Monday, 23 February 2026

Menjadi Rabbani Bukan Ramadhani

 

Ramadan Bukan Garis Finish, Melainkan Camp Pelatihan

Banyak dari kita yang memandang Ramadan seperti sebuah perlombaan lari. Begitu Idul Fitri tiba, kita merasa telah mencapai garis finish, lalu berhenti berlari dan melepas sepatu lari kita. Padahal, para ulama sering mengibaratkan Ramadan sebagai sebuah Madrasah (sekolah) atau Ma’had (camp pelatihan).


Tujuannya bukan sekadar lulus ujian di bulan tersebut, melainkan agar kita memiliki "keterampilan spiritual" yang mumpuni untuk menghadapi 11 bulan berikutnya. Berikut adalah kurikulum istiqamah yang harus kita bawa pasca-Ramadan:



1. Interaksi Utama: Nafas Al-Qur'an yang Tak Boleh Berhenti


Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur'an. Jika selama Ramadan kita mampu mengkhatamkan atau membaca sekian juz setiap hari, jangan biarkan mushaf kita berdebu setelah Lebaran.

  • One Day One Juz / Page: Jagalah ritme membaca. Jika satu juz terasa berat, jangan tinggalkan semuanya. Bacalah satu lembar atau satu halaman setiap selesai salat fardhu.
  • Tadabbur: Bukan hanya soal kecepatan khatam, tapi bagaimana ayat-ayat itu masuk ke hati. Al-Qur'an adalah kompas hidup kita di luar bulan Ramadan.

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan salat... mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi." (QS. Fatir: 29).


2. Menjaga Ritme Puasa: Dari Wajib ke Istiqamah


Puasa Ramadan melatih ketahanan fisik dan kontrol diri. Agar "mesin" spiritual ini tidak berkarat, Islam menyediakan jadwal perawatan berkala yang luar biasa:

  • Puasa Daud: Puasa paling utama di sisi Allah, yakni sehari berpuasa dan sehari berbuka. Dalam satu bulan, kita bisa meraih sekitar 15 hari puasa.

“Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud...” (HR. Bukhari & Muslim).

  • Puasa Senin-Kamis: Rutinitas mingguan yang totalnya mencapai 8 hari sebulan. Ini adalah waktu di mana amal-amal kita diangkat kepada Allah.
  • Ayyamul Bidh: Puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 hijriah (3 hari). Pahalanya diibaratkan seperti puasa sepanjang tahun jika rutin dilakukan.

3. Menghidupkan Malam: Dari Tarawih ke Tahajud


Selama Ramadan, kita terbiasa dengan salat malam berjamaah. Setelah Ramadan, "panggung" itu tetap ada dalam format yang lebih intim: Tahajud.

Konsistensi adalah kunci. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (rutin) meskipun sedikit." (HR. Bukhari).

Mulailah dengan dua rakaat sebelum Subuh yang ringan, namun dilakukan setiap hari tanpa putus. Itulah kemenangan yang sebenarnya.


4. Memperkokoh Fondasi: Rawatib dan Dhuha


Jangan biarkan kebiasaan salat tepat waktu menguap begitu saja. Lengkapi dengan:

  • Sunnah Rawatib: Untuk menambal kekurangan salat fardhu kita.
  • Salat Dhuha: Sebagai bentuk sedekah dan syukur atas setiap persendian tubuh kita di pagi hari.

 


Menjadi Rabbani, Bukan Ramadhani

Ada sebuah ungkapan bijak dari ulama salaf yang sangat menyentuh:

"Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadan saja. Jadilah hamba yang Rabbani (beribadah kepada Tuhan Ramadan di setiap waktu), dan jangan hanya menjadi hamba yang Ramadhani (beribadah hanya di bulan Ramadan)."

Ramadan hanyalah awal. Konsistensi (istiqamah) memang berat, namun itulah alasan mengapa balasannya adalah Surga. Mari kita jaga cahaya Al-Qur'an dan ibadah lainnya tetap menyala hingga kita bertemu kembali dengan Ramadan tahun depan.

 

No comments:

Post a Comment

Terima kasih atas kunjungannya semoga menginspirasi jangan lupa tulis komentarmu di kolom komentar dan dapatkan informasi terbaru di setiap postingan. Jangan lupa follow akun Instagram @efrideplin dan Twitter @efrideplin Tiktok @EfriDeplin juga YouTube Efri Deplin dan MrDeplinChannel. Terima kasih semoga menginspirasi.

| Designed by Colorlib