Nomor undian 32 SDIT IQRA' 1 berhasil masuk 3 besar di Grup C yang bersaing dengan 11 Pangkalan. Setelah diumumkan hasil tersebut pukul 13.00 waktu setempat di Aula Plaza Hotel Sanur Bali kita bersiap dengan tahap selanjutnya, presentasi dan menyampaikan sebuah karya ilmiah kepramukaan.

Tidak selesai sampai disini. Kerja tim dan sumbangsi peran ide dan gagasan sangat diperlukan. Sekecil apapun peran sangatlah berarti untuk keberhasilan tim. Dalam hal ini Ka.Mabigus memiliki peran yang besar untuk semua proses.

Semua usaha dan strategi membayangi wajah dan kerja keras proses kakak-kakak di Pangkalan SDIT IQRA' 1 Kota Bengkulu pada waktu itu. Juga peran besar Yayasan Al Fida dan kepercayaan penuh KWARDA Bengkulu juga Dinas terkit dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Alhamdulillah juara 2 Gugus Depan Unggul Nasional 2016 diraih dengan gemilang. Semua ini adalah atas keberkahan dari Allah SWT. Patut bersyukur dengan menjadikan moment ini sebagai langkah awal untuk membuka cakrawala baru dan semangat dalam mendidik dan menyiapkan generasi masa depan melalui Gerakan Kepramukaan.

Berikut dilansir dari Media Pramuka Kwarcab Kota Bengkulu.

"Gugus Depan Kota Bengkulu Pangkalan SDIT Iqra 1 Juara II Nasional Gugus Depan Unggul Tingkat SD tahap II di Bali.

Bertempat di Bali, tanggal 20 s.d 24 September 2016, Gugus Depan Kota Bengkulu Pangkalan SDIT IQRA' 1 Kota Bengkulu, berhasil meraih juara 2 Gugus Depan Unggul tahap 2 tingkat Nasional di Bali, berhasil menjadi wakil satu-satunya dari Sumatra bertengger di peringkat kedua setelah Jawa Tengah, juara 3 di tempati oleh Jawa Timur, harapan 1 Banten, Harapan 2 Kalteng, dan harapan 3 Kaltim. selamat dan sukses, semoga diikuti oleh Gugus Depan yang lain".

Tahun 2017 ini kembali Bengkulu diwakili oleh Pangkalan SDIT IQRA' 2 Kota Bengkulu. Dengan hasil sebagai berikut:

GUGUS DEPAN

Harapan 3 KALTIM
Harapan 2 BALI
Harapan 1 RIAU

Juara 3 BANTEN
Juara 2 JATIM
Juara 1 JATENG

REGU Putra

HARAPAN 3 KALUT
HARAPAN 2 BABEL
HARAPAN 1 DKI

JUARA 3 BALI
JUARA 2 SULSEL
JUARA 1 BANTEN

REGU Putri

Harapan 3 BALI
Harapan 2 SULSEL
Harapan 1 BENGKULU

Juara 3 LAMPUNG
Juara 2 BANTEN
Juara 1 JATENG

Selamat kepada Pangkalan SDIT IQRA' 2 berhasil menang harapan 1 Regu Putri. Semoga ini menjadi penyemangat gugus depan - gugus depan yang berada di Provinsi Bengkulu khususnya dan Gudep Se-Indonesia pada umumnya.

Kilas balik tahun 2016 dan hasil tahun 2017 ini menjadikan motivasi kita semua sebagai insan penddikan. Sebuah amanah besar meramu dan mengagas dan menyelaraskan serta mengintegrasikan Kepramukaan dengan Nilai-nilai akhlak untuk kemajuan Bangsa.

Baarakallahu fik.
Jayalah Pramuka Jayalah Indonsia.

Bengkulu, 21 Oktober 2017.

Wednesday, 18 October 2017

Makna Laailahaillallah

MAANI LAAILAHAILLALLAH

(Makna Kalimat Laa Ilaha Illallah)

Sinopsis

Dalam kalimat syahadat terdapat beberapa bagian yang sering menjadi pembahasan. Antara lain kalimat "Laa"yang berarti menafikan secara langsung konsep dan ciri-ciri ketuhanan yang ada di atas alam kecuali konsep Allah SWT dengan segala kesempurnaannya. Penafian (penolakan) tersebut untuk membersihkan aqidah dari syubhatketuhanan. Tujuannya ialah menegaskan bahwa segala arti dan hakikat ketuhanan itu hanyalah ada pada Allah. Dari sini bangunan aqidah menjadi jelas bagi seorang mukmin.

Dengan mengucapkan kalimat syahadat maka kita me­mahami dan bersikap bahwa tidak ada Pencipta kecuali Al­lah saja, tiada Pemberi rezki selain Allah, tiada Pemilik selain Allah, tiada kerajaan selain untuk Allah, tiada Pembuat hukum selain Allah, tiada Pemerintah selain Allah, tiada Pemimpin selain Allah, tiada yang Dicintai selain Allah, tiada yang Ditakuti selain Allah, tiada yang Diharapkan selain Allah, tiada yang memberi manfaat atau mudhorot selain Allah, tiada yang menghidupkan atau mematikan selain Al­lah, tiada yang mengabulkan permohonan selain Allah, tiada yang melindungi selain Allah, tiada wakil selain Allah, tiada daya dan kekuatan selain dari Allah, tiada yang diagungkan selain Allah dan tiada yang dimohonkan pertolongannya selain Allah.

Ungkapan demikian merupakan konsekuensi pengamalan la ilaha illallah, yang diaplikasikan ke dalam seluruh sektor kehidupan, apakah di dalam mesjid atau di luar mesjid, di rumah atau di luar rumah, di tempat bekerja atau di luar tempat kerja. Pada dasarnya sikap demikian dilakukan selarn 24 jam penuh dari bangun tidur hingga tidur kembali. Apabila hal demikian dilakukan maka akan mendapatkan kesela­matan dunia dan akhirat.

1. Laa Ilaha Illallah (Tiada Tuhan Selain Allah)

· Menafikan seluruh bentuk ketuhanan yang lain selain Al­lah. Menafikan kesempurnaan mereka dan menafikan hak pengabdian selain dari Allah. Menguatkan (itsbat) keesaan dan kesempurnaan Allah semata-mata.

· Pengertian dan konsekwensi la ilaha illallah juga termasuk pengertian dan konsekwensi Allah sebagai Rabb dan Malik. Dan pengertian la ilaha illallah telah merangkum semua makna tauhid, oleh karena itu pula yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul adalah kalimat la ilaha illallah bukan kalimat la rabba illallah atau kalimat la malika illallah. Pengertian terhadap la ilaha illallah diwajibkan oleh Allah SWT untuk dipelajari.

Dalil

· Q. 18:110. Rasul sebagai orang biasa yang mendapatkan

misi untuk mendakwahkan bahwa Allah adalah ilah.

· Q. 47:19. Allah memerintahkan kita untuk mempelajari

kalimat la ilaha illallah.

2. La Khaliqun (Tiada Pencipta Selain Allah)

· Banyak ayat dalam Al Quran yang menyatakan bahwa Al­lah yang menciptakan manusia dan makhluk, kemudian Allah pula yang memberinya rezki dan mematikannya. Konsekwensi dari Allah sebagai Pencipta maka Allah lah yang akan memberinya rezki dan mengatur kehidupannya.

· Gambaran sebagai Pencipta adalah gambaran kemampuan yang hebat dari yang diciptaNya. Allah sebagai Pencipta maka Allah lebih perkasa dan tidak terjangkau kekuatannya oleh manusia atau makhluk lainnya. Dengan pernyataan bahwa tidak ada Pencipta kecuali Allah berarti mengakui Allah adalah Paling Besar (Alllahu Akbar). Yang diperlukan dalam pernyataan kalimat tauhid ini adalah konsekwensi di dalam kehidupan sehari-hari.

Dalil

· Q. 25:2. Allah yang menjadikan segala sesuatu, lalu mengaturnya menurut aturan tertentu.

3. La Raziqo (Tiada Pemberi Rezki Selain Allah)

· Allah sebagai Pencipta maka Allah juga yang menjadi Pemberi Rezki. Memahami pernyataan bahwa tidak ada pemberi rezki kecuali hanya Allah saja berarti Allah sebagai tempat bergantung kita meminta rezki. Bukan bos, man­ager, pemimpin perusahaan yang memberikan rezki kita. Allahlah yang memberikan rezki melalui pekerjaan kita. Dengan sikap demikian ketergantungan kita bukan kepada manusia atau bos dan pekerjaan. Ketakutan kita juga hanya kepada Allah begitu juga tempat memberikan harapan kehidupan hanya kepada Allah. Inilah sebenarnya pengertian tauhid yang murni dan dapat membawa kita kepada kedamaian.

Dalil

· Q. 51:57-58. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak kehendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.

4. La Maalika (Tiada Pemilik Selain Allah)

· Allah yang memiliki bumi langit dan semua isinya termasuk diri kita dan yang melekat pada diri kita adalah milik Allah. Anak, harta dan jiwa kita pun milik Allah. Kita tak mungkin menjaga sepenuhnya yang ada pada diri kita, karena yang memiliki adalah Allah. Oleh karena itu apabila memahami secara benar kalimat tiada Pemilik selain Allah maka segala bentuk kehilangan, musibah dan sebagainya merupakan ketentuan Allah dan kembali kepada Pemiliknya. Sikap kita adalah sabar dan tidak menyesali atau sedih berlebihan, karena kita hanyadipinjamkan sementara yang suatu saat akan diambil oleh Pemiliknya.

· Allah berfirman dalam surat 2:155,apabila mendapatkan musibah kita menyebut inna lillahi wa inna ilaihi rajiun yang artinya bahwa sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada Pemiliknya.

Dalil

· Q. 4:131-132. Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan juga kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka ketahuilah, sesungguhnya apa yang di langit an apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Dan kepunyaan Al­lah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.

· Q. 2:284. Bagi (milik) Allah-lah apa-apa yang di langit dan apa-apa yang di bumi

5. La Malika (Tiada Penguasa Selain Allah)

· Allah juga sebagai Penguasa atas apa-apa yang diciptaNya. Kekuasaan Allah tidak terbatas dan tidak ada satupun yang mampu mengalahkanNya. Suatu hal yang wajar apabila kita

patuh dan taat kepada Penguasa tunggal alam ini. Kita mempunyai keterbatasan sebagai makhluk untuk memikir­kan khaliq. Kita tidak mampu memikirkan bagaimana kej adian Allah, yang mampu kita lakukan adalah memikir­kan ciptaan Allah.

· Kekuasaan yang dimiliki Allah menjadikan Allah sebagai satu-satunya Penguasa yang perlu diabdi dan disembah. Oleh karena itu segala peraturan dan kebijakanNya patut untuk diikuti dan dipatuhi. Apabila manusia tidak mematuhi perintahNya maka akan mengakibatkan murka dan marahnya Allah. Azab akan diturunkan sebagai bagian dari hukuman tersebut, apakah berupa bencana, kerusuhan, musibah dan banyak cobaan atau ujian lainnya.

Dalil

· Q. 62:1. Bertasbihlah kepada Allah apa saja yang ada dy langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

· Q. 36:83. Maka Maha Suci Allah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan

· Q. 67:1. Maha Suci Allah yang ditanganNyalah segala kerajaan. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

· Q. 3:189. Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

6. La Hakima (Tiada Pembuat Hukum Selain Allah)

· Setelah Allah menciptakan alam dan seisinya termasuk manusia, maka suatu hal yang wajar Allah menetapkan segala kebijakan dan keputusan untuk mengatur kebaikan perjalanan kehidupan makhlukNya. Oleh karena itu, ketetapan yang Allah putuskan adalah suatu yang benar dan sesuai dengan keadaan dan keperluan manusia dan makhluk lainnya. Keputusan Allah tersebut sesuai dengan fitrahnya manusia dan keadaan penciptaan makhluk.

• Keputusan dan kebijakan Allah semuanya telah tertera dalam Al Quran yang kemudian diamalkan oleh Nabi SAW dan dicontoh oleh para sahabat Nabi dan pengikutnya. Tiada pembuat hukum dan aturan tentang kehidupan manusia dan alam kecuali Allah.

· Allah SWT telah berhasil dan telah menunjukkan kepada kita kehebatan dan keberhasilan mengatur alam semesta ini. Alam semesta begitu tertib dan teratur berjalan setelah beratus abad tanpa ada kerusakan dan kesalahan sedikitpun. Pergantian siang malam, perjalanan bumi, bulan dan bintang, berbagai peristiwa yang terjadi secara pasti dan tepat sesuai dengan hukum sunnatullah kauniyah.

· Selain hukum kepada alam juga hukum kepada manusia. Agar manusia tertib dan teratur menjalani kehidupan dunia yang begitu komplek maka ikuti hukum Allah yang pasti kebenarannya dan jelas tuntunannya. Hukum dan aturan lainnya yang mengatur manusia belum tentu benar karena masih berdasarkan sangkaan dan dugaan, sementara hukum Allah adalah pasti benar. Oleh karena itu, sikap kita adalah tidda pembuat hukum yang mengatur kehidupan manusia kecuali Allah saja.

Dalil

· Q. 12:40. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya menyembah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

· Q. 6:114. Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab Al Quran kepadamu dengan terinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.

· Q. 33:36.Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang Mukmin, apabila Al­lah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat dengan sesat yang nyata.

· Q. 28:68. Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan dengan Dia.

· Q. 45:18. Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat peraturan dari urusan agama itu, maka ikutijah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang­orang yang tidak mengetahui.

· Q. 42:20. Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun di akhirat.

· Q. 6:137. Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang yang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk me­ngaburkan bagi mereka agamanya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.

7. La Amiro (Tiada Pemerintah Selain Allah)

· Allah yang berhak mencipta dan memerintah manusia.

Konsekuensi logis dari Pencipta adalah mengatur dan

memerintah apa yang telah diciptanya agar ciptaannya

berjalan dengan baik tanpa kerusakan.

· Tiada Pemerintah manusia kecuali Allah saja. Dia yang mengatur kehidupan manusia seperti kehidupan berke­luarga, kehidupan bermasyarakat, kehidupan dalam berekonomi, berpolitik, dan kehidupan sehari-hari dalam pergaulan, di tempat kerja atau di rumah. Allah SWT telah mengatur kehidupan manusia demikian elok dan baiknya agar manusia dapat menjalani kehidupannya secara damai, aman dan tertib. Allah SWT telah lengkap memberikan aturan dan perintah kepada manusia, hanya saja manusia yang tidak mengikutinya dengan baik.

Dalil

· Q. 7:54. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakanNya pula matahari, bulan dan bintang-bintang masing-masing tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.

8. La Waliya (Tiada Pemimpin Selain Allah)

· Allah SWT sebagai Pelindung atas ciptaanNya. Dia amat sayang dan mencintai ciptaanNya, sehingga Dia pula yang melindungi ciptaanNya apalagi kepada orang-orang yang beriman. Allah telah membuat aturan yang baik bagi manusia untuk dijalankan dan Allah pula yang mengeluar­kan manusia dari segala keburukan yang dilakukannya.

· Tiada Pelindung kecuali hanya kepada Allah. Manusia dan makhluk lainnya tidak layak dan tidak cocok dijadikan pelindung manusia walaupun mereka memiliki berbagai status dan jabatan yang kuat di mata manusia. Namun demikian, semua kekuatan yang dimiliki manusia hanyalah kecil di hadapan Allah.

Dalil

· Q. 2:257. Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kekafiran kepada

cahaya iman. Dan orang-orang yang kafir, pelindung­pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan kekafiran. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

9. La Mahbuba (Tiada Yang Dicintai Selain Allah)

· Allah yang menciptakan manusia dan Allah pula yang melindungi ciptaanNya maka Allah juga mencintai ciptaanNya, terlebih lagi kepada manusia yang selalu bersedia melaksanakan semua perintahNya. Namun demikian kecintaan Allah kepada manusia juga karena kecintaan manusia kepada Allah sebagai Penciptanya.

· Mencintai sesuatu sebaiknya diarahkan kepada yang kekal dan abadi. Cinta yang tidak kekal dan abadi menjadikan hati tidak bahagia. Untuk cinta yang abadi hanya kepada Allah saja karena Allah adalah sesuatu yang abadi dan kekal. Oleh karena itu, tiada yang dicintai kecuali hanya Allah.

· Tentunya manusia berebut untuk mendapatkan kecintaan dari sesuatu yang memiliki segalanya yaitu Allah. Dengan dicintaiNya maka kita akan dilindungi dan diberikan apa saja yang kita minta. Bahkan kita mendapat pertolongan dan bantuan atas segala kesulitan yang dialami.

Dalil

· Q. 2:165. Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah

10. La Marhuba (Tiada Yang Ditakuti Selain Allah)

· Allah memberikan pelajaran kepada manusia dengan berbagai hukuman apabila tidak mengamalkan perintah­Nya. Hukuman merupakan pendidikan bagi manusia agar mengikuti yang benar dari Allah. Selain hukuman yang diberikan, Allah juga memiliki segalanya dan dapat memutuskan apapun yang dikehendakiNya. Oleh karena itu, hanya kepada Allah saja kita takut dan bukan kepadamanusia. Karena manusia tidak memiliki apapun, yang dimiliki manusia tidak kekal pada dirinya dan tidak berarti apa-apa di hadapan Allah.

· Orang yang takut kepada Allah adalah orang yang beriman dan beramal shaleh. Orang yang beriman yakin betul bahwa Allah saja yang perlu ditakuti bukan manusia yang ditakuti. Dengan demikian, ketergantungan hanya kepada Allah saja. Sikap takut dan tergantung kepada manusia menjadikan diri kita sulit, karena manusia yang dijadikan tempat bergantungpun tidak memiliki segalanya bahkan ber­gantung pula dengan manusia lainnya.

· Takut kepada selain Allah memiliki berbagai konsekuensi yang merugikan manusia, di antaranya berbagai tuntutan yang dikehendaki dari manusia yang ditakuti. Sel.ain itu, akan memunculkan sikap takut yang tidak proposional dan berakibat kepada kejiwaan.

Dalil

· Q. 2:40. Hai Bani Israil, ingatlah akan niktnatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepadaKu niscaya Aku penuhi janjiKu kepadamu; dan hanya kepadaKulah kamu harus takut (tunduk).

· Q. 9:18. Hanyalah yang memakmurkan mesjid-masjid Al­lah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut kepada siapapun selain kepada Al­lah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

11. La Marghuba (Tiada Yang Diharapkan Selain Allah)

· Karena Allah memiliki segalanya dan mampu melakukan segalanya maka hanya kepada Allah saja tempat kita

berharap.Tidak ada tempat yang layak untuk diharap kecuali hanya Allah. Harapan kepada manusiapun akan dipenuhi apabila Allah menghendaki. Yang dimiliki manusiapun sebenarnya milik Allah, Allah yang menitipkan sementara kepada manusia. Allah mampu menarik semua yang ada pada manusia kapanpun.

· Mengharap Allah tidak saja dari materi tetapi juga mengharapkan surga yang dimilikiNya. Kita berharap dapat dipertemukan dengan Allah di akhirat kelak, kita berharap agar kehidupan yang kita lalui dapat berjalan dengan baik. Segala harapan kita hanya kita lemparkan kepada Allah. Tanpa sikap demikian maka kita akan rugi.

Dalil

· Q. 94:8. Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kapnu berharap.

· Q. 18:110. Katakanlah:" Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaKu: " bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhan­nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam ber­ibadah kepada Tuhannya".

12. La Nafi'a Wa La Dzhar (Tiada Yang Memberi Manfaat Atau Mudharat Selain Allah)

· Allah Maha Kuasa atas segala sesuatunya, Dia yang dapat mendatangkan kebaikan dan menimpakan kernudharatan kepada manusia. Kebaikan atau kemudharatan disebabkan oleh ulah dan tingkah laku manusia sendiri. Allah hanya memberikan balasan dan respon yang sesuai dengan apa yang dilakukan manusia.

· Manusia yang melakukan kebaikan sesuai dengan perintah Allah dalam Al Quran dan mengikuti sunnah Nabi SAW maka akan mendapatkan manfaat yang besar dari Allah atas kebaikannya tersebut. Begitu pula sebaliknya, apabila berbuat kerusakan di muka bumu, maka Allah memberikan mudharat kepada manusia yang melakukannya. Tidak ada yang dapat memberikan manfaat dan mudharat kecuali hanya Allah saja.

Dalil

· Q. 6:17. Jika Allah menimpakan suatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

13. La Muhyi Wa La Mumit (Tiada Yang Menghidupkan Atau Mematikan Selain Allah)

· Allah yang menciptakan manusia maka Allah yang mampu menghidupkan dan mematikan manusia. Setiap manusia ada batas umur dan ada waktu ajalnya. Allah yang menentukan kapan seorang manusia hidup dan mati, Al­lah j uga yang menentukan bagaimana cara hidup dan matinya makhluk.

· Walaupun telah jelas bahwa Allah yang paling berhak dan mampu untuk menghidupkan dan mematikan, tetapi manusia masih ada saja yang mengakui mampu melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Fir'aun sebagai contoh mengakui dapat menghidupkan dan mematikan manusia tapi pada kenyataannya tidak dapat dilakukan khususnya untuk menghidupkan manusia.

· Sikap tauhid dengan pernyataan bahwa tidak ada yang mampu menghidupkan dan mematikan ini menjadikan kita hanya berlindung kepada Allah saja.

Dalil

· Q. 2:258. Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya Allah karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan

kekuasaan.Ketika Ibrahim mengatakan:" Tuhanku ialah Yang merehidupkan dan mematikan," orang itu berkata: 'Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata:"S.sungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiarnlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjukkepada orang-orang yang zalim.

14. La Mujib ITiada Yang Mengabulkan Permohonan Selain Allah)

· Manusia nemiliki berbagai keterbatasan, oleh karena itu manusiabiasa meminta bantuan orang lain untuk menutupiketerbatasannya. Kebiasaan memohon bantuan adalah fiaah manusia yang mana manusia terbatas dari segi kemampuan. Selain itu, keadaan menuntut manusia untuk mampu melaksanakan sesuatu.

· Berbagai keterbatasan manusia dan tuntutan lingkungan untuk suskses bekerja, memaksa kita untuk meminta bantuankepada yang lain. Memohon bantuan adalah suatu kewajamr Karena Allah adalah segalanya, maka permohon­an yanguajar untuk disampaikan hanya kepada Allah saj a. Permohonan manusia kepada Allah biasanya dilontarkan dalam bentuk doa. Islam mengajarkan kita untuk selalu berdoa, apakah dalam shalat atau dalam berbagai situasi yang diperlukan.

Dalil

· Q. 2:186.Dan apabila hamba-hambaku bertanya kepadamu tentang A u, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Akutnengabulkan prmohonan orang yang berdoa apabilaiamemohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka berimankepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran

· Q. 40:60.Dan Tuhan mu berfirman:" Berdoalah kepada­Ku, niscaaakan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah. Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina".

15. La Mustajara Bihi (Tiada Yang Melindungi Selain Al­lah)

· Syaitan memiliki tugas dan pekerjaan di dunia ini untuk menggoda manusia. Kehebatan syetan telah teruji dengan bukti-bukti nyata di hadapan kita. Manusia yang melakukan kerusakan di bumi adalah pekerjaan syaitan. Syaitan selalu menggoda kita untuk menjadi teman-temannya. Tiada yang mampu selain Allah untuk berhadapan dengan syaitan. Syaitan hanya mampu dilawan dengan keimanan kita kepada Allah dan menjalankan perintahNya.

· Karena hanya Allah yang mampu melawan syetan, maka perlindungan yang kita minta juga hanya kepada Allah. Syetan adalah perbuatan jahat yang dilakukan oleh jin dan manusia. Karena jin dan manusia adalah makhluk atau ciptaan Allah maka Allah dengan mudah melawan mereka. Perbuatan syetan seperti sombong, dengki, iri hati dan kikir adalah tingkah laku syetan yang ada pada diri manusia. Oleh karena itu, untuk menghindari tingkah laku syaitan dari dalam diri atau luar diri manusia, kita harus berlindung kepada Allah saja.

Dalil

· Q. 16:98. Apabila kamu membaca Al Quran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.

· Q. 72:6. Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.

16. La Wakila (Tiada Tempat Bertawakal Selain Allah)

· Allah sebagai tempat untuk menyerahkan diri. Setelah kita memusyawarahkan sesuatu dan telah diputuskan yang akan kita laksanakan maka kemudian kita menyerahkan urusan tersebut kepada Allah. Hasil dari urusan tersebut sepenuhnya diserahkan kepada Allah, kita hanya berusaha dan berdoa. Hasil dari usaha itu ditentukan oleh Allah SWT

· Sikap menyerahkan diri kepada Allah dapat menghilang­kan stress dan kegelisahan jiwa. Apabila kita yakin bahwa Allah yang menentukan segala, maka kita menyerahkan keputusan akhir dari usaha kita tersebut kepada Allah. Manusia bisa berbuat tetapi Allah yang rPtemutuskan. Manusia tidak bisa memastikan hasil akhir dari usahanya walaupun semuanya telah diprediksi dan telah direncana­kan. Hasil usaha manusia terkadang meleset dari yang diharapkan, bahkan sebagian dari hasil usaha kita masih kelabu dan tidak jelas bagaimana bentuk akhir dari usaha tersebut.

· Sikap bertawakal kepada Allah akan menjadikan jiwa tenang dan akan menerima semua keputusan Allah tanpa perlu diikuti dengan kecewa kalau gagal dan sombong kalau berhasil. Sikap tawakal akan menghasilkan sikap sabar dan bersyukur dalam menerima hasil usaha.

Dalil

· Q. 3:159. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang betawakkal kepada-Nya.

· Q. 9:52. Katakanlah:" Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpa­kan kepadamu azab yang besar dari sisi-Nya, atau azab dengan tangan kami. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu".

17. La Mu'dhirra (Tiada Daya dan Kekuatan Selain Allah)

· Allah Maha Kuasa atas segala sesuatunya, termasuk berkuasa atas manusia, binatang, alam semesta dan langit bumi. Karena kekuasaanNya maka Allah sebagai tempat yang diminta perlindungannya. Dialah pencipta alam ini maka Dialah yang berkuasa terhadap alam ciptaanNya dan Dialah yang memiliki daya dan kekuatan.

· Sikap terhadap pernyataan tauhid ini adalah mengesakan segala kekuatan kepada Allah saja. Tidak ada yang dapat menyaingi kekuatan Allah.

Dalil

· Q. 6:17. Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.

18. Mustaani Bihi (Tiada YangDimohonkan PertolongannyaSelain Allah)

· Allah sebagai Pencipta dan sebagai Penolong kepada ciptaanNya. Manusia yang sangat terbatas kemampuannya memerlukan bantuan dan pertolongan dari Allah, oleh karena itu tempat manusia untuk memohon pertolongan adalah Allah saja.

Dalil

· Q. 1:5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

19. Ilallah (Kecuali Allah)

· Sikap tauhid kita adalah mengesakan segala kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki Allah hanya untuk Allah saja. Sikap tauhid kita terhadap penciptaan, dan sesembahan hanya kepada Allah saja. Tidak ada yang patut kita abdi kecuali Allah.

· Asma dan sifat Allah hanya miliki Allah. Kekuatan yang ada dalam asma dan sifatNya hanya Allah yang memiliki. Tiada yang diminta pertolongan kecuali Allah, tiada yang diharapkan kecuali Allah, tiada yang diminta perlindungan kecuali Allah. Sikap demikian akan sangat membantu kedamaian kehidupan di dunia, karena kita tidak perlu memikirkan sesuatu yang bukan urusan kita atau memikir­

kan sesuatu yang sulit dan komplek, lepaskan saja urusan ini kepada yang menentukan segala urusan yaitu Allah.

Ringkasan Dalil

· Tiada Ilah selain Allah

· Tiada Pencipta selain Allah (Q. 25:2)

· Tiada Pemberi rezki selain Allah (Q. 51:57-58)

· Tiada Pemilik selain Allah (Q. 4:131-132, 2:284)

· Tiada Raja[Iiada kerajaan selain untuk Allah (Q. b2:11,

36:83, 67:1, 3:189)

Tiada Pembuat hukum selain Allah (Q. 12:40, 6:114, 33:36,

28:68, 45:18, 42:20, 6:137)

· Tiada Pemerintah selain Allah (Q. 7:54)

· Tiada Pemimpin selain Allah (Q. 2:257)

· Tiada Yang Dicintai selain Allah (Q. 2:165)

· Tiada Yang Ditakuti selain Allah (Q. 2:40, 9:18)

· Tiada Yang Diharapkan selain Allah (Q. 94:8, 18:110)

· Tiada Yang memberi manfaat atau mudhorot selain Allah

(Q. 6:17)

· Tiada Yang menghidupkan atau mematikan selain Allah

(Q. 2:258)

· Tiada Yang mengabulkan permohonan selain Allah (Q.

2:186, 40:60)

· Tiada Yang melindungi selain Allah (Q. 16:98, 72:6)

· Tiada Yang wakil selain Allah (Q. 3:159, 9:52)

· Tiada daya dan kekuatan selain dari Allah

· Tiada Yang diagungkan selain Allah

· Tiada Yang dimohonkan pertolongannya selain Allah

(Q.1:5)

Saturday, 14 October 2017

Pentingnya dua kalimat syahadat

Pentingnya Dua Kalimat Syahadat

Sinopsis

Pentingnya syahadat (ahamiyah syahadah) perlu didedahkan kepada mad'u agar dapat betul-betul memahami syahadah secara konsep dan aplikasinya. Kenapa syahadahpenting kerana dengan bersyahadahseseorang boleh menyebutkan dirinya sebagai muslim, syahadah sebagai pintu bagi masuknya seseorang kedalam Islam. Kefahaman seorang muslim sangat bergantung kepada kefahamannya kepada syahadah. Dengan syahadah sebagai dasar, seorang muslim dapat melakukan perubahan-perubahan individu, keluarga ataupun masyarakat. Dalam sejarah nabi dan rasul, syahadah sebagai kalimah yang diperjuangkan dan kalimah inilah yang menggerakkan dakwah nabi dan rasul. Akhir sekali, dengan syahdah tentunya setiap muslim akan mendapatkan banyak pahala dan ganjaran yang besar dari Allah SWT.

Hasiyah

1.Ahamiyah syahadah (kepentingan bersyahadah)

Syahadatain adalah rukun Islam yang pertama. Kepentingan syahadah ini kerana syahadah sebagai dasar bagi rukun Islam yang lain dan bagi tiang untuk rukun Iman dan Dien. Syahadatain ini menjadi ruh, inti dan landasan seluruh ajaran Islam. Oleh sebab itu, sangat penting syahadah dalam kehidupan setiap muslim. Sebab-sebab kenapa syahadah penting bagi kehidupan muslim adalah:

· Pintu masuknya ajaran Islam

· Intisari ajaran Islam

· Dasar-dasar perubahan menyeluruh

· Halkikat dakwah para rasul

· Keutamaan yang besar

2.Madkhol ila Islam (pintu masuk ke dalam Islam)

Syarah

· Sahnya iman seseorang adalah dengan menyebutkan syahadatain

· Kesempurnaan iman seseorang bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahadatain

· Syahadatain membezakan manusia kepada muslim dan kafir

· Pada dasarnya setiap manusia telah bersyahadah Rubbubiyah di alam arwah, tetapi ini sahaja belum cukup, untuk menjadi muslim mereka harus bersyahadah Uluhiyah dan syahadah Risalah di dunia.

Dalil

· Hadits: Rasulullah SAW memerintahkan Mu'az bin Jabal untuk mengajarkan dua kalimah syahadah, sebelum pengajaran lainnya

· Hadits: Pernyataan Rasulullah SAW tentang misi Laailaha illa Llah dan kewajiban manusia untuk menerimanya

· Q: 47:19, Pentingnya mengerti, memahami, dan melaksanakan syahadatain. Manusia berdosa akibat melalaikan pemahaman dan pelaksanaan syahadatain

· Q: 37:35, Manusia menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap Laa ilaha illa Llah

· Q: 7:172, Manusia bersyahadah di alam arwah sehingga fitrah manusia mengakui keesaan Allah. Ini perlu disempurnakan dengan syahadatain sesuai ajaran Islam.

3.Kholaso ta'lim Islam (kefahaman muslim terhadap Islam)

Syarah

· Kefahaman muslim terhadap Islam bergantung kepada kefahamannya pada syahadatain. Seluruh ajaran Islam terdapat dalam dua kalimah yang sederhana ini.

· Ada 3 hal prinsip syahadatain: (1) Pernyataan Laa ilaha illa-Llah merupakan penerimaan penghambaan atau ibadah kepada Allah sahaja. Melaksanakan minhajilLah merupakan ibadah kepadaNya. (2). Menyebut Muhammad Rasulullah adalah tauladan dalam mengikuti MinhajilLah. (3). Penghambaan kepada Allah meliputi seluruh aspek kehidupan. Ia mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan masyarakatnya.

Dalil

· Q: 2:21, 51:56, Ma'na Laailaha illa-Llah adalah penghambaan kepada Allah. 21:25, Rasul diutus dengan membawa ajaran tauhid.

· Q: 33:21, Muhammad SAW adalah tauladan dalam setiap aspek kehidupan. 3: 31, aktifiti hidup hendaknya mengikuti ajaran Muhammad SAW.

· Q: 6:162, Seluruh aktiviti hidup manusia secara individu, masyarakat dan negara mesti ditujukan kepada mengabdi Allah SWT sahaja, 3: 19, 3:85, 45:18, 6:153, Islam adalah satu-satunya syariat yang diredhai Allah. Tidak dapat dicampur dengan syariat lainnya.

4.Asasul Inqilab (dasar-dasar perubahan)

Syarah

· Syahadatain mampu merubah manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, mahupun jalan hidupnya. Perubahan meliputi berbagai aspek kehidupan manusia secara individu atau masyarakat.

· Ada perbezaan penerimaan syahadatain pada generasi pertama umat Muhammad dengan generasi sekarang. Perbezaan tersebut disebabkan kefahaman terhadap makna syahadatain secara bahasa dan pengertian, sikap konsisten terhadap syahadah tersebut dalam pelaksanaan ketika menerima mahupun menolak.

· Umat terdahulu langsung berubah ketika menerima syahadatain. Sehingga mereka yang tadinya bodoh menjadi pandai, yang kufur menjadi beriman, yang bergelimang dalam maksiat menjadi taqwa dan abid, yang sesat mendapat hidayah. Masyarakat yang tadinya bermusuhan menjadi bersaudara di jalan Allah.

· Syahadatain dapat merubah masyarakat dahulu maka syahadatain pun dapat merubah umat sekarang menjadi baik.

Dalil

· Q: 6:122, Penggambaran Allah tentang perubahan yang terjadi pada para sahabat Nabi, yang dahulunya berada dalam kegelapan jahiliyah kemudian berada dalam cahaya Islam yang gemilang.

· 33:23, Perubahan individu contohnya terjadi pada Mus'ab bin Umair yang sebelum mengikuti dakwah rasul merupakan pemuda yang paling terkenal dengan kehidupan glamour di kota Mekkah tetapi setelah menerima Islam, ia menjadi pemuda sederhana yang da'i, duta rasul untuk kota Madinah. Kemudian menjadi syuhada Uhud. Saat syahidnya rasulullah membacakan ayat ini.

· 37:35 - 37, reaksi masyarakat Qurays terhadap kalimah tauhid 85:6 - 10, Reaksi musuh terhadap keimanan kaum mukminin terhadap Allah 18:2, 8:30, Musuh memerangi mereka yang konsisten dengan pernyataan Tauhid.

· Hadits: Laa ilaaha ilaLlah kalimat yang dibenci penguasa zalim dan kerajaan.

· Hadits: Mereka yang konsisten dengan syahadatain akan menang dan mereka yang memusuhinya akan kalah dan hancur.

· Hadits: Janji rasul bahwa kalimah tauhid akan memuliakan kaumnya.

5.Haqiqat dakwah rasul

Syarah

· Setiap Rasul semenjak nabi Adam AS hingga nabi besar Muhammad SAW membawa misi dakwahnya adalah syahadah

· Makna syahadah yang dibawa juga sama iaitu laa ilaaha ilalLah

· Dakwah rasul sentiasa membawa umat kepada pengabdian Allah sahaja

Dalil

· Q: 60:4, Nabi Ibrahim berdakwah kepada masyarakat untuk membawanya kepada pengabdian Allah sahaja.

· Q: 18:110, Para nabi membawa dakwah bahawa ilah hanya satu iaitu Allah sahaja

6.Fadailul A'dhim (ganjaran yang besar)

Syarah

· Banyak ganjaran-ganjaran yang diberikan oleh Allah dan dijanjikan oleh Nabi Muhammad saw.

· Ganjaran dapat berupa material ataupun moral./ Misalnya kebahagiaan di dunia dan di akhirat, rezeki yang halal dan keutamaan lainnya

· Keutamaan ini selalu dikaitkan dengan aplikasi dan implikasi syahadah dalam kehidupan sehari-hari

· Dielakkannya kita dari segala macam kesakitan dan keseksaan di dunia ataupun di akhirat.

Dalil

· Q: Allah SWT memberikan banyak keutamaan dan kelebihan bagi yang bersyahadah

· H: Allah SWT akan menghindarkan neraka bagi mereka yang menyebut kalimah syahadah

Ringkasan

Kepentingan syahadatain : (4:41, 2:143)

a.Pintu masuk ke dalam Islam : (a)
b.Intisari ajaran Islam : (b, 21:25)
c.Dasar-dasar perubahan total: (6:122, 13:11) peribadi dan masyarakat
d.Hakikat Dakwah para Rasul a.s : (21:25, 3:31, 6:19, 16:36)
e.Kelebihan yang besar

Thursday, 12 October 2017

Gerbang Kasih

Gerbang Kasih
Oleh: Efri Deplin

*****
Ana terharu sekali sore ini, ada siswa kita dari kelas 5A mengantarkan makanan berupa gorengan untuk berbuka puasa, pesannya adalah "ini untuk guru-guru iqra' 1" semoga semua guru iqra' 1 tadi menikmatinya dan ananda Ona serta keluarga dilimpahkan pahala yang besar atas ilmu yang diaplikasikannya dalam kehidupan nyata atas janji Allah yang pasti, semoga kebaikan untuk kita semua. Aamiin.. Baarakallahu fik

*****

Sore ini 12 Oktober 2017 adalah jadwal bulanan dengan agenda ifthor jamaai keluarga besar Yayasan Al Fida. Bertempat di unit SMAT IQRA' Kota Bengkulu, pukul 17.00 sudah penuh sesak menempati masjid besar komplek SMAIT IQRA'. Bidadari kecilku sejak tadi aktif sekali bermain bersama abangnya Abdullah. Karena hal itu maka aku bawa ia bermain di luar masjid. Kami duduk bercengkrama di saung nan indah di samping rumah Allah.

Tak lama kemudian mobil yang membawa bekal makan malam bakda berbuka sudah tiba. Kembali gadis kecil bidadariku merengek minta ini dan itu. Lalu kuajak ia pergi ke tempat duduk yang terletak di depan ruang kelas. Tempat duduk permanen dengan meja bundar nyaman sekali dipakai apalagi jika payungnya juga terpasang. SMAIT IQRA' memang Oke punya.

Tak lama di sana, arah telunjuk Tsamara mengajak aku ke gerbang sekolah. Materi "Kapal" di masjid sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Tiba-tiba mata ini tertuju pada berbincangan antara Ayah dan anaknya di luar pagar sekolah. Ayahnya melihatku dan ia memberikan isyarat kepada anaknya untuk menghampiriku. Oh iya dia Siswa di sekolah panggilannya Ona. Siswi cerdas dari kelas 5A.

Setelah ia memasuki gerbang sekolah Ona memberikan bungkusan berukuran sedang dan satu kotak berisi sesuatu. "Ustad afwan ini kami titip makanan" Ona menjelaskan. "Untuk siapa?" Aku bertanya. "Untuk guru-guru Iqra' 1 yang berpuasa hari ini" jawabnya ringan. Sejenak hati ini bergetar. "Ustad untuk yang di kotak ini nanti kotaknya dititip dengan Ustadzag Novi" tambahnya sambil berlalu. Akupun mengucapkan terima kasih kepada Ona dan memberi isyarat yang sama kepada Ayahnya. Ona da ayahnya pergi ku dan Tsamarapun berlalu.

Bungkusan itu kubawa dan kutemui ustzah Novi dan menjelaskan dari awal. "Oh.. iya tadi dia bertanya siapa saja guru kita yang berpuasa" tanggap ustadzah Novi.

Waktu berbuka pun tiba. Beberapa piring berisi gorengan dan donat ala rumahan tersaji menghias kiri dan kanan tempat duduk bersila. Semua terlihat menyukainya karena ini merupakan menu yang paling digemari dikalangan umum.

Ona, menjadi teladan dan kisah dari tulisan ini. Betapa niat yang ikhlas untuk berbagi menjadi motivasi dengan hadirnya ketulusan memberi. Bisa dirasakan ketika ia berkomunikasi. Dari kata-kata yang ia ucapkan dari dalam hati.

Semoga Ona dan keluarga diberikan rezeki yang berlimpah. Diberikan pahala yang besar atas niat baik yang suci. Sungguh Allah maha menepati janjinya dengan pahala yang tak berujung.

Tsamara terima kasih telah mengajak abi pergi ke gerbang kasih. Gerbang sekolah SMAIT IQRA' menjadi saksi atas kebaikan anak cucu adam dalam mengaplikasikan ilmu untuk kebaikan bersama. Baarakallahu fik.

Kompleks SMAIT IQRA' Kota Bengkulu
Kamis, 12 Oktober 2017

Wednesday, 11 October 2017

Hal-hal yang membatalkan Syahadat

Hal-hal yang Membatalkan Syahadat (Bagian 1)

Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat seseorang berarti telah mempersaksikan diri sebagai hamba Allah semata. Kalimat Lailaaha illallahu dan Muhammadur rasulullah selalu membekas dalam jiwanya dan menggerakkan anggota tubuhnya agar tidak menyembah selain Allah. Baginya hanya Allah sebagai Tuhan yang harus ditaati, diikuti ajaranNya, dipatuhi perintahnya, dan dijauhi laranganNya. Caranya bagaimana, lihatlah pribadi Rasulullah saw. sebab dialah contoh hamba Allah sejati.

Dalam pembukaan surat Al-Israa’, Allah telah mendeklarasikan bahwa Rasulullah saw. adalah hambaNya.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [QS. Al Israa’ (17): 1]

Begitu juga dalam pembukaan surat Al-Kahfi, Allah menegaskan bahwa Rasulullah adalah hambaNya yang mendapat bimbingan Al-Qur’an.

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya. [QS. Al-Kahfi (18): 1]

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa makna dua kalimat syahadat –yang intinya adalah tauhid—harus benar-benar tercermin dalam jiwa dan perbuatan orang yang mengikrarkannya. Dan bagi orang yang mengikrarkan syahadatain itu bentuk pengakuan dirinya sebagai hamba Allah. Sebagai hamba Allah, orang yang berikrar tadi tidak ada pilihan kecuali mencontoh pribadi Rasulullah saw. dalam segala sisi kehidupannya, baik dari sisi akidah dan ibadah, maupun sisi-sisi lainnya seperti sikapnya terhadap istri dan pelayannya di rumah, pergaulannya bersama-sahabatnya, akhlaknya dalam melakukan tansaksi bisnis dan kepemimpinannya sebagai kepala Negara. Kenapa? Karena Rasulullah adalah seorang hamba Allah sejati yang memang dibentuk sebagai figur ideal yang wajib dicontoh akhlaknya.

Untuk menjaga kemurnian tauhid, seperti yang dicontohkan Rasulullah saw., seorang hamba hendaknya menghindar jauh-jauh dari hal-hal yang merusak kemurnian tauhid sebagai cerminan dua kalimat syahadat tersebut. Setidaknya ada tiga hal yang bisa membatalkan syahadatnya, yaitu asy-syirku (menyekutukan Allah), al-ilhaadu (menyimpang dari kebenaran), dan an-nifaaku (berwajah dua, menampakkan diri sebagai muslim, sementara hatinya kafir).

Syirik (menyekutukan Allah)

Definisi syirik adalah lawan kata dari tauhid, yaitu sikap menyekutukan Allah secara dzat, sifat, perbuatan, dan ibadah. Adapun syirik secara dzat adalah dengan meyakini bahwa dzat Allah seperti dzat makhlukNya. Akidah ini dianut oleh kelompok mujassimah. Syirik secara sifat artinya seseorang meyakini bahwa sifat-sifat makhluk sama dengan sifat-sifat Allah. Dengan kata lain, mahluk mempunyai sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah. Tidak ada bedanya sama sekali.

Sedangkan syirik secara perbuatan artinya seseorang meyakini bahwa makhluk mengatur alam semesta dan rezeki manusia seperti yang telah diperbuat Allah selama ini. Sedangkan syirik secara ibadah artinya seseorang menyembah selain Allah dan mengagungkannya seperti mengagungkan Allah serta mencintainya seperti mencintai Allah. Syrik-syirik dalam pengertian tersebut, secara eksplisit maupun implisit, telah ditolak oleh Islam. Karenanya, seorang muslim harus benar-benar berhat-hati dan menghindar jauh-jauh dari syirik-syirik seperti yang telah diterangkan di atas.

Contoh bentuk-bentuk syirik ada banyak. Di antaranya, pertamamenyembah patung atau berhala (al-ashnaam). Allah swt. menyebutnya dalam ayat berikut ini.

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. Dan telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta. [QS. Al Hajj (22): 30]

Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai Bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?” [QS. Maryam (19): 42]

Menyembah matahari adalah bentuk syirik yang kedua. Allah menolak orang-orang yang menyebah matahari, bulan, dan atau bintang.

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. [QS. Al A’raaf (7): 54]

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”. [QS. Fushshilat (41): 37]

Bentuk syirik yang ketigaadalahmenyembah malaikat dan jin.

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan) bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan. [QS. Al An’aam (6): 100]

“Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat, “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab, “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka. Bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.”. [QS. Saba’ (34): 40-41]

Bentuk syirik keempat adalah menyembah para nabi, seperti Nabi Isa a.s. yang disembah kaum Nasrani dan Uzair yang disembah kaum Yahudi. Keduanya sama-sama dianggap anak Allah.

Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putera Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al masih itu putera Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?” [QS. At-Taubah (9): 30]

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah Al-Masih putera Maryam.” Padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. [QS. Al-Maidah (5): 72]

Bentuk syirik yang kelima adalah menyembah rahib atau pendeta. Allah berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Adi bin Hatim r.a. pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai hal tersebut, seraya berkata, “Sebenarnya mereka tidak menyembah pendeta atau rahib mereka.” Rasululah saw. menjawab, “Benar, tetapi para rahib atau pendeta itu telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, sementara mereka mengikutinya. Bukankah itu tindak penyembahan terhadap mereka?”

Bentuk syirik yang keenammenyembah Thaghuut. Istilah thaghuut diambil dari kata thughyaan artinya melampaui batas. Maksudnya, segala sesuatu yang disembah selain Allah. Setiap seruan para rasul intinya adalah mengajak kepada tauhid dan menjauhi thaghuut. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” [QS. An-Nahl (16): 36].

Dan tauhid yang murni tidak akan bisa dicapai tanpa menghindar dari menyembah thaghuut. Allah berfirman, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada thaghuut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. Al-Baqarah (2): 256]

Allah bangga dengan orang-orang beriman yang menjauhi thaghuut. “Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku.” [QS. Az-Zumar (39): 17]

Bentuk syirik yang ketujuh adalah menyembah hawa nafsu. Hawa nafsu adalah kecendrungan untuk melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu, mengutamakan keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan demikian ia telah mentaati hawa nafsunya dan menyembahnya. Allah berfirman, “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?” [QS. Al-Furqaan (25): 43]

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS. Al-Jatsiyah (45): 23]

Macam-macam Syirik

Ada dua macam syirik, yaitu syirik besar dan syirik kecil. Masing-masing dari kedua macam ini mempunyai dua dimesi: zhahir (tampak) dan khafiy(tersembunyi).

Syirik besar (asy-syirkul akbar) adalah tindakan menyekutukan Allah dengan makhlukNya. Dikatakan syirik besar karena pelakunya tidak akan diampuni dosanya dan tidak akan masuk surga. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia; dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisaa’ (4): 116]

Syirik besar ini dibagi dua dimensi: zhahir dan kafiy. Contoh syirik besat yang zhahir adalah seperti menyembah bintang, matahari, bulan, patung-patung, batu-batu, pohon-pohon besar, dan manusia (seperti menyembah Fir’un, raja-raja, Budha, Isa bin Maryam, malaikat, jin dan Setan). Sementara yang khafiy bisa dicontohkan seperti meminta kepada orang-orang yang sudah mati dengan keyakinan bahwa mereka bisa memenuhi apa yang mereka yakini, atau menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum, menghalalkan dan mengharamkan seperti yang seharusnya menjadi hak Allah swt.

Adapun syirik kecil (asy-syirkul ashghar) adalah suatu tindakan yang mengarah kepada syirik, tetapi belum sampai ke tingkat keluar dari tauhid, hanya saja mengurangi kemurniannya. Syirik kecil juga dua dimensi: dzahir dan khafiy. Yang zhahir bisa berupa lafal (pernyataan) dan perbuatan.

Contoh yang berupa lafal adalah bersumpah dengan nama selain Allah dan mengarah ke syirik seperti “demi Nabi, demi Ka’bah, demi kakek dan nenek.” Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Man halafa bighairillahi faqad kafara wa asyraka(siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka ia kafir dan musyrik).” (HR. Turmidzi nomor 1535). Termasuk lafal yang mengarah ke syirik pernyataan, “Kalau tidak karena Allah dan si fulan niscaya ini tidak akan terjadi.” Contoh yang lain adalah memberikan nama anak dengan Abdul Ka’bah dan lain sebagainya.

Adapun contoh syirik kecil zhahir yang berupa perbuatan seperti mengalungkan jimat dengan keyakinan bahwa itu bisa menyelamatkan dari mara bahaya.

Syirik kecil yang khafiy biasanya berupa niat atau keinginan, seperti riya’ dan sum’ah. Yaitu melakukan tindak ketaatan kepada Allah dengan niat ingin dipuji orang. Seperti menegakkan shalat dengan tampak khusyu’ karena sedang di samping calon mertua. Seseorang berbuat seperti itu dengan harapan supaya dipuji sebagai orang shalih. Padahal di saat sendirian, shalatnya tidak demikian. Riya’ adalah termasuk dosa hati yang sangat berbahaya. Karena itu, Islam sangat memperhatikan sebab perbuatan hati adalah faktor yang menentukan bagi baik tidaknya perbuatan zhahir.

Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” [QS. Al-Baqarah (2): 264]

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Man samma’a sammallahu bihiiwaman yaraa’ii yaraaillahu bihii (siapa yang menampakkan amalnya dengan maksud riya’ Allah akan menyingkapnya di hari Kiamat, dan siapa yang menunjukkan amal shalihnya dengan maksud ingin dipuji orang, Allah mengeluarkan rahasia tersebut di hari Kiamat).” (HR. Bukhari 11/288 dan Muslim nomor 2987)

Bahaya-bahaya Syirik

Perbuatan syirik sangat berbahaya. Berikut ini beberapa bahaya yang akan menimpa orang-orang pelaku syirik.

Pertama, syirik adalah kezhaliman yang nyata. Allah berfirman, “Innasy syirka ladzlumun adziim(sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar).” [QS. Luqman (31): 13]. Mengapa disebut kezhaliman yang besar? Sebab dengan berbuat syirik seseorang telah menjadikan dirinya sebagai hamba makhluk yang sama dengan dirinya yang tidak berdaya apa-apa.

Kedua, syirik merupakan sumber khurafat. Sebab, orang-orang yang meyakini bahwa selain Allah –seperti bintang, matahari, kayu besar dan lain sebagainya– bisa memberikan manfaat atau bahaya, berarti ia telah siap melakukan segala khurafatdengan mendatangi para dukun, kuburan-kuburan angker, dan mengalungkan jimat di lehernya.

Ketiga, syirik adalah sumber ketakutan dan kesengsaraan. Allah berfirman, “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim.” [QS. Ali Imran (3): 151]

Keempat, syirik merendahkan derajat kemanusiaan si pelakunya. Allah berfirman, “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [QS. Al-Hajj (22): 31]

Kelima, syirik menghancurkan kecerdasan manusia. Allah berfirman, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafa`at kepada kami di sisi Allah.’ Katakanlah, ‘Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?’ Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).” [QS. Yunus (10): 18]

Keenam, di akhirat nanti orang-orang musyrik tidak akan mendapatkan ampunan Allah dan akan masuk neraka selama-lamanya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [QS. An-Nisaa’ (4): 116]

Allah juga berfirman, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [QS. Al-Maidah (5): 72]

Sebab-sebab Syirik

Ada tiga sebab fundamental munculnya prilaku syirik, yaitu al-jahlu (kebodohan), dha’ful iiman (lemahnya iman), dan taqliid (ikut-ikutan secara membabi-buta).

Al-jahlu sebab pertama perbuatan syirik. Karenanya masyarakat sebelum datangnya Islam disebut dengan masyarakat jahiliyah. Sebab, mereka tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kondisi yang penuh dengan kebodohan itu, orang-orang cendrung berbuat syirik. Karenanya semakin jahiliyah suatu kaum, bisa dipastikan kecendrungan berbuat syirik semakin kuat. Dan biasanya di tengah masyarakat jahiliyah para dukun selalu menjadi rujukan utama. Mengapa? Sebab mereka bodoh, dan dengan kobodohannya mereka tidak tahu bagaimana seharusnya mengatasi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Ujung-ujungnya para dukun sebagai narasumber yang sangat mereka agungkan.

Penyebab kedua perbuatan syirik adalah dha’ful iimaan (lemahnya iman). Seorang yang imannya lemah cendrung berbuat maksiat. Sebab, rasa takut kepada Allah tidak kuat. Lemahnya rasa takut kepada Allah ini akan dimanfaatkan oleh hawa nafsu untuk menguasai diri seseorang. Ketika seseorang dibimbing oleh hawa nafsunya, maka tidak mustahil ia akan jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syirik seperti memohon kepada pohonan besar karena ingin segera kaya, datang ke kuburan para wali untuk minta pertolongan agar ia dipilih jadi presiden, atau selalu merujuk kepada para dukun untuk suapaya penampilannya tetap memikat hati orang banyak.

Taqliid sebab yang ketiga. Al-Qur’an selalu menggambarkan bahwa orang-orang yang menyekutukan Allah selalu memberi alasan mereka melakukan itu karena mengikuti jejak nenek moyang mereka. Allah berfirman, “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, ‘Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” [QS. Al-A’raf (7): 28]

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” [QS. Al-Baqarah (2): 170]

Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” [QS. Al-Maidah (5): 104]

Wednesday, 4 October 2017

Syarat Diterimanya Dua Kalimat Syahadat

Dua kalimat syahadat memiliki beberapa syarat, yaitu:

1. Ilmu (العلم)

Maksudnya adalah ilmu tentang makna kalimat syahadat yang mengandung peniadaan dan penetapan, yang menghilangkan kebodohan tentang hal tersebut.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, ada yang tidak ada Tuhan (Yang Hak) dilatih Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu . "(QS. Muhammad: 19)

إلا من شهد بالحق وهم يعلمون

"... kecuali orang yang naik al-haq dan mereka mengetahui (mengilmui) ." (QS. Az-Zukhruf: 86)

Al-haq di sini maksudnya adalah kalimat laa ilaaha illallaah dan mereka mengetahui (mengilmui) dengan hati mereka akan makna kalimat yang penting lisan mereka.Disebutkan dalam Shohih Bukhari, dari Utsman bin Affan radhiallahu'anhu mengatakan , Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda,

من مات وهو يعلم أنه لا إله إلا الله دخل الجنة

“ Barang siapa Yang Meninggal Dan dia mengetahui (mengilmui) bahwa tiada sesembahan Yang berhak disembah kecuali Allah niscaya Pasti Masuk Surga.”

2. Yakin (اليقين)

Maksudnya adalah keyakinan yang menghilangkan keraguan, jadi setiap orang yang mengucapkan kalimat syahadat yakin dengan apa yang dikandung oleh kalimat ini secara pasti. Karena sebenarnya keimanan itu tidak akan bermanfaat dengan ilmu yang yakin, bukan prasangka, maka bagaimana jika terjadi gangguan? (Tentu lebih tidak bisa diterima-pent.)

Allah ' azza wa jalla berfirman ,

إنما المؤمنون الذين آمنوا بالله ورسوله ثم لم يرتابوا وجاهدوا بأموالهم وأنفسهم في سبيل الله أولئك هم الصادقون

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya maka mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itu orang-orang yang benar ." (QS. -Hujurot: 15)

Maka total iman kepada Allah dan Rasul-Nya dipersyaratkan dengan keimanan yang tidak ada keraguan. Adapun orang yang ragu termasuk golongan orang munafik, semoga Allah melindungi kita.

Dalam Shohih Bukhari, dari hadits Abu Hurairoh radhiallahu'anhu , dia berkata: Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda,

أشهد أن لا إله إلا الله وأني رسول الله, لا يلقى الله بهما عبد غير شاك فيهما فيحجب عنه الجنة

Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Nya, tidak lah ada hamba yang berjumpa dengan Allah dengan kalimat itu tanpa keraguan maka surga akan melingkupi nya (masuk surga )."

3. Menerima (القبول)

Maksudnya adalah menerima apa yang terkandung dari kalimat syahadat tersebut dengan hati dan lisannya.

Allah ' azza wa jalla berfirman,

إلا عباد الله المخلصين أولئك لهم رزق معلوم فواكه وهم مكرمون في جنات النعيم

"... kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Mereka itu menghasilkan rezeki yang tertentu. Yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan. Di dalam surga-surga yang penuh nikmat. "(QS Shoffat: 40-43)

من جاء بالحسنة فله خير منها وهم من فزع يومئذ آمنون

Barang siapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang itu mereka adalah orang-orang yang aman tenteram dari kejutan yang dahsyat pada hari itu. "(QS An-Naml: 89)

Dalam Shohih Bukhari, dari Abu Musa radhiallahu'anhu , dari Nabi shalallahu 'alaihi wa salam , beliau bersabda:

مثل ما بعثني الله به من الهدى والعلم كمثل الغيث الكثير أصاب أرضا فكان منها نقية قبلت الماء فأنبتت الكلأ والعشب الكثير, وكانت منها أجادب أمسكت الماء فنفع الله بها الناس فشربوا وسقوا وزرعوا, وأصاب منها طائفة أخرى إنما هي قيعان لا تمسك ماء ولا تنبت كلأ, فذلك مثل من فقه في دين الله ونفعه ما بعثني الله به فعلم وعلم, ومثل من لم يرفع بذلك رأسا ولم يقبل هدى الله الذي أرسلت به

"Sesungguhnya permisalan Allah Azza wa Jalla dengan apa-apa yang ada dari petunjuk dan ilmu ini adalah hujan yang membasahi bumi. Ada di antara bumi yang subur, ia bisa menerima udara, menumbuhkan pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan yang banyak. Ada pula bumi yang tidak subur, ia tidak bisa menerima air tesebut, namun Allah memberikan manfaat bagi manusia, sampai mereka dapat minum darinya dan menggembalakan ternaknya. Dan ada pula bumi lain yaitu padang pasir yang tidak bisa menerima udara dan tidak pula dapat menumbuhkan pohon-pohonan. Maka demikianlah permisalan bagi siapa yang paham terhadap agama Allah dan dapat mengambil manfaat dari apa-apa yang Allah mengutusku warna maka dia mengetahui dan menerapkannya.

4. Taat / patuh (الانقياد)

Maksudnya adalah kepatuhan terhadap apa yang dikandung oleh kalimat syahadat dan tidak menyelisihinya.

Allah ' azza wa jalla berfirman,

وأنيبوا إلى ربكم وأسلموا له من قبل أن يأتيكم العذاب ثم لا تنصرون

Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kamu maka kamu tidak bisa ditolong (lagi). "(QS Az-Zumar: 54)

Pengikut

Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang ikhlas Menerapkannya kepada Allah, sedang dia sedang melakukan kebaikan, dan ia sedang mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. "(QS An-Nisaa: 125)

ومن يسلم وجهه إلى الله وهو محسن فقد استمسك بالعروة الوثقى وإلى الله عاقبة الأمور

Dan barang siapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah, sedang dia orang yang bersama kebaikan, maka sesungguhnya ia sudah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. "(QS Luqman: 22)

Maksud dari " berpegang kepada buhul tali yang kokoh " adalah berpegang pada kalimat laa ilaaha illallaah dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. Dengan makna " Menerapkan " adalah taat. Yang makna " sedang dia orang yang bersama kebaikan " adalah orang yang bertauhid.

5. Jujur (الصدق)

Yakni kejujuran yang menolak kedustaan, maksudnya adalah ucapan kalimat syahadat dengan jujur ​​dari hati dan lisannya.

Allah ' azza wa jalla berfirman,

الم أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون ولقد فتنا الذين من قبلهم فليعلمن الله الذين صدقوا وليعلمن الكاذبين

Alif laam miim Apakah manusia itu mereka yang dibiarkan (tadi) mengatakan:" Kami telah beriman ", sedang mereka tidak lagi? Dan sesungguhnya Kami telah mengulangi orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. "(QS Al-Ankabut: 1-3)

Dalam Shahih Bukhori dan Shahih Muslim, dari Mu'adz bin Jabal radhiallahu'anhu , dari Nabi shalallahu 'alaihi wa salam , beliau bersabda:

ما من أحد يشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صدقا من قلبه إلا حرمه الله على النار

Tidak seorang pun yang bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya secara jujur ​​dari hati pelaut Allah akan haramkan diri dari neraka."

6. Ikhlas (الإخلاص)

Maksud ikhlas adalah memurnikan amal dengan niat yang benar dari segala bentuk kesyirikan.

Allah ' azza wa jalla berfirman:

ألا لله الدين الخالص والذين اتخذوا من دونه أولياء ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى إن الله يحكم بينهم في ما هم فيه يختلفون إن الله لا يهدي من هو كاذب كفار

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka pelelangan yang mereka buatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekat". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih.Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar "(QS Az-Zumar: 3)

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة

Lepaskan mereka tidak disuruh kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan menyelaraskan mereka zakat; dan yang memang agama yang lurus. "(QS Al-Baiyinah: 5)

Dalam Shohih Bukhari, dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu , dari Nabi shalallahu 'alaihi wa salam , beliau bersabda:

أسعد الناس بشفاعتي من قال لا إله إلا الله خالصا من قلبه أو نفسه

Manusia yang paling bahagia dengan syafaatku adalah mereka yang mengucapkan laa ilaha illall ah ikhlas dari hati atau jiwanya."

7. Cinta (المحبة)

Maksudnya adalah cinta kalimat syahadat dan apa yang dituntut dan dikandungnya, mencintai orang-orang yang mengamalkan kandungannya, mencintai orang yang teguh menjaga syarat-syaratnya, dan membenci pembatalnya.

Allah berfirman,

ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله والذين آمنوا أشد حبا لله ولو يرى الذين ظلموا إذ يرون العذاب أن القوة لله جميعا وأن الله شديد العذاب

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang bersama lalim itu mengetahui kapan mereka melihat siksa (pada hari kiamat), apakah kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan milik Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). "(QS Al-baqarah: 165)

Tanda kecintaan hamba kepada Rabb- nya adalah mendahulukan kecintaan Rabb - nya hawa nafsunya, membenci apa yang dibenci Rabb- nya walaupun hawa nafsunya mencintainya, setia kepada orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya dan memusuhi orang yang dimusuhi oleh Allah dan Rasul- Nya, dan para Rasul dan berpegang pada jalannya serta menerima petunjuknya. Seluruh tanda-tanda ini merupakan syarat-syarat adanya kecintaan, tidak akan terwujud kecintaan sempurna jika hilang satu syarat darinya.

Dan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda,

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما, وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله, وأن يكره أن يعود في الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار

Tiga perkara barang yang perkara itu ada pada dia maka dia akan merasakan manisnya keimanan, Allah dan RasulNya lebih dia cinta sama sekali, seseorang yang saling mencintai karena Allah, dan membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia darinya siap dia membenci untuk dihempaskan ke dalam neraka. " (HR Al Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik).

Beberapa ulama menambahkan syarat yang kedepalannya mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah (thogut), berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam ,

من قال لا إله إلا الله وكفر بما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله عز جل

Barang siapa yang mengucapkan laa ilaha illa Allah dan mengingkari apa yang diibadati selain Allah Allah haramkan harta, darah, dan hisabnya. "(HR Muslim)

Maka itu semestinya terjaganya darah dan harta dengan kalimat laa ilaha illa Allah bersama dengan pengingkaran terhadap segala sesuatu yang disembah selain Allah, apa pun itu.

***

Sumber: https://islamqa.info/ar/9104

Penerjemah: dr. Abdiyat Sakrie

Artikel Muslim.or.id

Sumber: https://muslim.or.id/28007-7-syarat-diterimanya-dua-kalimat-syahadat.html

4 Tips Donor Darah Saat Puasa

Donor darah menjadi trend gaya hidup sehat masa kini. Selain memenuhi kebutuhan hidup para penggunanya, donor darah menjadi sebuah kebutuhan...