Ramadan Bukan Garis Finish,
Melainkan Camp Pelatihan
Banyak
dari kita yang memandang Ramadan seperti sebuah perlombaan lari. Begitu Idul
Fitri tiba, kita merasa telah mencapai garis finish, lalu berhenti
berlari dan melepas sepatu lari kita. Padahal, para ulama sering mengibaratkan
Ramadan sebagai sebuah Madrasah
(sekolah) atau Ma’had (camp
pelatihan).
Tujuannya
bukan sekadar lulus ujian di bulan tersebut, melainkan agar kita memiliki
"keterampilan spiritual" yang mumpuni untuk menghadapi 11 bulan
berikutnya. Berikut adalah kurikulum istiqamah yang harus kita bawa
pasca-Ramadan:
1. Interaksi Utama: Nafas Al-Qur'an
yang Tak Boleh Berhenti
Ramadan
adalah bulan turunnya Al-Qur'an. Jika selama Ramadan kita mampu mengkhatamkan
atau membaca sekian juz setiap hari, jangan biarkan mushaf kita berdebu setelah
Lebaran.
- One Day One Juz / Page: Jagalah ritme membaca. Jika
satu juz terasa berat, jangan tinggalkan semuanya. Bacalah satu lembar
atau satu halaman setiap selesai salat fardhu.
- Tadabbur: Bukan hanya soal kecepatan khatam, tapi bagaimana
ayat-ayat itu masuk ke hati. Al-Qur'an adalah kompas hidup kita di luar
bulan Ramadan.
"Sesungguhnya orang-orang yang
selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan salat... mereka itu mengharapkan
perniagaan yang tidak akan merugi." (QS. Fatir: 29).
2. Menjaga Ritme Puasa: Dari Wajib
ke Istiqamah
Puasa
Ramadan melatih ketahanan fisik dan kontrol diri. Agar "mesin"
spiritual ini tidak berkarat, Islam menyediakan jadwal perawatan berkala yang
luar biasa:
- Puasa Daud: Puasa paling utama di sisi Allah, yakni sehari
berpuasa dan sehari berbuka. Dalam satu bulan, kita bisa meraih sekitar 15 hari puasa.
“Puasa yang paling disukai di sisi
Allah adalah puasa Daud...”
(HR. Bukhari & Muslim).
- Puasa Senin-Kamis: Rutinitas mingguan yang
totalnya mencapai 8 hari
sebulan. Ini adalah waktu di mana amal-amal kita diangkat kepada Allah.
- Ayyamul Bidh: Puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 hijriah (3 hari). Pahalanya diibaratkan seperti puasa sepanjang tahun jika rutin dilakukan.
3. Menghidupkan Malam: Dari Tarawih
ke Tahajud
Selama
Ramadan, kita terbiasa dengan salat malam berjamaah. Setelah Ramadan,
"panggung" itu tetap ada dalam format yang lebih intim: Tahajud.
Konsistensi
adalah kunci. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang
terus-menerus (rutin) meskipun sedikit." (HR. Bukhari).
Mulailah
dengan dua rakaat sebelum Subuh yang ringan, namun dilakukan setiap hari tanpa
putus. Itulah kemenangan yang sebenarnya.
4. Memperkokoh Fondasi: Rawatib dan
Dhuha
Jangan
biarkan kebiasaan salat tepat waktu menguap begitu saja. Lengkapi dengan:
- Sunnah Rawatib: Untuk menambal kekurangan salat fardhu kita.
- Salat Dhuha: Sebagai bentuk sedekah dan syukur atas setiap
persendian tubuh kita di pagi hari.
Menjadi Rabbani, Bukan Ramadhani
Ada
sebuah ungkapan bijak dari ulama salaf yang sangat menyentuh:
"Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang hanya mengenal Allah
di bulan Ramadan saja. Jadilah hamba yang Rabbani (beribadah kepada Tuhan
Ramadan di setiap waktu), dan jangan hanya menjadi hamba yang Ramadhani
(beribadah hanya di bulan Ramadan)."
Ramadan
hanyalah awal. Konsistensi (istiqamah) memang berat, namun itulah alasan
mengapa balasannya adalah Surga. Mari kita jaga cahaya Al-Qur'an dan ibadah
lainnya tetap menyala hingga kita bertemu kembali dengan Ramadan tahun depan.

No comments:
Post a Comment
Terima kasih atas kunjungannya semoga menginspirasi jangan lupa tulis komentarmu di kolom komentar dan dapatkan informasi terbaru di setiap postingan. Jangan lupa follow akun Instagram @efrideplin dan Twitter @efrideplin Tiktok @EfriDeplin juga YouTube Efri Deplin dan MrDeplinChannel. Terima kasih semoga menginspirasi.