Saturday, 22 April 2017

Kemana Hati Ini Diserahkan

KEMANA HATI INI DISERAHKAN ?

Pada musim pilpres yang lalu, pada mulanya saya mendukung Pak Jokowi, hanya lantaran saya menyaksikan Pak Jokowi hadir duduk lesehan di lapangan untuk nonton Opera van Java, di Solo. Kesan merakyat itu melekat dalam benak saya. Dan ketika, ada pilkada 2012, saya masih menjagokan paslon Jokowi - Ahok waktu saya saksikan debat di televisi.

Kemudian saya tidak begitu perhatian pada dunia politik.

Namun dalam perkembangannya, saya menjadi netral, dan kemudian benak saya malah bergerak untuk mendukung Pak Prabowo.

Ada kekecewaan saat saya tahu bahwa Pak Prabowo kalah pada pilpres saat itu.

Walaupun demikian, sebelum banyak orang tahu, tentang hasil di KPU, saya beruntung tahu duluan, dan saat itu pula saya memberikan ucapan selamat, kepada para pendukung Pak Jokowi.

Kepada pendukung Pak Prabowo, saya berusaha untuk memberikan hiburan walau hanya melalui status-status saya di FB.

Walau even pilpres lebih besar dari even pilkada DKI, namun menariknya saya tidak menyaksikan apa yang saya saksikan sekarang, yaitu banyak beredar video-video, teman2 pendukung Ahok, yang nampak mengalami strees, baik ringan maupun berat.

Apa mungkin karena saat itu, HP belum begitu canggih sehingga agak kesulitan untuk posting video.

Hanya ada satu hal yang ingin saya sampaikan, khusus untuk saya sendiri, mungkin juga teman2 yang lain, bahwa kami bukan pendukung fanatik setiap figur, baik Pak Prabowo maupun Pak Anies.

Walaupun mungkin para pendukung kedua tokoh itu cukup bahkan sangat militan.

Artinya bisa saja dukungan kami berubah kepada tokoh lain, ketika tokoh lain tersebut mencerminkan idealisme yang tersimpan di benak kami.

Saya misalnya, tertarik pada tokoh Tuan Guru Bajang, setelah menyaksikan beberapa videonya, dan ada kemungkinan akan mendukung bila mencalonkan menjadi presiden.

Walau tentu, kami paham bahwa kami harus berjamaah, artinya dukungan yang sebenarnya baru diberikan setelah diputuskan sebagai calon.

Dengan demikian tidak ada fanatisme yang berlebihan kepada tokoh-tokoh politik. Dan walau kami kecewa bila calon kami kalah, tidak akan menimbulkan stress berat.

Itulah sebabnya saya menjadi terharu ketika menyaksikan beberapa pendukung Ahok sampai mengalami stress baik ringan maupun berat hanya karena Ahok kalah.

Saya mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam diri orang-orang itu, walau karena hanya pengamatan sekilas bisa jadi ini salah.

Dari Carolyn, cewek yang mengenakan busana minim, misalnya, ia nampak strees, dengan menunjukkan kecintaan yang begitu besar kepada Ahok. Dari perkataannya nampak nya dia beragama Islam.

Dari sttaus-status nya yang lain di dinding FB nya, saya mendapatkan kesimpulan bahwa dia berharap besar kepada Ahok, untujk membuktikan atau membenarkan apa yang tersimpan dalam benaknya bahwa walau tidak menjadi penganut agama yang taat pun (dalam hal ini Islam), seseorang bisa menjadi orang baik.

Jadi sesuai dengan hasrat alamiah manusia umumnya, seyiap orang tentu ada  hasrat dalam dirinya untuk menjadi orang yang bermanfaat dan orang baik.

KEMANA HATI DISERAHKANPada musim pilpres yang lalu, pada mulanya saya mendukung Pak Jokowi, hanya lantaran saya menyaksikan Pak Jokowi hadir duduk lesehan di lapangan untuk nonton Opera van Java, di Solo. Kesan merakyat itu melekat dalam benak saya. Dan ketika, ada pilkada 2012, saya masih menjagokan paslon Jokowi - Ahok waktu saya saksikan debat di televisi. Kemudian saya tidak begitu perhatian pada dunia politik.Namun dalam perkembangannya, saya menjadi netral, dan kemudian malah bergerak untuk mendukung Pak Prabowo.Ada kekecewaan saat saya tahu bahwa Pak Prabowo kalah pada pilpres saat itu. Walaupun demikian, sebelum banyak orang tahu, tentang hasil di KPU, saya beruntung tahu duluan, dan saat itu pula saya memberikan ucapan selamat, kepada para pendukung Pak Jokowi.Kepada pendukung Pak Prabowo, saya berusaha untuk memberikan hiburan walau hanya melalui status-statsu saya di FB.Walau even pilpres lebih besar dari even pilkada DKI, namun saya tidak menyaksikan apa yang saya saksikan sekarang, yaitu banyak beredar video-video, teman2 pendukung Ahok, yang nampak mengalami strees, baik ringan maupun berat.Apa mungkin karena saat itu, HP belum begitu canggih sehingga agak kesulitan untuk posting video.Hanya ada satu hala yang ingin saya sampaikan, khusus untuk saya sendiri, mungkin juga teman2 yang lain, bahwa kami bukan pendukung fanatik setiap figur, baik Pak Prabowo maupun Pak Anies. Walaupun mungkin para pendukung kedua tokoh itu cukup militan.Artinya bisa saja dukungan kami berubah kepada tokoh lain, ketika tokoh lain tersebut mencerminkan idealisme yang tersimpan di benak kami. Saya misalnya, tertarik pada tokoh Tuan Guru Bajang, setelah menyaksikan beberapa videonya, dan ada kemungkinan akan mendukung bila mencalonkan menjadi presiden.Walau tentu, kami paham bahwa kami harus berjamaah, artinya dukungan yang sebenarnya baru diberikan setelah diputuskan sebagai calon.Dengan demikian tidak ada fanatisme yang berlebihan kepada tokoh-tokoh politik. Dan walau kami kecewa bila calon kami kalah, namun tidak akan menimbulkan stress berat ketika tidak jadi.Itulah sebabnya saya menjadi terharu ketika menyaksikan beberapa pendukung Ahok sampai mengalami stress baik ringan maupun berat hanya karena Ahok kalah.hasrat keberserahan diri kepada Sang Pemilik Alam semesta, membuat
Fb. Hermawan Wibisono

No comments:

Post a comment

Terima kasih atas kunjungannya semoga menginspirasi jangan lupa tulis komentarmu di kolom komentar dan dapatkan informasi terbaru di setiap postingan. Jangan lupa follow akun Instagram @efrideplin dan Twitter @efrideplin87 juga YouTube Efri Deplin. Terima kasih semoga menginspirasi.

4 Tips Donor Darah Saat Puasa

Donor darah menjadi trend gaya hidup sehat masa kini. Selain memenuhi kebutuhan hidup para penggunanya, donor darah menjadi sebuah kebutuhan...