Tuesday, 29 January 2019

Islam Melindungi Nyawa dan Harta 2

tulisan ini saya sadur dari http://www.ilmusyari.com/2016/01/kehormatan-darah-dan-harta-muslimin.html


Kehormatan Darah dan Harta Muslimin (Hadits ke-8 Arbain Nawawi)

Kajian Hadits: Syarh Arbain anNawawiyyah


HADITS KE 8



عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللّهِ رواه البخاري ومسلم



Dari Ibnu Umar –semoga Allah meridlai keduanya (Ibnu Umar dan ayahnya)- bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia (orang musyrik selain Ahlul Kitab) hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, dan menegakkan sholat, menunaikan zakat, jika mereka melakukan hal tersebut, terjagalah dariku darah dan hartanya kecuali dengan hak Islam. Sedangkan perhitungannya di sisi Allah (H.R alBukhari dan Muslim)



TEMA : Kehormatan Darah dan Harta Kaum Muslimin



PENJELASAN UMUM: 



Dalam hadits ini Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam diperintah oleh Allah untuk memerangi orang-orang musyrik hingga mereka melakukan 3 hal : 



1. Bersaksi (syahadat) bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah dan Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam adalah utusan Allah.



2. Menegakkan sholat-sholat wajib.



3. Menunaikan zakat.



Kalau mereka sudah melaksanakan 3 hal tersebut, niscaya mereka telah masuk ke dalam Islam dan tidak boleh diperangi. Kaum muslimin wajib dijaga darahnya (tidak boleh dibunuh dan dilukai), hartanya (tidak boleh dirampas, ditipu, dan didzholimi).



Itu adalah hukum bagi mereka secara lahiriah (yang nampak dari ucapan dan perbuatan mereka). Hal-hal yang tersembunyi dalam hati (misalkan mereka terpaksa melakukan 3 hal itu dengan penuh kebencian dan memendam kemunafikan), diserahkan kepada Allah. Kaum muslimin yang lain hanyalah menerapkan hukum berdasarkan apa yang nampak secara lahiriah (dzhahir), perhitungan batiniah diserahkan kepada Allah. Kalau mereka secara lahir menampakkan Islam, sedangkan secara batin memendam kebencian/ kemunafikan, tetap diperlakukan sebagai kaum muslimin (terjaga darah, harta, dan kehormatannya) karena Allah tidak memerintahkan kaum muslimin untuk menggali isi hati manusia, tapi di dunia mereka diperlakukan sesuai ucapan dan perbuatan lahiriah mereka.



Ucapan Nabi : Aku Diperintah...



Jika dalam lafadz-lafadz hadits, terdapat kalimat : 



أُمِرْتُ

Aku diperintah...



Artinya adalah Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam diperintah (diberi wahyu) oleh Allah.



Sedangkan jika dalam lafadz-lafadz hadits terdapat perkataan Sahabat Nabi yang menyatakan : Kami diperintah, itu artinya para Sahabat diperintah oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam . Dalam ilmu hadits, hukumnya adalah marfu’ meski secara lafadz adalah mauquf (hukumnya adalah hukum dari Nabi bukan sekedar ijtihad seorang Sahabat).



Makna ‘Manusia’ dalam Hadits



Dalam hadits tersebut dinyatakan : Aku diperintah untuk memerangi ‘manusia’. ‘Manusia’ yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah orang-orang musyrik. Sebagaimana hadits riwayat anNasaai :



أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَإِذَا شَهِدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَصَلَّوْا صَلَاتَنَا وَاسْتَقْبَلُوا قِبْلَتَنَا وَأَكَلُوا ذَبَائِحَنَا فَقَدْ حَرُمَتْ عَلَيْنَا دِمَاؤُهُمْ وَأَمْوَالُهُمْ إِلَّا بِحَقِّهَا 

Aku diperintah untuk memerangi kaum musyirikin sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Jika mereka telah bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya, sholat seperti sholat kita, menghadap ke arah kiblat kita, memakan daging sesembelihan kita, maka telah terjaga dari kita darah dan harta mereka kecuali dengan haknya (aturan syariat Islam)(H.R anNasaai dari Anas bin Malik).


Sikap terhadap orang musyrik (selain Ahlu Kitab) – jika kaum muslimin memiliki kekuatan dan kemampuan- adalah memerangi mereka hingga tersisa dua pilihan: masuk Islam dan menjalankan konsekuensinya, atau terus diperangi.



Terhadap orang-orang Ahlul Kitab ada 3 pilihan : masuk Islam, membayar jizyah, atau terus diperangi. 



Orang Kafir yang Tidak Boleh Dibunuh



Terdapat 3 jenis orang kafir yang tidak boleh dibunuh :



1. Kafir adz-Dzimmi (orang-orang kafir Ahlul Kitab yang hidup di negeri kaum muslimin dengan aman dan membayar jizyah).



Dalilnya: Qur’an surat atTaubah ayat 29.



2. Kafir al-Mu’ahad (orang-orang yang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin untuk tidak saling memerangi). Seperti orang-orang musyrikin yang terlibat perjanjian Hudaibiyyah dengan Nabi untuk tidak saling memerangi.



3. Kafir al-Musta’min (orang-orang kafir yang masuk ke dalam negeri kaum muslimin dengan jaminan keamanan dari pemerintah muslim atau jaminan keamanan dari satu orang saja dari kaum muslimin). Dalilnya : Qur’an surat atTaubah ayat 6.



Ketiga jenis orang kafir ini darahnya terjaga, tidak boleh ditumpahkan. Barangsiapa yang membunuh orang kafir jenis ini, maka ia harus :



a. Membayar diyat, jika ahli warisnya bukan orang kafir harbi (yang memerangi kaum muslimin).



Pembahasan tentang diyat secara panjang lebar terdapat dalam kitab fiqh. Sebagai contoh: diyat untuk orang kafir Ahlul Kitab adalah setengah dari diyat muslim. Diyat seorang muslim merdeka adalah 1000 mitsqal emas (sekitar 4200 kg emas), atau 100 unta, atau 200 sapi, atau 2000 kambing. (Sungguh besar sekali nominal diyat yang harus dibayar!!).



b. Membayar kaffarat : memerdekakan budak mukmin atau berpuasa 2 bulan berturut-turut. Pendapat keharusan membayar kaffarat ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) Ulama’ dan dipilih juga oleh Syaikh al-Utsaimin. 



Pemerintah Muslim Memerangi Orang yang Tidak Berzakat


Pada masa kekhalifahan Abu Bakr terdapat orang-orang yang enggan menyerahkan zakat. Maka Abu Bakr bertekad untuk memerangi mereka. Namun sempat dicegah oleh Umar bin al-Khottob dengan menyatakan : Apakah engkau akan memerangi orang yang mengucapkan syahadat Laa Ilaaha Illallaah? Padahal Nabi bersabda: Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. Barangsiapa yang bersaksi demikian maka akan terjaga dariku harta dan jiwanya kecuali dengan haknya dan perhitungan (hisabnya) ada di sisi Allah. Abu Bakr menyatakan : Demi Allah, sungguh-sungguh aku akan perangi orang-orang yang memisahkan antara sholat dengan zakat (mau sholat tapi tidak mau zakat), karena sesungguhnya zakat adalah hak harta. Demi Allah, kalau seandainya mereka tidak memberikan kepadaku tali untuk menggiring binatang ternak zakat yang biasa mereka berikan pada Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam, niscaya aku akan perangi mereka.



Hingga kemudian Umar bisa menerima hujjah yang disampaikan Abu Bakr dan mendukungnya (kisah tersebut terdapat dalam Shahih alBukhari dan Muslim).



CATATAN :



Abu Bakr dan Umar -semoga Allah meridhai mereka berdua- sama-sama mendengar hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dengan lafadz: Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah. Barangsiapa yang bersaksi demikian maka akan terjaga dariku harta dan jiwanya kecuali dengan haknya dan perhitungan (hisabnya) ada di sisi Allah.



Lafadz hadits yang didengar oleh mereka berdua tidak ada tambahan keterangan : menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Karena itu Umar mencegah Abu Bakr dan menganggap kalau orang sudah bersyahadat maka ia tidak boleh diperangi. Namun Abu Bakr memiliki pemahaman yang lebih dibandingkan Umar dalam memahami hadits tersebut. Dalam lafadz hadits yang sama-sama mereka ketahui itu, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam memberikan perkecualian : …kecuali dengan haknya. Maka Abu Bakr memahami bahwa hak harta adalah zakat. Barangsiapa yang tidak menunaikannya, maka ia telah masuk dalam perkecualian itu dan bisa diperangi. Hujjah Abu Bakr ini kuat dan akhirnya Umar bisa menerima.



Sedangkan Sahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yang lain mendengar hadits dari Nabi dengan lafadz yang lebih lengkap, bahwa orang yang diperangi tidak hanya karena bersyahadat, tapi juga menegakkan sholat dan menunaikan zakat. Seperti pada riwayat Ibnu Umar -semoga Allah meridhai mereka berdua- dalam hadits yang kita bahas ini dan juga riwayat Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya-.



FAIDAH :

Hal tersebut menunjukkan bahwa kadangkala beberapa lafadz suatu hadits tidak diketahui oleh beberapa Sahabat, namun diketahui oleh Sahabat yang lain. Meski Sahabat yang tidak mendengar itu termasuk Sahabat yang lebih dulu masuk Islam, lebih besar keutamaannya, dan lebih sering bersama-sama Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam (faidah disarikan dari Fathul Qowiyy al-Matiin karya Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad).


Kemulyaan Darah, Harta, dan Kehormatan Kaum Muslimin



Dalam hadits ini disebutkan 2 hal kemuliaan kaum muslimin, yaitu : darah dan hartanya. Dalam ayat dan hadits-hadits lain menunjukkan 1 hal tambahan kemulyaan kaum muslimin adalah pada kehormatan.



Seperti hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam pada saat Haji Wada’ :



فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا 

Sesungguhnya harta, darah, dan kehormatan kalian adalah haram (dinodai kemulyaannya) di antara kalian, sebagaimana haram (kemulyaan) hari ini, di bulan ini, di negeri ini (H.R Muslim).


Darah saudara muslim adalah haram bagi kita. Mereka tidak boleh dilukai atau bahkan dibunuh. Harta saudara muslim adalah haram bagi kita. Tidak boleh dicuri, dirampas, ditipu, atau dipinjam uangnya dengan niat tidak dikembalikan. Kehormatan saudara muslim adalah haram bagi kita. Tidak boleh kita mencaci, mengejek, memfitnah, atau ghibah terhadap mereka.

Ini adalah hukum asal sikap terhadap sesama muslim. Hukum asal ini akan berubah sesuai dengan yang diatur dalam syariat Islam (hak Islam), misalnya : seorang muslim secara asal darahnya haram ditumpahkan, namun jika ia membunuh muslim lain secara sengaja, maka ia berhak untuk mendapat qishosh (dibunuh juga) kecuali dimaafkan oleh ahli waris pihak terbunuh. Demikian juga kasus-kasus lain, sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab Fiqh para Ulama’.


Disalin dari Draft Buku "40 HADITS PEGANGAN HIDUP MUSLIM (Syarh Arbain anNawawiyah)". Penulis Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman حفظه الله



〰〰〰〰〰〰〰

Salafy Kendari || http://bit.ly/salafy-kendari
Pada 08.01.2016 

Islam Melindungi Nyawa dan Harta 1

Tulisan ini saya sadur dari
https://pengusahamuslim.com/200-perlindungan-islam-terhadap-jiwa-dan-harta-harta-takaran-dan-barang-yang-cacat.html

Perlindungan Islam Terhadap Jiwa dan Harta
By suryadhie

Agama Islam mengakui dan melindungi hak milik perseorangan, asal diperolehnya dengan jalan yang halal. Sebab itu, diperintahkan kepada orang-orang beriman, supaya jangan memakan atau mengambil harta sesamanya dengan jalan yang tidak halal. Itu namanya memakan harta yang haram. Mengambil dan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak halal itu banyak macamnya, misalnya dengan jalan mencuri, merampas, menipu, kemenangan judi, uang suap, jual beli barang yang terlarang dan riba.

Salah satu jalan yang dihalalkan pengambilan dan pertukaran harta ialah perniagaan, jual beli yang dilakukan suka sama suka antara sipenjual dan si pembeli dengan cara jujur dan tidak ada penipuan di dalamnya. Termasuk mengambil dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil, memajukan perkara ke depan pengadilan, supaya menjadi sah menurut hukum secara lahir, sedang pada hakikatnya adalah harta orang lain. Allah azza wa jalla berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Q.S. An-Nisaa:29)

Agama Islam mengakui dan melindungi hak milik perseorangan, asal diperolehnya dengan jalan yang halal. Sebab itu, diperintahkan kepada orang-orang beriman, supaya jangan memakan atau mengambil harta sesamanya dengan jalan yang tidak halal. Itu namanya memakan harta yang haram. Mengambil dan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak halal itu banyak macamnya, misalnya dengan jalan mencuri, merampas, menipu, kemenangan judi, uang suap, jual beli barang yang terlarang dan riba.

Salah satu jalan yang dihalalkan pengambilan dan pertukaran harta ialah perniagaan, jual beli yang dilakukan suka sama suka antara sipenjual dan si pembeli dengan cara jujur dan tidak ada penipuan di dalamnya. Termasuk mengambil dan memakan harta orang lain dengan cara yang batil, memajukan perkara ke depan pengadilan, supaya menjadi sah menurut hukum secara lahir, sedang pada hakikatnya adalah harta orang lain. Allah SWT berfirman:
وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, Padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah:188)

Dapatlah dipahami bahwa putusan hakim (pengadilan) tidak dapat menjadikan yang haram itu menjadi halal menjadi haram pada sisi Tuhan, karena yang haram tetap haram dan yang halal tetap halal. Nabi saw. sesudah memberikan keputusan tentang suatu perkara harta benda, beliau pernah mengucapkan bahwa beliau memutuskannya menurut apa yang kelihatan menurut lahirnya, tetapi mungkin salah seorang di antara yang berperkara, yang satu lebih pintar lebih pandai berbicara dan lawannya, sehingga beliau memenangkan orang itu. Selanjutnya beliau memperingatkan, kalau putusan itu tidak tepat, berarti beliau memberikan kepada orang yang menang bara api. Kalau dia mau, silakan nengambi1nya sedikit atau banyak. Putusan Nabi sendiri tidak menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

Berkenaan dengan perniagaan sebagai suatu cara pemindahan dan peredaran harta yang dihalalkan, berdasarkan sukarela antara kedua belah pihak, si penjual dan si pembeli, masih ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan perniagaan ini. Ada perniagaan yang haram disebabkan oleh beberapa keadaan, misalnya menjual barang yang haram, barang terlarang memakan, meminum atau memakainya dan barang yang berasal dari curian dan rampasan. Seterusnya menjual barang yang tidak terang keadaannya, belum tentu baiknya atau tidak dapat dikirakan berapa jumlah yang sebenarnya. Terlarang pula mengurangi sukatan, ukuaran dan timbangan.

Berkenaan dengan mengurangi sukatan, ukuran dan timbangan ini disebuutkan dalam firman Firman Allah SWT:
وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al-Isra’:35)
وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ.الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ.وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ.
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) 
orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al-Mutaffifin:1-3)

Dalam melakukan perniagaan ini hendaklah ada kejujuran dan tidak ada penipuan. Dalam suatu hadis disebutkan, bahwa Rasulullah saw pada suatu waktu lewat di tempat orang menjual bahan makanan dan beliau tertarik melihatnya. Kemudian beliau memasukan tangannya dalam bahan makanan itu dan tangan Beliau kelihatan basah. Nabi bertanya kepada penjual bahan makanan, apa sebabnya begitu? Dijawab karena kena hujan. Nabi bersabda: “Mengapa tidak diletakkan sebelah atas supaya kelihatan. Kemudian beliau memberikan ancaman keras, dengan sabda beliau yang artinya:
Siapa yang menipu kita, dia bukan golongan kita”. (HR. Muslim).
Kaum saudagar apabila menjual barang yang ada cacatnya, hendaklah hal itu diterangkan dan siapa yang mengetahuinya wajib pula menerangkannya kepada si pembeli. Sabda Beliau yang artinya:
“Seseorang menjual barang yang ada cacatnya, wajib menjelaskan cacat itu dan bagi orang yang mengetahuinya, wajib pula menjelaskannya”.(Diriwayatkan oleh Hakim dan Baihaqi).

Di samping perlindungan terhadap hak milik, diperlukan pula perlindungan terhadap nyawa. Sebab itu terlarang mumbunuh orang, apalagi membunuh diri sendiri, karena Allah itu sangat sayang kepada hambaNya. Membunuh itu adalah suatu kejahatan dan dosa besar, bisa menggemparkan dan mengganggu keamanan masyarakat. Sebab itu, dalam ayat lain disebutkan, bahwa siapa yang melanggar hak milik dan membunuh orang kepadanya diancam akan beroleh siksaan neraka di hari akhirat dan hukum kisas di dunia.

Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا
“Dan Barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, Maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisaa:30)
Apabila perlindungan terhadap hak milik dan nyawa dapat berjalan dengan baik, tentu akan terciptalah keamanan dan ketenteraman dalam masyarakat. Sebaliknya dengan tidak ada perlindungan terhadap hak milik dan nyawa, akan terjadilah kekacauan dan silang sengketa yang tidak habis-habisnya

Islam Melindungi Nyawa dan Harta 3


Tulisan ini saya sadur dari
https://hasbuh.blogspot.com/2012/12/hadits-arbain-yang-ke-8-delapan.html


HADITS ARBA’IN YANG KE 8 (DELAPAN)

Oleh: Asy Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالَ:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، وَيُقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكاَةَ،

فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءُهُمْ وَأَمْوَالُـهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ تَعَالىَ

[رواه البخاري ومسلم ]

·         Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak untuk diibadahi kecuali Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka telah melakukan hal itu, akan terjagalah darah-darah dan harta-harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam,sedangkan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah.” [1] (HR. Bukhari dan Muslim).

A.     PENJELASAN AYAT

a)      [2] “Aku diperintahkan”, maksudnya adalah, bahwa Allahlah yang telah memerintah beliau, beliau tidak menyebutkan subyeknya, karena hal itu telah dimaklumi, karena yang memerintahkan dan yang melarang beliau hanyalah Allah.

“Memerangi manusia hingga mereka bersaksi”, ini berlaku umum, akan tetapi hadits ini telah dikhususkan oleh firman Allah subhanahu wata’ala,

قَاتِلُواْ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ 
مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُواْ الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ






[1] Shahih dikeluarkan oleh Al Bukhari di dalam (Al Iman/25/Fath), Muslim di dalam (Al Iman/22/Abdul Baqi).
[2] http://indahnyamutiarasunnah.blogspot.com/

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, tidak kepada hari akhir, tidak mengharamkan perkara yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-
Nya, dan tidak memeluk agama yang haq, yaitu orang-orang yang diberi Al

Kitab hingga mereka membayar jizyah dengan patuh sedangkan mereka dalam keadaan tunduk.” (At Taubah: 29).

Demikian pula hadits lainnya telah menyebutkan bahwa manusia diperangi hingga mereka masuk Islam atau membayar jizyah / upeti.

b)      [3] Dari Ibnu ‘Umar radhiya Allah ‘anhuma, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : aku diperintahkan memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad utusan Allah, dan menegakkan shalat, menunaikan zakat, Dan jika melaksanakan itu semua maka mereka terjaga hak hidup dan hartanya, kecuali karena ditegakkannya hukum Islam, dan perhitungan mereka adalah Allah yang melaksanakan (HR Bukhari Muslim)

o   aku diperintahkan memerangi manusia, maksud dari kata manusia disini adalah kaum musyrik yang menyembah berhala, yaitu kaum pagan. Kata manusia tidak berarti umum seluruh manusia, ia khusus manusia yang dimaksud adalah kaum musyrik, berarti ahli kitab tidak termasuk. Dan tidak termasuk juga mereka yang membayar jizyah.

o   sampai mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad utusan Allah, dan menegakkan shalat, menunaikan zakat, Dan jika melaksanakan itu semua maka mereka terjaga hak hidup dan hartanya,

Sikap ini harus tersebar di tengah masyarakat majemuk, bahwa Islam memerangi segala bentuk paganisme, bahwa syari’at Islam menuntut agar terlaksananya rukun islam dengan sebaik-baiknya, bahwa siapa yang memerangi apa-apa yang diwajibkan dalam islam adalah musuh masyarakat islam yang wajib di perangi dengan segala bentuk peperangan.

Dalam hal perang fisik, yaitu perang yang terkait dengan keselamatan nyawa dan harta, maka bersyahadat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat adalah hal-hal yang menyebabkan seseorang terjaga nyawa dan hartanya dari diperangi. Dan apabila tidak sanggup berislam, maka membayar jizyah adalah bukti kesertaan dalam penyelenggaraan negara dan jaminan keamanan.

o   kecuali karena ditegakkannya hukum Islam, Maksudnya setiap orang yang bersyahadat, shalat dan zakat pada dasarnya tidak boleh di perangi, nyawa dan hartanya memiliki hak penjagaan dari seluruh kaum



mukmin, kecuali jika orang tersebut melanggar syari’ah islam yang hukumannya kehilanagan nyawa atau harta, misal berzina atau
membunuh maka ia terkena hukum syari’at, hukuman bagi pezina yang telah menikah adalah dirajam hingga tak bernyawa, dan bagi yang membunuh ada hukum qishash dan atau membayar diyat.

o   dan perhitungan mereka adalah Allah yang melaksanakan, sedangkan Rasulullah berkewajiban menyampaikan.
Hadits ini diketahui secara luas oleh para sahabat, terbukti dengan banyaknya sahabat yang meriwayatkan, Ini juga menunjukkan kemungkinan bahwa Rasulullah Muhammad SAW menyampaikan ini berkali-kali, yang kadang dengan redaksi lengkap atau sebagiannya.
Dalam peristiwa perang Riddah paska wafat Rasulullah, kita dapat melihat bahwa Abu Bakar dan Umar sama-sama mendengar hadits ini sampai kalimat “aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah”
Saat Abu Bakar memutuskan untuk memerangi mereka yang tidak mau membayar zakat, Umar berang dan menentang, dengan argumen bukankah Rasulullah berkata “aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah”?

Abu Bakar menjawab : “sungguh aku akan memerangi siapa yang memisahkan kewajiban shalat dan kewajiban zakat, seandainya mereka menahan segenggam harta yang mereka dahulu tunaikan pada Rasulullah, maka aku akan memeranginya”

B.     TAKHRIJ HADITS [4]  

·         Imam Bukhari, dalam Shahihnya No. 25, dari Ibnu Umar
·         Imam Muslim, dalam Shahihnya No. 35, dari Jabir bin Abdullah, juga No. 36 dari Ibnu Umar
·         Imam Ahmad, dalam Musnadnya No. 8544, dari Abu Hurairah
·         Imam Abu Daud, dalam Sunannya No. 2641, dari Anas bin Malik, dengan lafaz: (…. sampai mereka bersaksi tidak ada Ilah kecuali Allah dan Muhamamd adalah hamba dan rasulNya, mereka berkiblat dengan kiblat kita, memakan sembelihan kita, salat dengan shalat kita, dan jika mereka melakukan itu maka haram atas kita terhadap darah dan harta mereka, kecuali karena haknya. Hak mereka sama dengan kaum muslimin, dan apa yang wajib bagi mereka juga wajib bagi kaum muslimin.) juga No. 2640, dari Abu Hurairah dengan lafaz: ( … sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah, jika mereka mengatakannya maka mereka tercegah dariku darah dan hartanya, kecuali dengan haknya, dan atas Allah-lah perhitungan mereka). Lalu No. 2642, dari Abu Hurairah dengan lafaz: (Aku diperintahkan untuk memerangi orang musyrik)

[4]  http://wanhar-3mudilah.blogspot.com/

·         Imam At Tirmidzi, dalam Sunannya No. 2608, dari Anas dengan lafaz sama dengan Abu Daud.

·         Imam Ibnu Majah, dalam Sunannya No. 71, dari Abu Hurairah, dengan lafaz lebih singkat: (Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi (bersyahadat), bahwa tidak ada Ilah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat). Juga No. 72, dari Muadz bin Jabal dengan lafaz yang sama.

·         Imam An Nasa’i, dalam Sunannya No. 3967, dari Anas bin Malik dengan lafaz sama dengan riwayat Abu Daud. Juga No. 3966, dari Anas juga dengan lafaz sama dengan Abu Daud tapi hanya sampai: kecuali karena haknya.

·         Imam Ibnu Khuzaimah, dalam Shahihnya No. 2248, dari Abu Hurairah dengan lafaz: “… kemudian diharamkan atasku darah dan harta mereka, dan atas Allah-lah perhitungan mereka.”
Syaikh Al Albani mengatakan: hadits ini shahih mutawatir. (Shahih Ibnu Majah No. 71)

C.    MAKNA HADITS SECARA GLOBAL [5]  

1.      Hadits ini menyebutkan salah satu metode menyebarkan Islam, yakni berperang. Metode ini bukan metode satu-satunya, dan bukan pula jalan pertama yang ditempuh dalam sejarah awal Islam. Metode utamanya adalah dakwah dengan hikmah dan bukan paksaan, perang ditempuh ketika dakwah Islam dihalang-halangi dan diganggu. Demikian itulah fakta sejarah yang terjadi.
Allah Ta’ala berfirman:
لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.(QS. Al Baqarah (2): 256)

Ayat lain:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ? (QS. Yunus (10): 99)



[5]  http://wanhar-3mudilah.blogspot.com/

Ayat lain:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.(QS. An Nahl (16): 125)


Ayat lain:
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُسَيْطِرٍ
Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, (QS. Al Ghasyiyah (88): 21-22)

Hadits ini sering dijadikan dalil oleh sebagian ulama bahwa perang di dalam Islam adalah bersifat ofensif (menyerang), bukandifensif (bertahan). Insya Allah tentang pembahasan perang akan di bahas pada waktunya nanti.

2.      Hadits ini mengajarkan dua tujuan utama dakwah Islam, yakni aqidah dan syariah.

Aqidah dengan mentauhidkan Allah Ta’ala dan mengakui kenabian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedangkan, syariah dengan menjalankan –minimal- aturan pokok dalam agama Islam seperti shalat dan zakat, dan syariat lainnya.

3.      Hadits ini menegaskan tentang keterjagaan kehormatan dan hak seorang yang sudah bersyahadat, shalat, dan zakat. Posisi mereka sama dengan kaum muslimin lainnya dalam hak dan kewajiban, termasuk dalam perlindungan terhadap darah dan harta mereka.

4.      Hadits ini juga memuat bukti kewibawaan Islam, disamping sebagai agama yang mencintai perdamaian.


Allah Ta’ala berfirman:

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Asy Syura (42):40)




D.     SEBAHAGIAN FAEDAH-FAEDAH HADITS

1. Wajib memerangi manusia hingga mereka mau masuk ke dalam agama Islam atau membayar upeti (jika mereka tidak mau masuk ke dalam Islam, . pent) berdasarkan hadits ini dan dalil-dalil lainnya yang telah kami sebutkan.

2. Orang yang tidak mau membayar zakat boleh untuk diperangi. Oleh karena itu, Abu Bakar telah memerangi orang-rang yang tidak mau membayar zakat.

3. Orang-orang yang secara zhahirnya (lahiriyahnya) beragama Islam, maka bathinnya (apa yang ada di dalam hatinya) diserahkan kepada Allah. Oleh karena itu, nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika mereka telah melakukan hal itu, akan terjaga darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan hak Islam, sedangkan perhitungan mereka diserahkan kepada Allah.” 
[2].

Penetapan adanya hisab (perhitungan amalan), yakni bahwa amalan manusia akan dihisab. Jika amalannya baik, maka balasannya akan baik pula, jika amalan itu buruk maka balasannya akan buruk pula. Allah subhanahu wata’ala berfirman,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ * وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ


“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar
dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Al Zalzalah: 7-8).


(Dinukil untuk Blog Ulama Sunnah dari Syarah Arbain An Nawawiyaholeh Asy Syaikh Muhammad bin Sh




DAFTAR PUSTAKA




1.    Al ar-ba’in an-nawawiyah
2.    Syarah Al ar-ba’in an-nawawiyah, oleh Muhammad ‘Utsaimin
3.    Shahih Muslim , cetakan Daar Ihyaa at turats al ‘arabiy.
4.    Shahih Muslim dengan syarah Nawawi
5.    Fathul Baary, Ibnu Hajar al ‘asqalaaniy
6.    Siyar ‘alaam Nubalaa


Trip Air Terjun Cuup PSUK Benteng

Pagi masih menyapa hangat dengan perpaduan sinar mentari di ufuk timur, menambahkan keceriaan hari ini. Benar saja kami dari tadi s...